Saturday, December 11, 2021

Resume ke-7 Mengatasi Writer’s Block

 

Senin, 18 Oktober 2021

Resume pertemuan ke-7

Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr.

Moderator : Maesaroh

Materi : Mengatasi Writer’s Block

                                                 

 


Pertemuan ke-7 di kelas Belajar Menulis Gelombang 22 kali ini dipandu oleh Ibu Maesaroh sebagai moderator.

                       

Pertemuan dibuka oleh moderator dengan memperkenalkan melalui narasi singkat tentang profil Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr sebagai seorang narasumber cantik nan cerdas asal kota Subang. Sang peraih Penghargaan Bupati Subang (2020), juga peraih Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang sebagai guru berprestasi (2021).

Prestasi literasinya sangat membanggakan, karyanyapun ada yang mampu menembus Penerbit Mayor, memberikan jejak prestasi  literasi yang baik bagi tanah Subang. Gemilang dengan karya di masa muda yang membahana, semangat literasi Ibu Dita luar biasa memikat hati para pembaca.

Mengawali karir sebagai peserta kelas menulis PGRI pada gelombang 7, beliau mampu membuktikan kepiawaiannya dalam menulis, hingga naik kelas menjadi moderator dan menjadi Narasumber di berbagai pelatihan.

Memasuki acara inti Narasumber mengajak mengawali pertemuan dengan kegiatan menulis dari 3 kata yaitu Hujan Pagi dan Hantu.  Tulisan boleh bebas (puisi, pentigraf, dll). Waktu yang diberikan adalah 15 menit. Grup dibuka selama sesi simulasi dan peserta mengirimkan langsung di grup dengan menuliskan Nama, Gelombang, Asal daerah.

 

Beberapa tulisan sebagai berikut:

Nama : Euriah Lamani

Gelombang :22

Asal daerah  medan

Tulisan:  Tanpa terasa sudah lebih dari 15 menit hujan turun dengan lebatnya, ndelalah malam ini tepat malam Kliwon, yang menurut kabar ntah darimana kebenarannya, malam Jumat identik dengan Hantu. Apa yang harus kulakukan?

Sampai tengah malam seperti ini, aku tak dapat memejamkan mataku karena hujan deras disertai petir, aku khawatir proyek kerupuk ku tidak bisa dijemur pagi hari.

Ntah lah ..

 

Nama : Elyda Gusti Nasution

Gelombang : 22

Asal daerah : Padangsidimpuan, Sumatera Utara

Tulisan

Hari ini hujan turun, membasahi tanah Sidempuan. Aku berangkat menuju 'rumah ilmu' pada pagi hari ditemani dengan sejuknya cuaca. Sejumlah tugas dan agenda telah menghantui pikiranku. Berharap semuanya mampu ku selesaikan dengan baik. Tetap dan terus berusaha serta berdo'a.

Nama : Istianah

Gelombang : 22

Asal daerah : Kutai Kartanegara

Tulisan:

Hujan tak kunjung reda

Pagiku jadi tak bergairah

Enggan menggapai asa

Malas kembali bersemayam

Menjadi hantu kehidupan

Yang terus membayang

 

Benar-benar seru, satu persatu buah pikiran terkirimkan, dan saya asyik menikmati pelangi kata-kata yang tersusun bagai kata-kata ajaib dari bapak ibu peserta. Untuk sesaat saya masih bingung harus menulis apa sehingga belum sempat membuat tulisan di simulasi kali ini.

Narasumber lalu menyimpulkan bahwa sebagian dari peserta mungkin ada yang masih merasa malu, takut tidak sesuai kaidah, takut dibandingkan dengan hasil orang lain, dan sebagainya. Atau, ada yang masih asing dengan tema hantu, sehingga tidak tahu harus menulis apa.

Hal-hal yang disebutkan di atas tadi adalah contoh penyebab WB (Writer’s Blok).

Wikipedia mengartikan writer's block sebagai keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya. Keadaan ini bisa menimpa penulis pemula maupun profesional.

WB juga tidak terbatas pada penulis buku saja. Blogger, mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, screen writer (penulis naskah seperti untuk film, sinetron), script writer (penulis teks untuk dibacakan pembaca berita), dan lain lain juga bisa mengalami WB.

Dalam sebuah artikel di idntimes disebutkan bahwa berdasarkan sebuah penelitian dari Yale psychologists pada tahun 1970 dan 80-an yang akhir-akhir ini kembali ditinjau New Yorker, writer's block merupakan hal yang konkrit dan fenomena yang bisa diatasi.

Untuk memahami fenomena ini, dua orang psikolog, Jerome Singer dan Michael Barrios pun mengadakan sebuah penelitian terhadap para penulis dengan latar belakang berbeda.

Selanjutnya menurut Narasumber berdasarlan berbagai sumber lain yang dibaca, serta hasil pengamatan saat menjadi narasumber, dapat disimpulkan beberapa penyebab WB, yaitu :

1.      Topik yang asing atau mencoba metode baru dalam menulis bisa membuat kita mengalami WB.

Jika hal ini dialami maka solusi antara lain bisa dengan mempelajari lebih seksama terkait metode baru tersebut (misal terbiasa menulis cerpen kemudian harus menulis KTI). Atau jika terkait tema, kita bisa jeda sedikit saat menulis lalu membaca referensi tambahan terkait tema untuk memperkaya wawasan dan kosa kata.

2.      Stress juga bisa jadi penyebab WB.

Rasa yang terlalu khawatir dengan penilaian orang, seringkali membuat kita menyimpan tulisan hanya untuk dikenang alias disimpan sendiri. Terlebih jika dihantui dengan berbagai pertanyaan seperti "Orang bakal suka gak ya? Ini dah sesuai KBBI belum ya? Diksinya dah oke belum ya?" dan berbagai pertanyaan sejenis bisa membuat kita terserang WB.

 

Menurut Narasumber  "kita tak akan pernah bisa membuat semua orang suka dengan kita, tapi yakinlah bahwa apa yang kita tulis akan tetap bermanfaat minimal bagi diri sendiri, dalam hal ini menulis pun bisa jadi terapi psikologi.

 

3.      WB bisa juga menjadi indikator bahwa fisik/mental kita sedang lelah.

Banyak beban pekerjaan selain menyebabkan lelah fisik, work under pressure juga bisa menyebabkan kita lelah secara mental. Jika hal ini terjadi, sebaiknya ambil nafas sejenak dan rehatlah.Refresh kembali hati, fisik dan pikiran kita.

4.      Hal lain yang juga bisa menjadi penyebab WB adalah terlalu perfeksionis.

Misal tulisannya harus dibaca ratusan dan ribuan orang, tulisannya harus jadi juara lomba dan sebagainya.

Perlu diingat, memiliki target dalam menulis itu penting, tapi jangan sampai hal tersebut membuat kita terlalu perfeksionis sehingga malah kehilangan ide ide baru untuk menulis.

 

Simulasi yang dilakukan di awal pertemuan adalah contoh dari menulis bebas. Dalam menulis bebas, aturan penggunaan tanda baca dll yang sesuai PUEBI bisa dikesampingkan terlebih dahulu.

Yang penting nulis dulu. Kalau pun masih ada yang salah, toh bisa diperbaiki kemudian.

 

Jika kita cek lagi beberapa tulisan kita terdahulu, ternyata masih ada yang typo, belum menggunakan tanda baca, dsb. But it's ok. Mengapa? Karena hal tersebut bisa kita revisi lagi.

 

Melansir dari laman Writer’s Digest, menulis bebas akan membantu melatih otak dalam hal menggali kata-kata yang sebenarnya sudah ada di dalam kepala sejak lama, dan memberikan tempat untuk kata-kata baru tersebut dalam proyek tulisan yang sedang kita kerjakan saat ini.

 

Dengan melakukan kegiatan menulis bebas secara rutin, kita bahkan bisa menemukan ide-ide baru untuk menulis banyak hal lain.

Ini tentu saja bermanfaat dalam menyembuhkan penyakit WB.

Itulah materi inti yang disampaikan Narasumber.

 

Berikut adalah Intisari dari sesi pertanyaan

P1. Cara mengatasi WB

Jawab : Kalau saya sedang terserang WB, biasanya saya berhenti menulis sejenak dan melakukan aktivitas lain yang juga saya sukai.

Misalnya jalan-jalan, membaca buku ringan, menonton film, dsb. Pokoknya yang bisa jadi mood booster juga, termasuk makan ice cream dan coklat

 

 

P2 : Berapa lama WB bisa terjadi?

Jawabannya tergantung seberapa cepat seorang penulis mampu mengatasi kondisi BW tersebut.

Dengan kata lain, WB bisa terjadi dalam hitungan menit, jam, hari, bulan, bahkan bertahun-tahun.

Pertanyaannya, mau sampai kapan kita biarkan WB ini berlangsung?

Kalau kita tak segera bangkit atasi WB, tentu karya tulis tak akan jadi jadi. Atau ... Jadi namun dengan hasil yang pas pasan (contohnya karena mau tak mau memang harus dikumpulkan seperti laporan)

 

P3: Masa pandemi masa guru dan siswa belajar PJJ. Bagaimana cara untuk menimbulkan gairah membaca dan menulis atau literasi siswa pd umumnya, terimakasih

Di sekolah sebetulnya sudah ada GLS ya, Gerakan Literasi Sekolah. Bahkan sudah ada aturan resminya dari pemerintah.

 

Mulai dari tahap pembiasaan, anak dibiasakan membaca 15 menit. Pada tahap ini anak bebas memilih buku yang disukai. Yang penting muncul minat baca dulu.

 

Lanjut ke tahap kedua, siswa harus mulai berkarya dari apa yang dibaca. Misal diminta membuat resume dengan canva, membuat infografis, dsb.

 

Tahap ketiga harus terintegrasi dalam pembelajaran dan dinilai oleh guru mapel. Buku yang digunakan sudah spesifik, yaitu buku nonteks (penunjang pembelajaran, misalnya ensiklopedia, buku novel tentang Gadjah Mada untuk pelajaran sejarah, pokoknya ada kaitannya dg pembelajaran).

  P4: Cara menghadapi WB berdasarkan paparan malam ini antara lain :

✓ pelajari metode/topik yang akan ditulis secara lebih seksama

✓ refreshing hati, otak, dan fisik

✓ lakukan menulis bebas

✓ hindari terlalu perfeksionis

  Oh ya, Pak Nyoman juga boleh coba menulis bareng. Ini bareng beneran ya ... Alias menulis bersama di tempat dan waktu yang sama.

 Menulis bersama rekan kerja juga dapat mengurangi perasaan cemas saat menyelesaikan pekerjaan.

 

Hal yang pertama dilakukan saat WB, melakukan apa yang saya sukai. Dan untuk menyiasati, kesibukan, buatlah outline tulisan dulu, agar jika nantinya sibuk bisa poles dikit dan tetap update.

 

Berkarya lah sesuai dengan passion kita. Sesuai dengan apa yang kita sukai dan kuasai. Dengan begitu, halang rintang apa pun insya Allah akan bisa kita lalui.

 

Prestasi adalah bonus, yang penting kita tetap tergerak, bergerak, dan menggerakkan

 

Gejala sudah disebut di awal ya, misal "kita bingung mau nulis apa, tiba-tiba gak ada ide, gak nulis-nulis karena takut dikritik, dan sebagainya

 

Boleh jeda asal jangan lama-lama. Berapa lama kita terserang WB, tergantung pada seberapa cepat kita memutuskan untuk bangkit dari WB.

 

Demikianlah materi pertemuan kali ini

 

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi

 

 

 

 

 

 

Resume Pertemuan ke-8 Komitmen Menulis di Blog

 

Rabu, 20 Oktober 2021

Resume pertemuan ke-8

Nara sumber : Drs. Dedi Dwitagama, M.Si.

Moderator : Aam Nurhasanah

Materi : Komitmen Menulis di Blog



                          Menulis adalah sebuah proses meninggalkan jejak dalam hidup.       

 

Malam ini adalah pertemuan ke-8 Kelas Belajar Menulis bersama Om Jay dan PGRI.Khusus untuk malam ini kelas tidak dikunci atas permintaan narasumber

Wow… pasti terasa seru sekali..

Bu Aam Nurhasanah sebagai moderator memperkenalkan seorang narasumber yang luar biasa. Beliau adalah Bapak Dedi Dwitagama, M.Si. yang juga guru blogger Om Jay. Beliaulah yang menarik Om Jay mengenal dunia blog.

Pak Dedi Dwitagama adalah seorang guru Matematika di SMKN 50 Jakarta. Jika ingin tahu wajah Pak Dedi bisa langsung googling, yang suka instagram, silahkan ke @dwitagama, atau bisa juga mengunjungi kanal you tubenya.

Pada pertemuan kali ini Bapak Dedi mengharapkan semua peserta aktif dan langsung bertanya. Jadi setiap peserta boleh bertanya langsung pada narasumber.

 

Berikut adalah beberapa tanya jawab peserta dengan Pak Dedi yang terasa riuh berwana dan menarik untuk disimak :

Bu Ayu : Bagaimana memiliki komitmen untuk tetap istiqomah menulis di blog ?

Pak Dedi : Bu Ayu dari manakah anda? Terimakasih sudah bertanya. Supaya istiqomah sebenarnya cuma sederhana… tulis atau isi terus blog kita kapanpun saat kita bisa ... happy deh

 

Bu Kutiyah : Apakah menulis di blog bisa menambah income (penghasilan) ?

Pak Dedi : ALooow Bu Kutiyah .... bisaaaaaa .... gegara blog saya keliling Indo dan bebrapa negara di dunia ... caranya bisa ibu liat di google.

Blog itu intinya sebagai majalah pribadi kita yang isinya bisa kita isi dengan apapun yang kita mau ... suka-suka kita ajaaa

 

Bu Maryani : Saya pertama kali mendengar kata blog ini sudah lama yakni dulu di salah satu sinetron  dimana tokoh cerita nya suka menulis di blog.Tetapi baru sekarang saya bisa membuat blog setelah mengikuti BM ini. Jadi pertanyaannya kapan  blog ini dipublikasikan dan apa keistimewaannya sehingga masih eksis dan membuat org ramai mengikutinya..Komitmen seperti apa yang bisa awet pak, secara, Mood selalu up and down dikarenakan aktifitas yg berjubel

Pak Dedi :Blog mulai dikenal dunia bermula di Amerika tahun 1994. Intinya blog itu seperti jurnal atau catatan harian seseorang yang di upload ke internet dan bisa dibaca oleh semua orang di dunia. Agar blog kita menarik sama seperti interaksi manusia di dunia nyata. Orang-orang yang menarik adalah orang yang memiliki kepribadian khusus dan bisa memberi manfaat buat orang lain.

Jadi blog seseorang menarik dan bisa dikunjungi oleh orang lain kalau blog nya mengandung sesuatu yang orang lain butuh.

Tetapi seperti di dunia nyata ketika ada seseorang yang punya inner beauty, passion yang menyenangkan, dia punya banyak sahabat.

Demikian juga blog, andaikan anda susah mencari topik spesifik atau sesuatau yang menarik anada angkat tulis saja semua yang anda mau tulis, kalua itu dengan ketulusan maka akan ketemu dengan orang yang satu visi dan dia akan jadi sahabat danrajin berkinjung ke blog anda.

 

Nyoman Sipi : Bagaimanakah cara mendapatkan karya tulis yang berkualitas. Dan bagaimana langkah-langkah atau strategi yang ditempuh bapak Dedi untuk melanjutkannya.

Pak Dedi :   Kualitas sebuah karya tulis itu adalah sesuatu yang subyektif.kalo anda pernah menang lomba karya tulis atau sering ikut kejuaraan karya tulis anada akhirnya akan tahu selera juri yang menilai anda. Dan bisa meramalkan karya tulis macam apa yang bisa menang. Itu sangat  tergantung siapa yang menilai.

Jadi kalo anda bisa menulis dengan baik buat saja tulisan sebaik yang anda bisa tapi jangan copy paste.

 

Bu Widya : Apakah fungsi blogger hanya untuk menulis saja pak. Adakahfungsi  yg lain?

Pak Dedi : blogger tak hanya utk tulisan, bisa menayangkan foto, video, dan apapun yg ibu mau

 

Bu Delvi : Bagaimana cara membentuk komitmen dalam menulis?

Pak Dedi : membentuk komitmen ngeblog gampang aja ... posting aja terus, ga usah fikirkan kwalitas ... itu akan otomatis terbentuk sesuai perjalanan waktu

 

Bu Romdiyah : Bagaimana cara membuat link di blogger seperti RPP. SILABUS dsbnya. Berbentuk word.. Agar guru lain saat membutuhkan bisa buka pada blogelger

Pak Dedi : klik tanda +, trus pilih file yg mau anda unggah .... nanti pengunjung blog anda bisa mengunduhnya SEE 

https://www.google.com/search?q=CARA+MELAMPIRKAN+FILE+DI+WORDPRESS&source=lmns&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjmwvbdgdnzAhWcnEsFHYRmDFIQ_AUoAHoECAEQAA

Pak Arham  : Komitmen apa yang harus dibangun ketika kita memiliki ide atau gagasan menulis di blog dan kendala apa saja yang timbul ketika blog tidak tertarik bagi peminat untuk membacanya ?  

Pak Dedi : Ketika punya ide, tuliskan. Tulis satu dua kata kalimat kunci dan simpan di draft blog kemudian ketika ada waktu kalimat itu diperpanjang dengan dilengkapi foto dan video.

 

Pak Sudarwoto  : bagaimana cara membagi waktu sebagai pengajar (guru) yang begitu sibuk dengan menulis di blog? Padahal guru sekarang dengan seabrek administrasi.  

Pak Dedi : waktu itu kita yang kelola. 24 jam cukup kalau kita mau. Tapi 24 jam tidak cukup kalau kita tidak mau.

Demikian materi pertemuan unik kali ini yang didominasi oleh pertanyaan dari peserta kelas Belajar Menulis.

Dan sepenggal kalimat dari pak Dedi yang sangat menarik adalah  :

Seberapa recehpun tulisan yang anda buat kalo itu dibuat dengan hati pasti akan ada pengunjungnya.   Lewat perjalanan waktu kita akan semakin terbiasa menulis dan memposting yang berkualitas dan makin banyak pengunjungnya.

 

Friday, December 10, 2021

Resume ke-2 Trik Cepat Menulis Resume

 

Rabu, 6 Oktober 2021

Resume pertemuan ke-2

Nara sumber : Ibu Maesaroh, M.Pd

Moderator : Ibu Aam Nurhasanah

Materi : Trik Cepat Menulis Resume di grup


Pelatihan BelajarMenulis bersama PGRI malam ini memasuki pertemuan ke-2.

Mengusung “Tema Trik Cepat Menulis Resume di Blog”, Narasumber malam ini adalah Ibu Maesaroh, M.Pd.

 

Ibu Aam Nurhasanah sebagai moderator membuka kelas dengan menyapa hangat seluruh peserta. Rangkaian kata pembuka terasa bagai energi yang mengawal para peserta untuk “stay on focus” dalam pembelajaran yang menyenangkan.

 

Di awal acara bu Aam memperkenalkan profil dari Ibu Maesaroh,. M.Pd. Beliau terkenal dengan sebutan Bu May, Sang Blogger Millenial, ketua kelas gelombang 18 yang mempelopori lahirnya Tim Formula One (F1) karena selalu membuat resume nomer 1 selama mengikuti kelas belajar menulis.

Ibu Maesaroh, M.Pd. berasal dari Lebak Banten dan mengajar Bahasa Inggris di SMPN 1 Lebakgedong. Lulus sarjana pada tahun 2013 STKIP Setiabudhi Rangkasbitung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Kemudian kembali melanjutkan Pendidiikan Magister di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Study Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2018, dan selesai menempuh gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2020.

Karyanya selain buku solo dan antologi, beliau juga berhasil menerbitkan buku Duo Litersi Digital untuk Abad 21 bersama Prof. Eko Indrajit. Buku Solonya yang berjudul  Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan mengisahkan perjuangannya dalam merawat ibunda tercinta selama sakit yang benar-benar mengharu biru.

Memasuki sesi pemaparan materi Ibu Maesaroh mengatakan bahwa menulis resume di Blog bagi sebagian peserta di kelas menulis mungkin bukan hal yang baru. Tapi untuk sebagian yang lain bisa jadi sesuatu yang baru. 

 Lalu mengapa perlu cepat menulis di blog?

Narasumber berpendapat bahwa sebagai seorang bloger pemula kita perlu mengenalkan aroma tulisan kita pada khalayak ramai. Beliau juga selalu memiliki mind set, apabila kita menempatkan tulisan kita di urutan teratas, besar kemungkinan kita akan memiliki pengunjung paling banyak

 

Hal tersebut terbukti dari pengalamannya, ketika berada di gelombang 18. Resume perdana beliau  pada pertemuan pertama ada di nomor 1, dan hal itu menarik minat seluruh peserta di WAG Menulis untuk berselancar di blog saya. Sehingga dalam waktu 24 jam, blognya berhasil di kunjungi oleh 220 viewers dengan 54 komentar positif. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang bloger pemula yang meluncurkan tulisan perdananya.

 

Keadaan tersebut menjadi motivasi untuk meluncurkan tulisan kedua dan seterusnya. Artinya jika kita serius ingin belajar, maka kita harus serius dengan mempersiapkan banyak hal. Salah satunya dengan menyiapkan 2 alat piranti digital yaitu Hp dan Laptop. Hp digunakan untuk menyimak materi, laptop digunakan untuk membuat resume.

Lebih jauh Narasumber mengatakan bahwa untuk menjadi penulis yang handal, kita harus mengatur pola pikir kita. Tujuan utama seorang penulis tentunya ingin agar tulisannya ada yang membaca.  

 

Memang tidaklah mudah membuat banyak orang tertarik dengan dunia literasi. Terkadang banyak tulisan yang berserak di WAG, namun ada yang membaca dan banyak pula yang mengabaikan. Oleh karena itu, seorang penulis harus memiliki karakter, karena terkadang ada saja yang mau membaca tulisan bergantung pada siapa penulisnya.

 

Dalam kelompok Belajar ini kita semua adalah penulis. Tak jarang pula jika semua dari kita saling membaca tulisan satu sama lain. Berbeda ketika ada seorang penulis yang sudah terkenal seperti Tere Liye misalnya, tanpa beliau suruh, kita pasti mencari Tulisannya. Itulah sebabnya mengapa kita harus memiliki karakter dalam menulis atau kekhasan dalam bahasa tulisan.

 

Ketika seseorang memiliki gaya khas akan membuat pembacanya menanti-nanti tulisan  berikutnya. Kita harus memikat pembaca terkesan di tulisan pertama, layaknya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kata-kata manis dalam tulisan juga penting untuk menambah bumbu dalam tulisan kita.

 

Berikut adalah trik cepat menulis resume yang dilakukan oleh Ibu Mydearly yang terdiri dari beberapa langkah yaitu :

1. Biasakan diri duduk 10 menit di depan laptop sebelum materi dimulai

2. Selama duduk 10 menit tersebut rangkailah paragraf pembuka yang selalu dikemas dengan bahasa yang puitis. Serta menulis paragraf penutup dengan menyisipkan kalimat-kalimat  motivasi.

3. Tulis resume dengan paragraf yang pendek-pendek. Pembaca blog cenderung bosan membaca paragraf yang  lama selesai, dengan membuat paragraf pendek, tulisan kita mudah difahami dan disimpulkan.

4. Menulis pernyataan Narasumber dengan gaya bahasa Parafrase, atau bisa saja mengadopsi semua bahasa narasumber dengan memberikan tanda kutip. Pak A mengatakan "...."

Narasumber mengingatkan kembali untuk menulis dengan gaya kita. Jangan menulis dengan mengejar hadiah, karena setiap tulisan akan menemukan penggemarnya. Jika terasa sulit kuncinya hanya menulis dan teruslah menulis semakin sering semakin terampil, menulislah dengan kekhasan, sampai orang mencari tulisanmu.

Hal yang paling sering didapati dari tiap gelombang belajar adalah temuan plagiarisme. Di setiap gelombang selalu ada saja peserta yang menduplikasi tulisan temannya. Hal ini tidak baik, karena dapat melemahkan mental peserta lainnya

 

Sebagai penulis pemula, memang bukan hal yang mudah untuk menumbuhkan sikap percaya diri.

Dan untuk menjadi penulis handal, Ibu Maydearly menyarankan kita harus memupuk mental baja dalam menulis dengan cara:

1. Tanamkan sikap percaya diri. Jangan merasa malu, karena tulisan yang kita anggap jelek akan menjadi luarbiasa bagi mereka yang tidak pernah belajar menulis.

2. Siap dengan segala kritikan. Meskipun terkadang budaya memuji lebih banyak dari budaya mengkritik, namun pujian itu harus membuat kita semakin memperbaiki tulisan.

4. Bangunlah tulisan di berbagai Blog.

Hal ini amat perlu karena terkadang orang akan bosan melihat penampilan kita yang itu-itu saja. Ibarat memakai baju, tentu orang akan bosan jika baju yang kita pakai hanya warna hijau saja. Itulah sebabnya tulisan harus warna lain, salah satunya  tulisan kita pada blog lainnya.

 

Menulis di berbagai blog juga menanamkan mental penulis yang mudah beradaptasi dan tak segan memberi perubahan.

Seperti Ibu Maydearly membangun 4 rumah di blog yaitu :

1. Rumah di Kompasiana   berisi tulisan edukatif https://www.kompasiana.com/maesaroh29969/60eb021606310e020a114532/literasi-digital-untuk-generasi-baby-boomers

2. Rumah di YPTD berisi tulisan fiksi dan faksi

https://terbitkanbukugratis.id/maesaroh/07/2021/sang-bunga-surga/

3. Rumah di Blogspot digunakan untuk sarana mengajar

https://maydearly.blogspot.com/2021/07/pengenalan-gerakan-literasi-di-masa.html

4. Rumah di detik.com berisi tulisan informatif.

5. Rumah di blog Lagerunal https://lagerunal.blogspot.com/2021/10/takdir-cinta.html

 Kelima tulisan dibuat Ibu Maydearly dengan warna yang berbeda. Ada warna ilmiah, dan warna Diksi.

Berawal dari seorang pembaca novel, kemudian berlari menjadi penulis diary, dan berpindah menjadi seorang penulis karya ilmiah membuat Ibu Maydearly semakin terampil menulis dengan berbagai warna. Semua keterampilan itu tak didapatkan dalam sehari, sedari SMP beliau sudah suka menulis, dan ketika S1, beliau membuka proyek membuat makalah. Itulah sebabnya menulis blog bagi Ibu Maydearly adalah keterampilan yang sudah terasah.

 

Ibu Mayderaly juga mengingatkan agar kita jangan   tak mampu menulis dengan baik.

Kelas Belajar Menulis ini membidik semua peserta dari Zero to Expert, dengan satu kunci ajaib Konsisten

 

Inti yang paling penting adalah siap memberi perubahan.

Lakukan dengan senang hati, jangan kecewa atas suatu kegagalan. Jangan menyerah dengan mengatakan Saya tak sanggup, saya tak bisa tapi cobalah. Karena dengan mencoba kita akan merasakan sensasi semangat yang luar biasa.

 

Demikianlah materi pada pertemuan kali ini.

Dan Ibu Maydearly menutup dengan penggalan ayat motivasi

"Jadilah manusia cerdas yang siap menerima perubahan".

 "Bait Ilmu yang dikemas dalam tulisan, akan menciptakan taman pengetahuan yang paling menawan" (Maydearly)

Resume pertemuan ke-30 Mengelola Taman Bacaan

 

Jum’at, 10 November 2021

Resume pertemuan ke-30

Nara sumber :  Bambang Purwanto (Mr. Bams)

Moderator :  Ms Phia

Materi :  Mengelola Taman Bacaan

 

            

Belajar bersama agar hidup ini semakin berwarna. Warna kehidupan yang indah karena kita isi untuk belajar. Belajar yang menghasilkan karya. Berkarya agar bisa berbagi, maka belajar, berkarya dan berbagi akan menjadi kekuatan untuk berbakti. (Mr. Bams, 2021).

 

Assalamuaikum Wr. Wb. Selamat Malam, Good Evening, Gütten Nacht

Ladies & Gents of future famous writers from all over Indonesia!

Seperti itulah Ms Phia Bilingual Blogger membuka Kelas pertemuan materi ke -30.

 

Pertemuan Pamungkas untuk Program Belajar Menulis Bersama PGRI dan Om Jay di gelombang 21 & 22 ini. Tidak terasa hampir selama tiga bulan sudah kita bersama - sama belajar menulis dengan para narasumber yang super hebat disini.

 

Ms Phia memperkenalkan Narasumber kita malam ini adalah   Seorang Penulis handal, pendongeng keren, pendiri Sebuah Taman Bacaan dengan Prestasi yang membahana. Beliau adalah   Bapak Bambang Purwanto atau yang kita kenal dengan Mr Bams.  Beliau juga mempunyai nama panggilan “Ayah Salwa”

 

Sejak 2008-sekarang Bapak Bambang Purwanto bekerja sebagai Guru TIK / Informatika SMP Taruna Bakti dan Ketua Tim Literasi (2019-sekarang). Kepiawaiannya mengelola dunia literasi mengantarkan SMP Taruna Bakti memperoleh prestasi sebagai Sekolah Literasi Kategori Utama Penghargaan dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Mr Bams juga dikenal sebagai penulis aktif dan MC / Host berbagai kegiatan, seminar dan Webinar.

 

Sobat baca,

Tema hari ini yaitu Mengelola Taman Bacaan.

Sebuah Tema yang menarik bukan?

Untuk lebih jelasnya mari kita pelajari dari pengalaman Mr Bams mengelola Taman Baca.

 

Mr. Bams mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM)   atas inisiatif sendiri, bukan karena bentukan dari pemerintah. Inilah yang membuat TBM merdeka hidup sampai sekarang. Saat 5 Oktober 2021 kemarin, TBM AS Lebakwangi genap satu dekade alias 10 tahun.

 

Mengapa namanya TBM AS Lebakwangi ?

AS itu singkatan Ayah Salwa. Ayah Salwa nama panggung di dunia dongeng dan anak-anak. Ayah Salwa digunakan sejak tahun 2003 saat Mr. Bams senang mendongeng. Bahkan dongeng pernah menjadi sebuah profesi dalam kehidupan Mr. Bams.

 

Ya, gegara dongeng bisa membuat taman baca.

Rumah mungil ukuran 21 menjadi awal adanya taman bacaan ini. Rumah yang dihuni oleh Mr. Bams sekeluarga sejak tahun 2007, mulai 5 Oktober 20211 dijadikan tempat bersama untuk taman bacaan.

 

Mengawali dengan buku koleksi pribadi sekitar 200san, Mr. Bams mengumpulkannya yang kemudian menjadi modal untuk taman bacaan. Mr. Bams beserta istri dan anak mengajak anak-anak terdekat untuk datang ke rumah. Promosinya dengan ajakan “Mendengarkan Dongeng Ayah Salwa”

 

Strateginya dimulai dengan memajang buku-buku   sebelum  “Ayah Salwa”  mendongeng. Anak anak memang lebih tertarik dengan dongeng. Akan tetapi saat buku-buku dipajang di teras rumah, mereka akhirnya mulai tertarik.

 

Rumah kecil tanpa pagar, teras halaman menjadi tempat parkirnya buku di sebuah rak menjadi magnet anak-anak untuk datang. Dua puluh majalah bobo, dua puluh buku cerita “Ayah Salwa”    simpan di rak yang sudah disiapkan di depan teras.

 

Saat Mr. Bams dan istri pergi bekerja, rumah tanpa pagar menjadi tempat yang merdeka bagi anak-anak disekitar rumah untuk membaca buku. Tak jarang saat mereka pulang teras dan halaman rumah penuh anak-anak. Tak sadar pula  anak-anak itu telah menjadi tenaga keamanan tanpa dibayar.

 

Taman Baca ini dari hari ke hari semakin berkembang dengan berbagai kegiatan. Bila berselancar di mesin google, dengan kata kunci TBM AS LEBAKWANGI maka terlihat beragam kegiatan dan peristiwa yang terekam.

Sungguh menginspirasi dan membanggakan ya…

                   

Sobat baca, rasanya kita jadi ingin lebih tahu tentang manfaat Taman Baca.

Apa saja yang harus disiapkan saat mau mendirikan Taman Baca ?

Mr Bams membaginya ke dalam 6 langkah, yaitu :

1. Niat

Perkuat niat kita, bahwa mendirikan Taman Bacaan bukan karena ingin mendapat bantuan, bukan karena ingin populer. Tapi jadikan sebuah karya yang bermanfaat, mengajak masyarakat gemar membaca.

2. Ngobrol bareng Keluarga

Sebelum mendirikan ngobrolah bersama keluarga, jelaskan maksud dan tujuan mendirikan Taman baca ini

3. Kumpulkan Buku

Mulailah mengumpulkan buku yang ada di rumah, untuk bahan bacaan awal. Jangan dulu nunggu banyak. Buku bisa datang sendiri. Ngak percaya, coba. Ajaib bin ajaib.  

4. Ijin tetangga

Ngobrol juga sama tetangga kalau di rumah kita akan ada taman bacaan.

5. Undang Anak-anak

Ajak anak-anak ke rumah agar mau datang, misalnya lakukan kegiatan yang anak-anak suka. Misalnya mewarnai, menggambar atau nonton bareng. Kemudian kenalkan bahwa disini ada taman bacaan

6. Gunakan FB, IG atau Blog

Manfaatkan media sosial untuk untuk meyebarkan aktivitas yang dilakukan.

 

Itulah 6 langkah yang dilakukan Mr Bams dalam mendirikan Taman Baca.

Syukur Alhamdulillah pada tahun 2012 TBM yang asalnya bareng tempat tinggal sudah bisa mandiri. “Ayah Salwa” mendapat rejeki rumah yang baru dan tidak jauh dari TBM AS Lebakwangi yang hanya terhalang 3 rumah.

Ajaib, rumah dibuat taman bacaan, bakal dapat rumah lagi.

Percaya atau tidak ?   Itulah kuasa Allah.  

Silahkan dicoba, dan tetap bersabar.

 

Oh ya ..  TBM AS Lebakwangi punya segudang prestasi yang telah dicapai, diantaranya :

1. Juara 1 TBM SE Kab Bandung , 2013

2. Juara 2 TBM SE Jawa Barat, 2013

3. Juara 1 TBM SE Kab Bandung, 2014

4. Juara 1 TBM SE Jawa Barat

5. Sabilulungan Awar Bupati Kab Bandung 2018

6. Juara 1 TBM Teladan SE Kab Bandung, 2019

 

Mr. Bams alias Ayah Salwa juga pernah menjadi Ketua Forum TBM SE Kabupaten Bandung 2013-2017

Saat TBM sudah memiliki bangunan sendiri, TBM buka tiap hari.  

Buku sepanjang sejarah TBM kalau dihitung sudah mencapai 6000 buku. Buku-buku ini juga ada yang tebarkan kepada TBM/komunitas lain.

 

 Program  TBM AS Lebakwangi diantaranya:

1. Senin Menggambar

2. Selasa Mewarnai

3. Rabu Nyunda

4. Kamis Membaca Nyaring

5. Jumat Membuat Puisi

6. Sabtu/Minggu Dongeng

Selain itu  ada kelas komputer dan internet. Internet tidak hanya untuk anak-anak.

 

Sering juga ada kelas pelatihan :

1. Motivasi

2. Komputer

3. Kerajinan

4. Menulis

5. Memasak

6. Barang bekas

 

Wah luar biasa ya..

Kegiatannya sangat menarik dan beragam.

 

Menurut  Mr Bams   membangkitkan membaca memang tidak mudah, harus ada teladan baik di sekolah maupun di rumah. Mendongeng pun sama , mendongenglah dengan sebebas bebasnya penuh cinta dan kasih sayang. Ajak anak-anak ngobrol untuk memahami dan mengerti dari manfaat membaca. Jadikan mereka merasa butuh.Selama kita lakukan dengan penuh kasih saya in syaa Allah pasti ada hasilnya

 

Hindari   memberikan label anak tidak suka membaca, karena bisa jadi akhirnya anak tersebut benar-benar tidak suka baca. Cari terus jalan agar mereka menyenangi membaca. Ajak ngobrol,ajak main dan ajak kegiatan yang mereka sukai.

 

Dalam mengelola Taman Baca terkadang buku hilang itu biasa, tapi buku yang datang juga tak disangka. Bila niatnya sudah lurus, kita tak akan pernah merasa kecewa karena buku hilang. Semoga bukunya menjadi kebaikan karena dibaca. Yakinlah selalu ada pengganti buku yang robek dan hilang. Penggantinya bisa dalam bentuk apa saja,  

 

Sobat Baca,

Cakap digital menjadi program yang sekarang sedang digalakkan. Tidak hanya guru dan siswa yang harus terus belajar. Tapi semuanya, orang tua harus bisa semakin paham bagaimana kondisi sekarang. Kekuatan pendidik di keluarga, masyarakat, sekolah dan pemerintah menjadi suatu yang tidak dipisahkan.

 

Mr Bams menambahkan, bila kita membuka kebaikan dengan apa yang bisa lakukan, maka lakukan. Mr Bams dengan membuat taman bacaan banyak mendukung profesi dan pengalamannya. Saat diminta menjadi Koordinator Literasi, SMP Taruna Bakti Bandung berhasil menjadi juara 1 Sekolah Literasi Kota Bandung tahun 2019. Mr Bams pun banyak meraih prestasi di bidang Literasi untuk wilayah Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Bahkan amanah di berbagai organisasi pun terus bertambah. Terakhir sebagai Pengurus Gerakan Pemasyarakan Minta Baca (GPMB) Kab Bandung, dilantik oleh Wakil Bupati Bandung

 

Suka dan duka dialami Mr Bams selama mengelola Taman Baca.

Sukanya sekarang rumah bertambah, buku makin banyak, bisa berbagi, bisa naik pesawat gratis, bisa kenal dengan pejabat, banyak kenalan komunitas, semakin mau untuk belajar

Dukanya, merasa kurang waktu untuk mengelola dengan maksimal

 

Demikianlah pengalaman yang dapat dibagikan oleh Mr Bams sepanjang mendirikan dan mengelola Taman Baca.

 

Moderator Ms Phia mengakhiri pertemuan kali ini dengan membagikan Closing Statement :

 

Nikmati sebuah perjalanan hidup untuk terus belajar. Dengan belajar maka harus bisa berkarya . Karyalah yang akan membuat kita harus dan mau berbagi. Belajar, berkarya, berbagi harus jadi kekuatan untuk berbakti. Jadilah guru mulia, agar bisa dikenang dengan karya. Karya yang akan dikenang sepanjang jaman. (Mr Bams, 2021)

 

Salam Literasi..

Salam Super Seterusnya…

 


   

  


 

 

Resume ke-7 Mengatasi Writer’s Block

  Senin , 18 Oktober 2021 Resume pertemuan ke-7 Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. Moderator : Maesaroh Materi : Mengatasi W...