Friday, November 19, 2021

Resume Pertemuan Ke-20 Menulis Autobiografi

Rabu, 17 November 2021

Resume pertemuan ke-20

Nara sumber :  Suparno, S.Pd., M.Pd.

Moderator :  Raliyanti

Tema : Menulis Autobiografi

                                     


Halo hai sobat pembaca..

Malam ini adalah pertemuan yang ke-20 kelas belajar menulis PGRI. Ibu Raliyanti sebagai moderator menyemangati bagi para peserta untuk segera menerbitkan sebuah buku solo berISBN dengan modal 20 resume yang telah dikumpulkan.

Seperti biasa, kuliah malam ini dibagi menjadi 4 sesi:

1. Pembukaan

2. Penjabaran materi

3. Sesi Tanya Jawab

4. Penutup

Ibu Raliyanti kali ini akan membersamai seorang narasumber yang luar biasa. Seorang Kepala Sekolah dari SMPN  2 Karangrejo Magetan, yang gemar membaca, juga seorang penulis dan motivator Literasi. Kesukaan Beliau akan menulis dan membaca ini  sangat menginspirasi, hingga pernah menjabat sebagai Pemimpin  Redaksi majalah  Pena Mageti. Beliau adalah Bapak Suparno, S.Pd.,M.Pd yang akan akan mengajak kita mala mini untuk belajar Menulis Autobiografi.

 

Memiliki  kesukaan  membaca sejak SD, buku pertama dibaca beliau adalah  Thomas Alva Edison  penemu bola lampu pijar. Dan sejak  1986 beliau telah mulai kesukaannya menulis. Beberapa judul buku yang telah ditulisnya diantaranya adalah Panduan Pranatacara  dan Pamedharsabda, Catatan  harian seorang Kepala Sekolah, Lulus Corona dan Langkah Jitu  menulis buku 

 

Nara sumber yang memiliki Moto "Menulislah  setiap  hari mutu  dan rezeki  akan mengikuti" sangat aktif dalam berbagai peran penting.

Aktivitas beliau terkini adalah sebagai Guru Pengajar Praktik Program Pendidikan Guru  Penggerak  Kemendikbud Ristek dan Pelatih Pramuka Kwarcab Magetan.

 

Jika sahabat pembaca ingin mengenal lebih banyak jejak literasi beliau dapat mengunjungi link http://suparnomuhammad.blogspot.com/2021/06/cv-suparno.html?m=1

 

Baiklah.. kita langsung saja masuk ke acara inti yaitu materi tentang membuat buku autobiografi yang akan dipaparkan oleh Bapak Suparno, S.Pd.,M.Pd

 

Autobiografi atau otobiografi adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh dirinya sendiri. Dalam bahasa Inggris, istilah autobiography pertama kali digunakan oleh penyair Robert Southey pada 1809. Namun, bentuk otobiografi sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman kuno. Jika riwayat hidup itu ditulis oleh orang lain maka namanya biografi.

 

Cerita   orang orang hebat itu  selalu menginspirasi. KH Usairon  mengatakan  cerita orang orang  sholih  itu  meningkatkan  iman,  oleh  karena  itu  sayang  rasanya  jika kesuksesan  yang kita raih  apabila  tidak  ditulis  dalam  biografi. Agar  bisa menginspirasi  orang lain. Menginspirasi  keluarga  dan keturunan  kita.

 

Kita tidak pernah tahu berapa  umur seseorang,  kita juga tidak tahu  kapan ajal  datang, maka menulislah  buku  biografi  agar  anak  cucumu  tahu  sejarah perjalanan  kehidupanmu

Dari sejarah  perjalanan  kehidupan kita,  anak  cucu kita bisa belajar  betapa  untuk  mencapai  kesuksesan  itu  butuh  perjuangan  yang luar biasa. Suatu  saat  pasti  ada diantara  anak  cucu kita  yang cinta pada ilmu  pengetahuan dan ingin tahu  sejarah  perjalanan  kehidupan  nenek moyangnya. Di saat itu  buku   biografi  sangatlah   berharga.

 

Manfaat yang lain dengan menulis buku biografi yang bertemakan pendidikan dapat menambah  angka kredit bagi seorang ASN. Hal ini dirasakan oleh Bapak Suparno, S.Pd., M.Pd yang mencapai Pangkat Pembina Utama Muda (golongan 4C). Dan bagi seorang ASN yang sedang mengikuti penilaian calon Kepala Sekolah maka biografi cukup menjadi jawaban tentang siapa dirinya.

 

Nah, bagaimanakah cara menyusun sebuah buku biografi?

1. Membaca buku biografi

Langkah awal sebelum menulis buku biografi bisa kita mulai dengan membaca buku biografi orang-orang ternama.  Jangan  hanya satu buku  tetapi minimal  3 buku sehingga kita bisa memiliki  pembanding yang baik

Salah satu buku yang menginspirasi narasumber adalah biografi tentang Bapak Chairul Tanjung yang pernah bersekolah di SMP SMA Labschool tempat dimana Om Jay sekarang mengajar. Selain itu narasumber juga membaca biografi Jenderal Sudirman seorang Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR), kini Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama kelahiran Purbalingga, 24 Januari 1916. Dengan membaca buku biografi seseorang membuat kita tidak  berkecil  hati  untuk  menuliskan  perjalanan  hidup  kita. Dan jangan  hanya  orang-orang  ternama,  tetapi  juga  membaca  buku  biografi orang-orang  yang selevel  dengan kita.

 

2. Membuat outline atau kerangka  tulisan.

Kumpulkan masalah  masalah  yang pernah dihadapi,  kenangan pahit, kenangan indah  dan sebagainya.

Misalnya  dimulai  dari masa kelahiran, masa sekolah TK, SD,SMP,SMA, kuliah,  bekerja, menikah,  punya anak,  pergi  jauh, ke  luar kota, luar negeri dan lain-lain.

 

3. Menyiapkan  data data pendukung, 

Data pendukung dapat berupa foto,  buku diary  dan sebagainya.

4. Membuat  jadwal  menulis 

Taatilah  jadwal  yang telah kita buat

 

5. Mulai  menulis per outline atau  per judul. 

Tulislah mengalir  saja  jangan  diedit  dulu ,walaupun  ada kesalahan  biarkan saja,  terus menulis  sampai selesai.  Tulislah  dengan pikiran dan perasaan,  dengan akal budi  dari hasil merenung yang dalam maka dengan sedirinya akan terbimbing  oleh ilham  yang mengarahkan.

 

Setelah  semua  judul  sudah terbahas  kemudian  sisipkan  judul  yang terjeda tadi  sesuai  dengan urutan  sejarah  perjalanan  kehidupan kita.

Terkadang saat menulis   muncul  ilham atau ingatan  sesuatu  yang pantas ditulis.  Maka tuliskan  saja   judulnya,  dibuku  yang berbeda.  Kemudian  segera  kembali  fokus  ke  outline.

 

Kita dapat menuliskan frase , atau kata-kata mutiara yang menginspirasi  di atas  dalam suatu judul  ada, sebelum  uraian  tulisan. Dengan demikian tampilan  buku  tampak  menarik  dan menginspirasi,    

 

6. Editing

Lakukan editing  mulai  awal  hingga  akhir.

 

Itulah langkah-langkah yang dapat kita ikuti untuk membuat sebuah otobiografi.

Timbul pertanyaan, apakah ending otobiografi harus selalu happy?

Jawabnya, sebuah otobiografi tidak harus ber ending happy,  sepanjang  tulisan  kita jika  dibaca orang  lain  itu menarik,  ada pelajaran  yang bisa dipetik,  dan itu penting  menurut  kita, maka jangan ragu ragu  tulis saja.

Ketebalan sebuah buku biografi umumnya minimal  itu  45 halaman,  tapi  kalau dipajang  diperpustakaan  sepertinya kurang menarik jadi sebaiknya  sekitar 110 halaman  keatas,  atau sekitar  200 halaman.

Lalu apakah ada yg mau membaca buku otobiografi dari orang yang bukan siapa-siapa dari orang yang hanya dikenal oleh keluarganya saja?

Narasumber mengatakan bahwa bukunya pernah  ada yang pesan  dari Jakarta,  Kalimantan Barat,  Aceh,  Sulawesi Selatan,  NTB, Surabaya,  Jateng , dan lain-lain.  Selain itu  diperpustakaan  sekolah  hampir  separuh  sekolah yang ada  di Magetan. Kebanyakan  yang beli adalah mantan  murid murid beliau. Meski beliaupun  berpikir,  jika  yang membaca  hahya  anak  keturunannya pun tidak mengapa.

  

Sekian resume kuliah malam ini yang ditutup dengan  kalimat ajakan dari narasumber

“Mari  menulis buku  biografi  agar orang  lain  dapat  belajar  dari pengalaman  dan perjalanan  hidup  anda!” .

Beberapa buku karya Bapak Suparno, S.Pd.,M.Pd.

 


 







Wednesday, November 17, 2021

Resume Pertemuan Ke-15 Konsep Buku Non Fiksi

 

Jum’at, 05 November 2021

Resume pertemuan ke-15

Nara sumber :  Musiin, M.Pd.

Moderator :  Ms. Phia

Tema :  Konsep Buku Non Fiksi


 Assalamuaikum Wr. Wb. Selamat Malam, Good Evening, Gütten Nacht

Ladies & Gents of future famous writers from all over Indonesia!

Tonight, saya Ms.Phia akan membersamai Bapak /Ibu sebagai Moderator dan Pembelajar.

Ayo siapkan fokus  dengan segelas Teh/Kopi Hangat. Agar jemari selalu kuat merangkai Kata.  

The topic Tonight is KONSEP BUKU NON FIKSI kita bedah tips untuk menulis karya non fiksi malam ini bersama seorang narasumber yang hebat ….

 

Begitulah Ms Phia membuka pertemuan kali ini.. daan.. seperti biasa … selalu semangat…

 

Ms. Phia memperkenalkan narasumber sebagai seorang ibu yang sangat suka membaca, travelling dan memasak. Seorang English Teacher yang juga adalah Founder Organisasi Masyarakat . Beliau adalah Ibu Musiin. M. Pd., seorang ibu yang penuh ide, suka berinovasi dan semangat berbagi.

Alumni  kelas menulis Om Jay gelombang 8 ini bersama sembilan peserta lainnya mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis dari Prof. Eko dan berhasil menaklukan tantangan menulis tersebut. Kini buku-buku hasil kolaborasi  tersebut telah berhasil dipajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Buku karyaIbu Musiin berjudul Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi.

 

Sahabat pembaca, sebelumnya narasumber menceritakan bahwa ia menulis hanya untuk tugas-tugas kuliah maupun untuk tugas dinas saja. Tidak pernah terpikirkan bahwa beliau bisa menulis. Karenanya, seringkali setiap akan menulis selalu terlintas ketakutan, tapi pada akhirnya, beliau berhasil mengalahkan ketakutan dirinya sendiri. Menurut Narasumber, ketakutan itu ternyata  merendahkan potensi untuk menulis.

 

Ketakutan  yang  dirasakan ketika akan menulis buku diantaranya: takut tidak ada yang membaca;

takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan; merasa karya orang lain lebih bagus.

 

Ketakutan itu juga yang sering kali membuat beliau merasa konyol dengan hanya duduk berjam-jam di depan laptop, namun tidak menulis apapun. Hingga akhirnya beliau singgah di Kelas menulis Om Jay dan bertemu dengan banyak penulis pemula dan pemateri hebat, salah satunya adalah Prof Eko. Di awal masuk kelas Om Jay, beliau  bahkan belum mempunyai blog. Beliau yang minder untuk menulis, akhirnya menjadi berani untuk menulis.

 

Kegiatan menulis ternyata sangat menyenangkan. Karena itu jangan sampai kita menjadikan kegiatan menulis, sebagai contoh menulis resume kelas Om Jay menjadi sebuah mimpi buruk. Namun jadikanlah kegiatan ini sebagai langkah untuk menuju sebuah puncak kesuksesan untuk menjadi penulis yang hebat.

   

Narasumber mengibaratkan Prof. Eko sebagai seorang Master  Chef  yang memberi banyak pilihan bahan masakan yang bisa diolah menjadi berbagai jenis hidangan. Pilihannya ada pada diri masing-masing peserta. Bahan masakan yang disediakan Prof Eko, bisa kita peroleh di Prof EKOJI Channel. 

Seperti yang disampaikan Prof Eko, kita bisa menulis sesuai dengan hobi, kegemaran, kesukaan, cerita,  atau sesuatu yang dikuasai dan dicintai. Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan. Kita semua sebenarnya memiliki buku, namun buku tersebut masih belum lahir.

 

Telah kita lalui ratusan purnama, ribuan kejadian entah itu pahit atau manis  mengukir perjalanan  hidup kita. Semua tergantung pada individu masing-masing apakah mau dikeluarkan dalam bentuk buku atau tidak. Atau hanya dikeluarkan dalam bentuk pengajaran di kelas-kelas saja atau sekedar bentuk obrolan atau cerita kepada anak cucu saja, yang tidak meninggalkan jejak keabadian. Bahkan seringkali hanya jadi status whatsapp atau jadi instastory yang berlalu begitu saja.

 

Kita semua memahami bahwa menulis bukanlah keterampilan yang mudah. Berbagai penelitian bahasa menunjukkan di antara empat keterampilan berbahasa, menulis adalah keterampilan yang dianggap paling sulit. Menulis tidak semudah berbicara, semudah bergosip . Justru tantangannya ada karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir CINTA MENULIS.

 

Sebelum menulis buku, kita harus menemukan alasan kuat mengapa ingin menjadi penulis.

Alasan yang membuat Narasumber ingin menjadi penulis diantaranya:

1.         Mewariskan ilmu lewat buku.

2.         Ingin punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline.

3.         Mengembangkan profesi sebagai seorang guru.

 

Kita tentu masih ingat kutipan terkenal dari Imam  Ghazali yang berbunyi

Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!

 

Atau Pramoedya Ananta Toer

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

 

Semua itu menjadi penguat seseorang untuk menjadi penulis.

 

Sahabat pembaca, malam ini Nara sumber akan membahas tentang penulisan buku nonfiksi.

Dalam penulisan buku nonfiksi ada 3 pola yakni:

1.         Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)

Contoh: Buku Pelajaran

2.         Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.

Contoh: Buku Panduan

3.         Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara)

 

Pola yang dipakai dalam menulis buku Literasi Digital Nusantara adalah pola ketiga yakni Pola Klaster.

Proses penulisan buku terdiri dari 5  langkah, yakni

1.         Pratulis

2.         Menulis Draf

3.         Merevisi Draf

4.         Menyunting Naskah

5.         Menerbitkan

 

Langkah Pertama

Pratulis

1.         Menentukan tema

2.         Menemukan ide

3.         Merencanakan jenis tulisan

4.         Mengumpulkan bahan tulisan

5.         Bertukar pikiran

6.         Menyusun daftar

7.         Meriset

8.         Membuat Mind Mapping

9.         Menyusun kerangka

 

Tema bisa ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi diantaranya parenting, pendidikan, motivasi dan lain-lain. Kita bisa memilih tema yang dikuasai dan menjadi passion kita.

 

Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya

1.         Pengalaman pribadi

2.         Pengalaman orang lain

3.         Berita di media massa

4.         Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram

5.         Imajinasi

6.         Mengamati lingkungan

7.         Perenungan

8.         Membaca buku

 

Berikut adalah tahap-tahap yang dilalui Ibu Musiin dalam menyusun buku non fiksi dengan berkolaborasi bersama Prof. Ekoji.

Tahap 1.

Menentukan tema.

Semua hal di sekitar bisa menjadi inspirasi kita untuk menulis sebuah buku. Tema yang Ibu Musiin  angkat di bukunya adalah pendidikan. Ide berasal dari berita di media massa,  mengamati lingkungan serta diperkuat dari materi di Prof EKOJI Channel dengan judul Digital Mindset (The Key to Transform Your Organization) yang tayang pada tanggal 20 Maret 2020. Referensi berasal dari data dan fakta yang diperoleh dari literasi di internet. Pada saat beliau  menulis di awal pandemi Covid-19, jadi semua referensi berasal dari internet. Referensi berasal dari data dan fakta yang diperoleh dari literasi di internet.

 

Perlu diketahui bahwa referensi terdiri dari :

1 .Pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;

2. Keterampilan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;

3. Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini ;

4. Penemuan yang telah didapatkan.

5. Pemikiran yang telah direnungkan

 

Tahap 2

Membuat kerangka.

Kerangka  ini diajukan terlebih dahulu oleh Ibu Musiin ke Prof. Eko. Sesudah disetujui lalu dilanjutkan ke proses penulisan. Di bawah ini adalah kerangka penulisannya :

BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

A.        Pembagian Generasi Pengguna Internet

B.        Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

A.        Media Sosial

B.        UU ITE

C.        Kejahatan di Media Sosial

BAB 3 Literasi Digital

A.        Pengertian

B.        Elemen

C.        Pengembangan

D.        Kerangka Literasi Digital

E.         Level Kompetensi Literasi Digital

F.         Manfaat

G.        Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Geerasi

H.        Kewargaan Digital

BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara

A.        Keluarga

B.        Sekolah                             

C.        Masyarakat                                                        

BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

A.        Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia

B.        Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia

C.        Membangun Digital Mindset Warganet +62

 

Untuk lebih paham dalam menulis isi buku berdasarkan kerangka yang dibuat, kita bisa mengikuti nasihat Pak Yulius Roma Patandean di Channel beliau (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be).

Dengan mengikuti langkah beliau, tulisan kita menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka tertata secara otomatis.

 

Berikut ini penjabaran anatomi buku non fiksi.

Langkah kesatu

Anotomi Buku

1.         Halaman Judul

2.         Halaman Persembahan (OPSIONAL)

3.         Halaman Daftar Isi

4.         Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)

5.         Halaman Prakata

6.         Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)

7.         Bagian /Bab

8.         Halaman Lampiran (OPSIONAL)

9.         Halaman Glosarium

10.       Halaman Daftar Pustaka

11.       Halaman Indeks

12.       Halaman Tentang Penulis

 

Langkah kedua

Menulis Draf

1.         Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas

2.         Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan

 

Langkah ketiga

Merevisi Draf

1.         Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian

2.         Memeriksa gambaran besar dari naskah

 

Langkah keempat

Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)

1.         Ejaan

2.         Tata bahasa

3.         Diksi

4.         Data dan fakta

5.         Legalitas dan norma

 

Sahabat pembaca, tak dapat kita pungkiri dalam menulis dijumpai hambatan-hambatan diantaranya :

1.         Hambatan waktu

2.         Hambatan kreativitas

3.         Hambatan teknis

4.         Hambatan tujuan

5.         Hambatan psikologis

 

Tetapi kita dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut dengan cara :

1.         Banyak membaca

2.         Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber.

3.         Disiplin menulis setiap hari.

4.         Pergi ke pasar dan memasak. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi (kebetulan saya  

            hobi memasak)

 

Demikian kupasan materi inti pertemuan kali ini.

Seperti harapan Nara sumber, semoga kita bisa menaklukkan tantangan untuk menulis buku non-fiksi.

Kita akhiri pembelajaran kali ini dengan 2 quotes yang manis.

 

Cahaya untuk berkarya itu berasal dari diri  sendiri (Musiin, 2021)

 

You are not a good writer until you publish your book (Ms Phia, 2021)

Monday, November 15, 2021

Resume Pertemuan ke-19 Menulis Dikala Sakit

 

Senin, 15 November 2021

Resume pertemuan ke-19

Nara sumber :   Suharto, S.Ag., M.Pd.

Moderator :  Hasima Abdi Putri

Tema :  Menulis Dikala Sakit




Aku menyusun resume kali ini dengan sudut mata yang tergenang..

Terharu dan takjub

Tak habis pikir..

Dan ada rasa malu di ujung hati

Pembelajaran

Pendewasaan

Kehangatan persahabatan

 

Pertemuan ke 19 ini seperti mendengar kisah perjalanan seorang sahabat yang penuh liku.

Semua struktur bahasa sebuah cerpen ada di sana mulai dari orientasi, komplikasi hingga resolusi.

 

Aku tak akan mensarikan, 

Aku hanya akan berbagi.. 

Dengarlah kisahnya..

================= 

Moderator : Saya persilakan Cing Ato untuk memasuki kelas  

Cing Ato   : Assalamualaikum, bapak dan ibu hebat.

Semoga bapak dan ibu sehat dan sukses semua. Aamiin  

Sebelum berbicara banyak, saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada Om Jay yang telah memberikan kesempatan ketiga untuk bergabung bersama rekan-rekan guru dan profesi lainnya dalam pelatihan menulis gelombang 21 dan 22 ini. Semoga sehat dan sukses selalu.

Begitu juga saya ucapkan terima kasih kepada moderator kita malam ini, bunda Hasima Abdi Putri, Semoga sehat dan sukses selalu. Aamiin.

 

Bapak dan ibu peserta pelatihan menulis, sebelumnya saya mohon izin untuk berbagi pengalaman menulis.

Secara teori saya masih banyak kurangnya daripada lebihnya.

Keberadaan saya pada pelatihan ini, hanya sekedar memberikan support kepada bapak dan ibu untuk menulis.

  

 Awal Menulis…

Sudah lama saya ingin menulis.

Saya sudah berusaha membeli buku tentang tulis-menulis.

Saya juga pernah ikut acara jurnalis.

Tapi tetap saja tidak bisa menulis.

Pernah saya di undang untuk menulis, tapi katanya hasilnya masih kaku dan kering.

Terus terang saya tidak bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat. Apalagi kalimat yang indah bertabur diksi yang penuh hikmat.

Tapi saya tidak putus asa,

Ketika lagi bumingnya literasi di sekolah atau madrasah saya memcoba untuk bisa.

Saya perhatikan peserta didik hanya dipinta membaca buku pada setiap hari Selasa.

Kebetulan saya suka bawa buku, hingga membaca sudah terbiasa.

Di samping membaca beberapa peserta didik dilibatkan dalam tulis-menulis.

Sehingga jadilah buku antologi sebagai wujud literasi menulis.

Dari sinilah saya tertarik untuk menulis.

Saya mencoba mencari wadah pelatihan menulis.

Saya buka Facebook, saya dapati ada pelatihan menulis KSGN di wisma UNJ. Di sinilah saya kenal dengan pak Namin, Om Jay, Om Dedi, dan lainnya hingga saya sering ikut kegiatan beliau dalam menulis.

 

Dari sini saya sedikit banyak mengetahui cara menulis, terutama apa yang disampaikan oleh Om Jay." Tulis apa yang ada disekitar kita, tulis yang sederhana dahulu, tulis yang kamu bisa dan kuasai, serta mulailah menulis apa yang kamu alami dan rasakan" itulah sepenggal kalimat yang saya pahami sampai sekarang.

 

Ada kalimat inspiratif yang menjadi kartu nama beliau"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi" yang memotivasi saya untuk selalu menulis. kemudian saya buat turunannya"Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi".

Dari sini saya punya buku antologi pertama " Bukan Guru Biasa" 2016

Saya pun berguru lagi dengan group Media Guru, dari sana saya menerbitkan buku perdana solo"Mengejar Azan" buku cerita tentang perjalanan menuntut ilmu.

Dasar ilmunya dari Om Jay lalu dipoles oleh media guru.

Kebahagiaan tak terkira pada saat itu, mempunyai kebanggaan tersendiri mempunyai karya sendiri. Sehingga karya perdana itu saya abadikan dengan minta bantuan pelukis untuk melukisnya.

 Namun........  

Namun, untung tak dapat diraih, Malang tak dapat ditolak. Tetiba badai tornado menghantam dengan dahsyatnya.

Tubuh ini yang tadinya tinggi, gagah, ganteng dengan sekejap mata lumpuh total tak berdaya, hanya menyisakan mata, telinga, dan otak. Bahkan napas pun tidak bisa. Jika tidak cepat ditangani. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un  

1,5 bulan di ruang ICU, 3 bulan di ruang HCU, 2 Minggu di ruang inap biasa. Pulang dalam kondisi lumpuh. Satu tahun badan tak bergerak, setelah satu tahun mulai ada gerakan tangan, butuh enam bulan tangan kiri bisa memegang wajah, lalu disusul tangan kanan. Jari tangan masih kaku dan tidak bisa menggenggam, untuk menekan remot saja tidak mampu.1.5 tahun hanya berbaring dan terkadang suntuk menghampiri.1.5 tahun putus dengan dunia luar, tidak tahu perkembangan dunia luar seperti apa. Oh my God....


Menulis Dikala Sakit

Suatu hari handphone istri tertinggal dan berdering. Saya coba minta asisten rumah tangga untuk mengambilnya dan meletakkan di atas dada saya. Saya coba untuk menyentuh, Alhamdulillah, bisa terbuka. Dalam hati kecil berkata ke mana ya, handphone milik saya, sudah 1,5 tahun lepas dari saya.

Ketika istri pulang dari sekolah, saya pinta HP saya dan sekaligus minta dibelikan kartu baru. Karena yang lama mati. Tak pikir panjang istri mencari HP dan membelikan kartu baru.

Terasa hidup kembali.

Saya berusaha menggunakan HP walau tidak bisa menggenggam, cukup beli alat HP lalu disangkutkan pada jari jempol tangan kiri dan menulis menggunakan jari tengah. Bagus jari manis dan kelingking tertekuk hingga tidak menghalanginya untuk menulis. Karena jari tengah yang terpanjang, maka saya gunakan untuk mengetik.  Ternyata semua yang terjadi ada hikmahnya. maka itu, saya syukuri saja. 

Mulailah melacak akun Facebook saya, cukup makan waktu 3 hari baru bisa terlacak. Alhamdulillah, sejak itu saya memposting kondisi saya, hingga banyak simpati dan empati berdatangan.

Dalam hati kenapa saya tidak menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Akhirnya saya menulis apa yang pernah saya baca, lihat, dan saya dengar. Karena saya senang dengan motivasi, maka saya hampir setiap hari menulis artikel sederhana tentang motivasi hidup. Di samping juga menulis tentang apa yang sedang terjadi pada diri saya.

Saking asyiknya menulis hingga lupa bahwa diri ini sedang sakit tahunan, tetiba secara perlahan, tapi pasti ada progres yang menggembirakan, tubuh ini mulai bergerak satu persatu. Allahu Akbar.....

 

Banyak respon positif berdatangan, hingga banyak yang membaca bahkan selalu menunggu tulisan berikutnya. Saya pun tambah semangat. Sehingga tidak tidur sebelum ketemu bahan untuk ditulis besok. Setiap habis salat subuh hingga jam 7 saya menulis. Menulis sambil rebahan di atas kasur. Setelah saya bisa duduk baru saya menulis di atas roda. Saya menulis di mana saja. Terkadang di atas kasur, di luar rumah ketika menjemur badan, di mobil sambil menikmati macatnya arus lalulintas, di rumah sakit sambil nunggu panggilan dokter. Ya, pokoknya di mana saja ada di situlah saya menulis.

Bahkan ketika sedang terapi pun saya suka menulis.

Di rumah sakit sambil nunggu panggilan

Sambil terapi

 

Di tengah perjalanan ada sahabat (Om Jay) yang saya kenal menghubungi saya. Lewat WhatsApp dan vicol. Beliau mengajak saya untuk ikut pelatihan menulis. Walau dalam serba keterbatasan dan leher masih memakai alat trakeastomi dan hidung masih memakai NGT untuk selang makan. Saya menyatakan ikut.

Kalau lelah dan pusing saya tidak ikut, tapi materinya saya simpan diaplikasi catatan.

Aplikasi catatan yang ada di HP itu tempat saya menulis setelah itu baru saya share ke blog dan Facebook.

 

Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi.

Turunan kalimat dari Om Jay ini mujarab.

Kalimat ini sebagai penyemangat saya, sekaligus saya pun ingin membangkitkan dan mengajak teman untuk menulis.

Walau terkadang dinyinyir saya tetap maju pantang surut ke belakang. Karena saya ingat pesan Om Dedi"Ingat apa yang menurut kita bagus belum tentu orang lain menerima" artinya terus berjuang.

Apa yang terjadi bapak dan ibu guru yang super. Akhirnya teman saya satu persatu mengikuti saya dan mereka sudah mempunyai karya, bahkan murid saya pun mengikuti dan sudah menghasilkan karya. Begitu juga teman-teman di medsos, mereka menulis karena terinspirasi dari saya. Eh, jadi haru....

Tadi jam 13.20 (15 November 2021) saya serahkan 12 buku dg 6 judul.. sengaja saya berikan ketika rapat, agar teman-teman termotivasi dan keluar dari zona nyaman

Foto saya di share ke Kanwil kemenag Jakarta. Dan di respon oleh kasih dan beliau ingin mengadakan wawancara untuk persiapan tgl 26 November hari guru

Benar kata om Jay. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi…  super sekali om Jay…

Alhamdulillah, digelombang ini ada sahabat kuliah saya yang mengikuti pelatihan ini. Beliau sering minta pendapat saya dan minta dikoreksi. Saya pesan jangan hanya menulis resume, coba tulis yang lain. Eeeeh, tulisannya semakin gurih, renyah dengan diksi-diksi keren.... saya saja belum bisa seperti itu.....

Dari sinilah lahir buku demi buku secara estapet. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Kemustahilan versus realita berwujud keniscayaan. Kalau kita ingin belajar, belajar, dan belajar pasti kita bisa.

Lelah pasti ada apalagi dalam kondisi serba keterbatasan, memegang buku saja saya susah, begitu juga membuka buku. Dengan bantuan istri, anak, dan asisten rumah tangga, saya bisa membaca buku untuk memperkaya tulisan saya. Ya, menulis itu identik dengan membaca. Jangan berpikir menjadi penulis kalau malas baca.


Kemudian saya memcoba untuk membuka laptop walau berat jari ini untuk menekan hurup dan angka, tapi saya paksakan hingga tanpa sadar sebagai media terapi saya jari akhirnya kuat menekan hurup-hurup.

Saya pindahkan tulisan yang ada di blog dan Facebook ke laptop. Saya kelompokkan sesuai tema yang saya inginkan. Lalu saya edit hingga menjadi sebuah buku. Untuk mempertajam tulisan saya berguru dengan pak Akbar zaenudin penulis buku best seller Man Jadda wa Wajada. Jadilah sebuah buku motivasi.

Inilah karya tulis sederhana saya.

Sebelum sakit

1. Mengejar Azan (2018)

Setelah sakit

2. GBS Menyerangku (2020)

3. Menuju Pribadi Unggul (2020)

4. Belajar Tak Bertepi (2021)

5. Kisah inspiratif Seni Mendidik Diri (2021)

6.Aisyeh Menunggu Cinte (2021)

7. Menepis Kesulitan Belajar (2021) 

Masih dalam proses

1. Kado Spesial Sang Bintang

2. Lentera Ramadan

3. Cing Ato Berpantun

4. Cing Ato Berpuisi

5. Menulis di Kala Sakit

Masih dalam ide

1. Menyongsong pendidikan abad 21

2. Guru Berkharisma

3. Belajar Fikih ( buku pelajaran)

Saya pun mulai belajar menulis puisi, pantun, dan cara membuat cover. Insyaallah, saya akan pelajari bagaimana cara layout buku.

Pada saatnya nanti saya bisa menulis, membuat cover, membuat layout sendiri, dan terakhir jadi penerbit  

Menulis saja terus, biarkan orang lain yang menilainya.

Ternyata menulis dikala sakit, banyak yang merespon. Banyak teman guru baik di dunia nyata maupun Maya. Melontarkan kalimat-kalimat sanjungan." Bapak merupakan motivator saya" " bapak guru inspiratif" " saya malu pada diri saya bapak yang sakit saja bisa berkarya, sementara saya tidak". Itulah di antara kalimat yang terlontar dari para sahabat.

 Jadi sedih..

Kedatangan yuotuber

Bukan saja mendapat sanjungan dari para sahabat medsos. Ternyata para yuotuber pun sampai datang berkunjung ke rumah dan berjumpa dengan saya. Mereka melabelkan saya sebagai guru motivator yang inspiratif.

Menjadi Narasumber

Saya tidak menyangka ada orang ngelirik saya untuk diminta menjadi narasumber. Walau dahulu terbersit dalam hati, suatu saat saya akan menjadi narasumber.

Pertama datang dari sahabat saya, dia meminta untuk mengesi pada acara motivasi di grup guru tapi saya tolak karena saya masih terbatas bicara. Selanjutnya beliau belum mengabarkan lagi. Walau belum terlaksana, setidaknya memberi motivasi kepada saya. Ternyata ada juga yang melirik.

Kedua, datang dari Om Jay. Saya liat nama saya ada urutan daftar narasumber, tapi tertulis Cang Ato bukan Suharto. Akhirnya saya cuekin saja. Eh, sudah mendekati waktunya baru saya dihubungi oleh bunda Aam Nurhasanah. Tanpa pikir panjang saya sanggupin saja. Jadilah saya mengisi pada pelatihan menulis gelombang 17. Eh, ternyata dipanggil lagi pada gelombang 18 ini.

Eh, dipanggil lagi pada gelombang 21 dan 22 ini.

Ada juga tawaran dari komunitas menulis dari tanah rantau saya tolak karena pelatihan menggunakan

zoom, sementara suara saya belum jelas. Maka itu, saya sedang latihan bicara...

 

Sahabat-sahabat superku

Ayo......

Jangan takut untuk menulis,

Jangan menunggu pintar baru menulis, menulis saja dahulu nanti pasti pintar.

Awali menulis yang sederhana, yang  kita bisa dan yang kita kuasai.

Mulailah menulis dengan apa yang kita alami dan rasakan, itu lebih mudah. 

Untuk memperkaya tulisan kita, silahkan baca tulisan-tulisan karya orang lain.

 Dan jangan lupa membeli karya teman   


Saya akhiri assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

Saya kembalikan kepada moderator

------------------------------------------------------------------------------

Sesi materi inti selesai.

Cing Ato mengakhiri kisahnya

Bathinku terasa penuh

Terisi dengan nilai nilai kesabaran

Nilai kegigihan

Nilai ketangguhan

Alhamdulillah..

 

Menulis itu sebuah keterampilan, tak ubahnya seperti keterampilan pada umumnya. Agar menjadi terampil dibutuhkan latihan terus-menerus. Begitu juga dengan menulis.

(Cing Ato, Betawi, Guru Fiqih MTsN 5 Jakarta)




Resume ke-7 Mengatasi Writer’s Block

  Senin , 18 Oktober 2021 Resume pertemuan ke-7 Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. Moderator : Maesaroh Materi : Mengatasi W...