Senin, 01 November 2021
Resume pertemuan ke-13
Nara sumber : Susanto, S.Pd.
Moderator : Rosminiyati
Tema : Proofreading Sebelum Menerbitkan
Tulisan
Proofreading… sebuah kata yang asing
bagiku. Bahkan untuk membacanya aku jeda menjadi proof dan reading. Apa sebetulnya pengertian dari
Proofreading? Apa manfaatnya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kelas Belajar Menulis bersama PGRI dan Om
Jay memasuki pertemuan ke-13
Malam ini Bu Rosminiyati sebagai moderator
membersamai Narasumber kita Bapak Susanto, S.Pd. atau bisa disapa Pak D dalam menyampaikan
materi “Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan”.
Ibarat kata Tak kenal maka tak sayang. Tak
sayang maka tak cinta. Maka agar kita cinta kepada guru yang memberikan
ilmu kepada kita, moderator mengajak untuk berkenalan dulu dengan membaca
sejenak biodata Bapak Susanto, S.Pd.
Bapak Susanto, S.Pd. atau bisa disapa Pak
D adalah peserta Belajar Menulis melalui
WA Bersama Omjay & PGRI Gelombang 15. Tetapi pada saat itu belum ada materi
Proofreading.
Memasuki sesi inti Pak D membuka dengan Tujuan
belajar pertemuan malam ini yaitu:
Setelah membaca, menyimak, dan/atau
menyaksikan video tentang proofreading dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia,
peserta KulWap dapat:
1. Menjelaskan pengertian proofreading
2. Menjelaskan hal-hal yang menjadi objek
proofreading
3. Melakukan proofreading menggunakan KBBI
dan PUEBI Daring sebagai alatnya.
Meskipun Pak D dalam hal ini merasa bukanlah
"proofreader ataupun editor profesional", namun, kenyataannya beberapa
teman di grup menulis, memberi kesempatan untuk melakukan uji baca naskah-naskah
mereka lalu meminta pak D menjadi editor bukunya.
Beberapa waktu lalu pula beliau baru
selesai menguji baca dan mengedit tulisan teman blogger yang ingin membuat buku
Solo agar lulus dan mendapat Sertifikat Pelatihan Menulis ini.
Terakhir Pak D diberi kesempatan menjadi
editor buku Blogger Milenial, Ibu Maesaroh yang berjudul “Januari dalam
Kenangan”
Beberapa buku karya teman yang Pak D ikut
di dalamnya sebagai editor di antaranya:
1. Kunci Sukses Menjadi Moderator Online
(Aam Nurhasanah), Desember 2020.
2. Patidusa Pujangga Wiyata, Antologi
Puisi Nusantara Bergema (Aam Nurhasanah, dkk), Januari
2021.
3. Bait-bait Kerinduan, Antologi Puisi
Ungkapan Rasa Rindu (Rofiana, S.Pd., dkk), Maret 2021,
Januari
2021.
4. Haru Biru Perjalananku, Catatan
Perjalanan Tugas Kepala Sekolah Daerah Terpencil dan Satu
Atap
(“Ambu” Tini Sumartini), Maret 2021.
5. Merajut Goresan Tinta Berbuah Karya
(Herni Sunarya Banah, S.Pd.), Maret 2021.
6. Purwakarya Literasi, antologi peserta
Gel 18 (2021)
7. Membongkar Rahasia Menulis ala Guru
Blogger (Bersama Bu Noralia Puspa Yunita dkk), Juli
2021.
Proofreading atau kadang disebut dengan
uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa
apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut.
Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk
kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau
istilah, hingga pemenggalan kata.
Perlu juga diketahui bahwa proofreading
tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika
dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.
Jadi, tugas seorang proofreader bukan
hanya membetulkan ejaan atau tanda baca. Seorang proofreader juga harus bisa
memastikan bahwa tulisan yang sedang ia uji-baca bisa diterima logika dan
dipahami.
Seorang Proofreader harus dapat mengenali:
·
apakah sebuah kalimat efektif atau tidak
·
susunannya sudah tepat atau belum
·
substansi sebuah tulisan dapat dipahami
oleh pembaca atau tidak
Mengapa harus melakukan proofreading?
1.
Proofreading oleh penulis
Proofreading adalah aktivitas memeriksa
kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan. Oleh
karena itu, kegiatan ini sesungguhnya adalah kegiatan akhir setelah tulisan
diselesaikan. Lakukan proofreading HANYA DAN HANYA JIKA tulisan sudah selesai,
naskah buku sudah selesai Para Guru Menulis, selalu menasihati: *"Tulis
saja, jangan pedulikan teknis. Salah nggak papa mumpung ide masih mengalir.
Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing."
Jika proofreading dilakukan oleh penulis,
kapan melakukannya?
Jika naskah sudah selesai, lakukan
proofreading setelah naskah diendapkan beberapa saat
Terjemahan "saat" bisa hitungan
jam atau hari. Agar dapat objektif
2.
Proofreading oleh "orang lain"
Jika proofreading dilakukan oleh penulis
setelah naskah diendapkan, maka ketika melakukannya, ia bertindak sebagai
"CALON PEMBACA"
Langkah Pertama
Merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian.
Langkah Kedua
Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.
Langkah Ketiga
Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.
Langkah keempat
1.
Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI & PUEBI, tetapi ada beberapa
kata yang mencerminkan
gaya penerbit
2.
Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI
3.
Konsistensi nama dan ketentuannya
4.
Perhatikan judul bab dan penomorannya
Langkah-langkah di atas berlaku untuk
semua naskah, termasuk naskah tulisan di BLOG.
Jika Anda seorang blogger (dulu belum, mungkin) setelah ikut pelatihan di kelas ini, Anda adalah bloger karena resume dipublikasikan di blog.
Hindari kesalahan yang tidak perlu
misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata.Sedikit
bahkan tidak adanya kesalahan penulisan (typo) akan membuat pembaca nyaman.
Kesalahan lain misalnya, memberi spasi
(jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.
Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang
mengikutinya.
Untuk ini, penulis mestilah menguasai EYD (sekarang PUEBI) dan kata-kata baku di KBBI
Cara
mudah melakukan proofreading terutama pada ejaan
· -- Setelah tulisan di blog selesai, buka
jendela draft, dan buka juga jendela pratinjau.
-· -- Baca tulisan pada jendela pratinjau
· -- Jika ada kesalahan penulisa, blok kata
yang salah lalu di copy
· -- Setelah itu buka jendela draft, tekan
tombol CTRL + F
· -- Tempelkan salinan tadi di kolom pencarian
CTRL + V
· -- Akan muncul highlight tulisan, kita lakukan perbaikan, setelah itu klik tombol simpan atau CTRL + S
· -- Buka jendela pratinjau, kemudian refresh
atau tekan tombol F5
Agar tulisan kita nyaman dibaca dan
informasi/pesan yang ingin kita sampaikan dapat dipahami dengan baik olehembaca, kita perlu melakukan proofreading baik oleh diri sendiri maupun orang
lain dalam rangka melakukan perbaikan sebelum tulisan diterbitkan, dengan
menggunakan KBBI dan PUEBI.
Demikianlah materi inti dari Narasumber kita yang luar biasa pada malam ini.
=========================================================================
Memasuki sesi tanya jawab, berikut adalah beberapa poin yang penting untuk disimak:
1. Waktu yang diperlukan untuk melakukan
Proofreading dalam satu buku sangat relatif.
Mengulangi membaca dan menandai kesalahan
Membaca lagi disertai perbaikan tulisan,
ini memakan waktu “beberapa hari”
Diamkan setidaknya dua atau 3 hari
Lalu periksa kembali, dan naskah
dikembalikan kepada penulis, untuk diperiksa kembali.
2. Proofreading pada dasarnya aktivitas
memeriksa kesalahan teks dengan cermat sebelum di publikasikan baik media cetak
maupun media komunikasi lainnya. Dalam melakukan pemeriksanaan kesalahan atau
lebih halusnya mengedit sebuah naskah dibutuhkan suatu pemikiran yang pasti dan
etika dalam aktivitas tersebut,
3. Strategi agar tulisan yang kita publikasikan agar menarik adalah :
- Tulisan sesuai dengan tema yang dibahas,
mengandung unsur yang diperlukan, SIDAMBA
terjawab:
Siapa, Di mana, Apa, Mengapa, Bagaimana, dan Kapan terpenuhi sesuai tema.
- Struktur kalimat yang digunakan baik dan
benar S-P-O-K nya. Apakah kalimat tunggal
atau
kalimat majemuk. Jika kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat, tulis
dengan
struktur yang baik dan benar.
- Upayakan tidak ada kesalahan
ejaan/penulisan/pemenggalan kata
- Pilihan kata bagus, kata baku yang digunakan sesuai KBBI
Sedangkan agar tulisan kita bisa diterima logika maka substansi tulisannya harus rasional dan wajar.
Proofreading berlaku juga untuk dokumen-dokumen penting.
4. Apakah perbedaan proofreading dan editing
? Apakah pekerjaan editor sama dengan proofreader?
Editing lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan. Jadi, proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.
5. Apa saja tanggung jawab seorang Proofreader?
Tanggung jawab proofreader, memastikan
bahwa tulisan si penulis efektif. Artinya, hasil uji baca sesuai dengan apa
yang maksudkan oleh penulis. Mereka berdua Penulis dengan Proofreader tidak bekerja
sendiri-sendiri.
Contoh:
“Ibu, kalimat pada paragraf ini maksudnya
bagaimana? Apakah maksud tulisan Ibu seperti ini?”
Lalu penulis pun merespon.
“Maksudnya begini pak, bla … bla … bla ….”
Proofreader pun membalas, “O, begitu, jadi saya perbaiki menjadi seperti ini?”
Jika dilakukan oleh penulis sendiri, si penulis yang memposisikan sebagai pembaca bertanya pada diri sendiri: KALIMAT INI MAKSUDNYA APA, YA
Dalam kegiatan proofeading, kesalahan logika seperti apa yang biasanya terjadi adalah substansi materi dengan penjelasan sebelumnya.
Misalnya, pada Bab sebelumnya dijelaskan bahwa kata baku dalam cerpen digunakan dalam narasi. Untuk dialog tidak harus, karena dialog mencerminkan bahasa lisan yang dikutip menjadi tulisan.
Nah, pada contoh cerpen (yang penulis tersebut buat) ternyata narasinya menggunakan kata-kata yang tidak baku. Ini kan bertentangan dengan penjelasan sebelumnya. Proofreader melakukan konfirmasi kepada penulis, lalu dilakukan perbaikan. Jadi, proofreader dengan penulis tidak bekerja sendiri-sendiri, ya. Isi tulisan sepenuhnya hak cipta penulis dan tanggung jawab penulis. Proofreader/editor memolesnya saja agar kalimatnya menjadi “bagus”.
Contoh proofreading/editing:
Kalimat:
Pada saat jam istirahat mengajar ada
beberapa guru bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin
yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru didalam ruang guru pada
masing masing meja guru tersebut.
Kalimat
di atas terdiri dari 34 kata. Banyak kata dalam kalimat disarankan tidak lebih
dari 20 kata.
Kalimat tersebut perlu diedit kembali.
Mari kita bandingkan kalimat di bawah ini dan rasakan perbedaannya!
Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa
guru bercengkerama. Mereka bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh
petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru di dalam
ruang guru.
dengan
Pada saat jam istirahat mengajar ada
beberapa guru bercengkerama. Mereka bercengkerama sambil minum teh yang
disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi
guru.
Berikut adalah contoh sederhana
proofreading:
Teks
asli
Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita non fiksi. Tetapi cerita non fiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya non fiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.
Teks
Perbaikan
Membuat cerita fiksi memang sedikit
berbeda dengan cerita nonfiksi. Tetapi, cerita nonfiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih
menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya nonfiksi yang telah ditentukan, seperti
makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.
Demikian resume pertemuan kali ini.
Sebelum menutup kelas, Nara sumber
mengajak untuk merenungkan perumpamaan berikut :
Kuman di seberang lautan tampak,
Gajah di pelupuk mata tidak tampak.
Juga teringat ketika teman-teman nonton
bola di tribun atau di televisi.
Penulis adalah pemain bola yang menggiring
bola ke gawang lawan.
Kadang tidak tahu di depan ada pemain yang
hendak menjegal.
Penonton di kejauhan tahu benar ke mana
bola harus ditendang.
Demikian pula menulis, jadi perlu orang
lain untuk ikut membaca tulisan kita.
Kita tidak mungkin menguasai segalanya,
hanya orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kompetensi: penulis,
proofreader, editor, sekaligus.
Luar biasa … materi yang padat dan
menarik. Terimakasih Pak D.. terimakasih Bu Rosminiyati..
No comments:
Post a Comment