Sunday, November 14, 2021

Resume Pertemuan Ke-13 Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

 

Senin, 01 November 2021

Resume pertemuan ke-13

Nara sumber :  Susanto, S.Pd.

Moderator :  Rosminiyati

Tema : Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan


Proofreading… sebuah kata yang asing bagiku. Bahkan untuk membacanya aku jeda menjadi proof dan reading.  Apa sebetulnya pengertian dari Proofreading? Apa manfaatnya?

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kelas Belajar Menulis bersama PGRI dan Om Jay memasuki pertemuan ke-13

Malam ini Bu Rosminiyati sebagai moderator membersamai Narasumber kita Bapak Susanto, S.Pd. atau bisa disapa Pak D dalam menyampaikan materi “Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan”.

 

Ibarat kata Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta. Maka agar kita cinta kepada guru yang memberikan ilmu kepada kita, moderator mengajak untuk berkenalan dulu dengan membaca sejenak biodata Bapak Susanto, S.Pd.

   

 

Bapak Susanto, S.Pd. atau bisa disapa Pak D adalah  peserta Belajar Menulis melalui WA Bersama Omjay & PGRI Gelombang 15. Tetapi pada saat itu belum ada materi Proofreading.

 

Memasuki sesi inti Pak D membuka dengan Tujuan belajar pertemuan malam ini yaitu:

Setelah membaca, menyimak, dan/atau menyaksikan video tentang proofreading dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, peserta KulWap dapat:

1. Menjelaskan pengertian proofreading

2. Menjelaskan hal-hal yang menjadi objek proofreading

3. Melakukan proofreading menggunakan KBBI dan PUEBI Daring sebagai alatnya.

   

Meskipun Pak D dalam hal ini merasa bukanlah "proofreader ataupun editor profesional", namun, kenyataannya beberapa teman di grup menulis, memberi kesempatan untuk melakukan uji baca naskah-naskah mereka lalu meminta pak D menjadi editor bukunya.

 

Beberapa waktu lalu pula beliau baru selesai menguji baca dan mengedit tulisan teman blogger yang ingin membuat buku Solo agar lulus dan mendapat Sertifikat Pelatihan Menulis ini.

Terakhir Pak D diberi kesempatan menjadi editor buku Blogger Milenial, Ibu Maesaroh yang berjudul “Januari dalam Kenangan”

 

Beberapa buku karya teman yang Pak D ikut di dalamnya sebagai editor di antaranya:

1. Kunci Sukses Menjadi Moderator Online (Aam Nurhasanah), Desember 2020.

2. Patidusa Pujangga Wiyata, Antologi Puisi Nusantara Bergema (Aam Nurhasanah, dkk), Januari  

    2021.

3. Bait-bait Kerinduan, Antologi Puisi Ungkapan Rasa Rindu (Rofiana, S.Pd., dkk), Maret 2021,  

    Januari 2021.

4. Haru Biru Perjalananku, Catatan Perjalanan Tugas Kepala Sekolah Daerah Terpencil dan Satu

    Atap (“Ambu” Tini Sumartini), Maret 2021.

5. Merajut Goresan Tinta Berbuah Karya (Herni Sunarya Banah, S.Pd.), Maret 2021.

6. Purwakarya Literasi, antologi peserta Gel 18 (2021)

7. Membongkar Rahasia Menulis ala Guru Blogger (Bersama Bu Noralia Puspa Yunita dkk), Juli  

    2021.

 

Proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut.

Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata.

Perlu juga diketahui bahwa proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

 

Jadi, tugas seorang proofreader bukan hanya membetulkan ejaan atau tanda baca. Seorang proofreader juga harus bisa memastikan bahwa tulisan yang sedang ia uji-baca bisa diterima logika dan dipahami.

 

Seorang Proofreader harus dapat mengenali:

·         apakah sebuah kalimat efektif atau tidak

·         susunannya sudah tepat atau belum

·         substansi sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca atau tidak

   

Mengapa harus melakukan proofreading?

1. Proofreading oleh penulis

Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan. Oleh karena itu, kegiatan ini sesungguhnya adalah kegiatan akhir setelah tulisan diselesaikan. Lakukan proofreading HANYA DAN HANYA JIKA tulisan sudah selesai, naskah buku sudah selesai Para Guru Menulis, selalu menasihati: *"Tulis saja, jangan pedulikan teknis. Salah nggak papa mumpung ide masih mengalir. Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing."

   

Jika proofreading dilakukan oleh penulis, kapan melakukannya?

Jika naskah sudah selesai, lakukan proofreading setelah naskah diendapkan beberapa saat

Terjemahan "saat" bisa hitungan jam atau hari. Agar dapat objektif

2. Proofreading oleh "orang lain"

Jika proofreading dilakukan oleh penulis setelah naskah diendapkan, maka ketika melakukannya, ia bertindak sebagai "CALON PEMBACA"

Langkah Pertama

Merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian.

Langkah Kedua

Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.

Langkah Ketiga

Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.

Langkah keempat

1.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI & PUEBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan   

     gaya penerbit

2.  Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI

3.  Konsistensi nama dan ketentuannya

4.  Perhatikan judul bab dan penomorannya

 

Langkah-langkah di atas berlaku untuk semua naskah, termasuk naskah tulisan di BLOG.

Jika Anda seorang blogger (dulu belum, mungkin) setelah ikut pelatihan di kelas ini, Anda adalah bloger karena resume dipublikasikan di blog.

Hindari kesalahan yang tidak perlu misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata.Sedikit bahkan tidak adanya kesalahan penulisan (typo) akan membuat pembaca nyaman.

 

Kesalahan lain misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya.

Untuk ini, penulis mestilah menguasai EYD (sekarang PUEBI) dan kata-kata baku di KBBI

Cara mudah melakukan proofreading terutama pada ejaan

·       -- Setelah tulisan di blog selesai, buka jendela draft, dan buka juga jendela pratinjau.

-·    -- Baca tulisan pada jendela pratinjau

·        -- Jika ada kesalahan penulisa, blok kata yang salah lalu di copy

·         -- Setelah itu buka jendela draft, tekan tombol CTRL + F

·        -- Tempelkan salinan tadi di kolom pencarian CTRL + V

·        --  Akan muncul highlight tulisan, kita lakukan perbaikan, setelah itu klik tombol simpan atau CTRL + S

·         -- Buka jendela pratinjau, kemudian refresh atau tekan tombol F5

 

Agar tulisan kita nyaman dibaca dan informasi/pesan yang ingin kita sampaikan dapat dipahami dengan baik olehembaca, kita perlu melakukan proofreading baik oleh diri sendiri maupun orang lain dalam rangka melakukan perbaikan sebelum tulisan diterbitkan, dengan menggunakan KBBI dan PUEBI.

Demikianlah materi inti dari Narasumber kita yang luar biasa pada malam ini.

=========================================================================

Memasuki sesi tanya jawab, berikut adalah beberapa poin yang penting untuk disimak:

1. Waktu yang diperlukan untuk melakukan Proofreading dalam satu buku sangat relatif.

    Mengulangi membaca dan menandai kesalahan

    Membaca lagi disertai perbaikan tulisan, ini memakan waktu “beberapa hari”

    Diamkan setidaknya dua atau 3 hari

    Lalu periksa kembali, dan naskah dikembalikan kepada penulis, untuk diperiksa kembali.

 

2. Proofreading pada dasarnya aktivitas memeriksa kesalahan teks dengan cermat sebelum di          publikasikan baik media cetak maupun media komunikasi lainnya. Dalam melakukan pemeriksanaan kesalahan atau lebih halusnya mengedit sebuah naskah dibutuhkan suatu pemikiran yang pasti dan etika dalam aktivitas tersebut,

3. Strategi  agar tulisan yang kita publikasikan agar menarik adalah :

    - Tulisan sesuai dengan tema yang dibahas, mengandung unsur yang diperlukan, SIDAMBA  

       terjawab: Siapa, Di mana, Apa, Mengapa, Bagaimana, dan Kapan terpenuhi sesuai tema.

    - Struktur kalimat yang digunakan baik dan benar S-P-O-K nya. Apakah kalimat tunggal

      atau kalimat majemuk. Jika kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat, tulis dengan  

      struktur yang baik dan benar.

    - Upayakan tidak ada kesalahan ejaan/penulisan/pemenggalan kata

    - Pilihan kata bagus, kata baku yang digunakan sesuai KBBI

      Sedangkan agar tulisan kita bisa diterima logika maka substansi tulisannya harus rasional dan wajar.

      Proofreading berlaku juga untuk dokumen-dokumen penting.

4. Apakah perbedaan proofreading dan editing ? Apakah pekerjaan editor sama dengan proofreader?

  Editing lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga       harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan. Jadi, proofreading tidak sekadar menyoroti   kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal     atau belum. 

5. Apa saja tanggung jawab seorang Proofreader?

Tanggung jawab proofreader, memastikan bahwa tulisan si penulis efektif. Artinya, hasil uji baca sesuai dengan apa yang maksudkan oleh penulis. Mereka berdua Penulis dengan Proofreader tidak bekerja sendiri-sendiri.

Contoh:

“Ibu, kalimat pada paragraf ini maksudnya bagaimana? Apakah maksud tulisan Ibu seperti ini?”

Lalu penulis pun merespon.

“Maksudnya begini pak, bla … bla … bla ….”

Proofreader pun membalas, “O, begitu, jadi saya perbaiki menjadi seperti ini?”

Jika dilakukan oleh penulis sendiri, si penulis yang memposisikan sebagai pembaca bertanya pada diri sendiri: KALIMAT INI MAKSUDNYA APA, YA

Dalam kegiatan proofeading, kesalahan logika seperti apa yang biasanya terjadi adalah substansi materi dengan penjelasan sebelumnya.

Misalnya, pada Bab sebelumnya dijelaskan bahwa kata baku dalam cerpen digunakan dalam narasi. Untuk dialog tidak harus, karena dialog mencerminkan bahasa lisan yang dikutip menjadi tulisan.

Nah, pada contoh cerpen (yang penulis tersebut buat) ternyata narasinya menggunakan kata-kata yang tidak baku. Ini kan bertentangan dengan penjelasan sebelumnya. Proofreader melakukan konfirmasi kepada penulis, lalu dilakukan perbaikan. Jadi, proofreader dengan penulis tidak bekerja sendiri-sendiri, ya. Isi tulisan sepenuhnya hak cipta penulis dan tanggung jawab penulis. Proofreader/editor memolesnya saja agar kalimatnya menjadi “bagus”.

Contoh proofreading/editing:

Kalimat:

Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa guru bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru didalam ruang guru pada masing masing meja guru tersebut.

   

 Kalimat di atas terdiri dari 34 kata. Banyak kata dalam kalimat disarankan tidak lebih dari 20 kata.

 Kalimat tersebut perlu diedit kembali.

 Mari kita bandingkan kalimat di bawah ini dan rasakan perbedaannya!

Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa guru bercengkerama. Mereka bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru di dalam ruang guru.

     dengan

Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa guru bercengkerama. Mereka bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru.

 

Berikut adalah contoh sederhana proofreading:

Teks asli

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita non fiksi. Tetapi cerita non fiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya non fiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

Teks Perbaikan

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita nonfiksi. Tetapi, cerita nonfiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya nonfiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

  

Demikian resume pertemuan kali ini.

Sebelum menutup kelas, Nara sumber mengajak untuk merenungkan perumpamaan berikut :

 

Kuman di seberang lautan tampak,

Gajah di pelupuk mata tidak tampak.

 

Juga teringat ketika teman-teman nonton bola di tribun atau di televisi.

Penulis adalah pemain bola yang menggiring bola ke gawang lawan.

Kadang tidak tahu di depan ada pemain yang hendak menjegal.

Penonton di kejauhan tahu benar ke mana bola harus ditendang.

Demikian pula menulis, jadi perlu orang lain untuk ikut membaca tulisan kita.

Kita tidak mungkin menguasai segalanya, hanya orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kompetensi: penulis, proofreader, editor, sekaligus.

 

Luar biasa … materi yang padat dan menarik. Terimakasih Pak D.. terimakasih Bu Rosminiyati..

No comments:

Post a Comment

Resume ke-7 Mengatasi Writer’s Block

  Senin , 18 Oktober 2021 Resume pertemuan ke-7 Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. Moderator : Maesaroh Materi : Mengatasi W...