Wednesday, November 17, 2021

Resume Pertemuan Ke-15 Konsep Buku Non Fiksi

 

Jum’at, 05 November 2021

Resume pertemuan ke-15

Nara sumber :  Musiin, M.Pd.

Moderator :  Ms. Phia

Tema :  Konsep Buku Non Fiksi


 Assalamuaikum Wr. Wb. Selamat Malam, Good Evening, Gütten Nacht

Ladies & Gents of future famous writers from all over Indonesia!

Tonight, saya Ms.Phia akan membersamai Bapak /Ibu sebagai Moderator dan Pembelajar.

Ayo siapkan fokus  dengan segelas Teh/Kopi Hangat. Agar jemari selalu kuat merangkai Kata.  

The topic Tonight is KONSEP BUKU NON FIKSI kita bedah tips untuk menulis karya non fiksi malam ini bersama seorang narasumber yang hebat ….

 

Begitulah Ms Phia membuka pertemuan kali ini.. daan.. seperti biasa … selalu semangat…

 

Ms. Phia memperkenalkan narasumber sebagai seorang ibu yang sangat suka membaca, travelling dan memasak. Seorang English Teacher yang juga adalah Founder Organisasi Masyarakat . Beliau adalah Ibu Musiin. M. Pd., seorang ibu yang penuh ide, suka berinovasi dan semangat berbagi.

Alumni  kelas menulis Om Jay gelombang 8 ini bersama sembilan peserta lainnya mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis dari Prof. Eko dan berhasil menaklukan tantangan menulis tersebut. Kini buku-buku hasil kolaborasi  tersebut telah berhasil dipajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Buku karyaIbu Musiin berjudul Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi.

 

Sahabat pembaca, sebelumnya narasumber menceritakan bahwa ia menulis hanya untuk tugas-tugas kuliah maupun untuk tugas dinas saja. Tidak pernah terpikirkan bahwa beliau bisa menulis. Karenanya, seringkali setiap akan menulis selalu terlintas ketakutan, tapi pada akhirnya, beliau berhasil mengalahkan ketakutan dirinya sendiri. Menurut Narasumber, ketakutan itu ternyata  merendahkan potensi untuk menulis.

 

Ketakutan  yang  dirasakan ketika akan menulis buku diantaranya: takut tidak ada yang membaca;

takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan; merasa karya orang lain lebih bagus.

 

Ketakutan itu juga yang sering kali membuat beliau merasa konyol dengan hanya duduk berjam-jam di depan laptop, namun tidak menulis apapun. Hingga akhirnya beliau singgah di Kelas menulis Om Jay dan bertemu dengan banyak penulis pemula dan pemateri hebat, salah satunya adalah Prof Eko. Di awal masuk kelas Om Jay, beliau  bahkan belum mempunyai blog. Beliau yang minder untuk menulis, akhirnya menjadi berani untuk menulis.

 

Kegiatan menulis ternyata sangat menyenangkan. Karena itu jangan sampai kita menjadikan kegiatan menulis, sebagai contoh menulis resume kelas Om Jay menjadi sebuah mimpi buruk. Namun jadikanlah kegiatan ini sebagai langkah untuk menuju sebuah puncak kesuksesan untuk menjadi penulis yang hebat.

   

Narasumber mengibaratkan Prof. Eko sebagai seorang Master  Chef  yang memberi banyak pilihan bahan masakan yang bisa diolah menjadi berbagai jenis hidangan. Pilihannya ada pada diri masing-masing peserta. Bahan masakan yang disediakan Prof Eko, bisa kita peroleh di Prof EKOJI Channel. 

Seperti yang disampaikan Prof Eko, kita bisa menulis sesuai dengan hobi, kegemaran, kesukaan, cerita,  atau sesuatu yang dikuasai dan dicintai. Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan. Kita semua sebenarnya memiliki buku, namun buku tersebut masih belum lahir.

 

Telah kita lalui ratusan purnama, ribuan kejadian entah itu pahit atau manis  mengukir perjalanan  hidup kita. Semua tergantung pada individu masing-masing apakah mau dikeluarkan dalam bentuk buku atau tidak. Atau hanya dikeluarkan dalam bentuk pengajaran di kelas-kelas saja atau sekedar bentuk obrolan atau cerita kepada anak cucu saja, yang tidak meninggalkan jejak keabadian. Bahkan seringkali hanya jadi status whatsapp atau jadi instastory yang berlalu begitu saja.

 

Kita semua memahami bahwa menulis bukanlah keterampilan yang mudah. Berbagai penelitian bahasa menunjukkan di antara empat keterampilan berbahasa, menulis adalah keterampilan yang dianggap paling sulit. Menulis tidak semudah berbicara, semudah bergosip . Justru tantangannya ada karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir CINTA MENULIS.

 

Sebelum menulis buku, kita harus menemukan alasan kuat mengapa ingin menjadi penulis.

Alasan yang membuat Narasumber ingin menjadi penulis diantaranya:

1.         Mewariskan ilmu lewat buku.

2.         Ingin punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline.

3.         Mengembangkan profesi sebagai seorang guru.

 

Kita tentu masih ingat kutipan terkenal dari Imam  Ghazali yang berbunyi

Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!

 

Atau Pramoedya Ananta Toer

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

 

Semua itu menjadi penguat seseorang untuk menjadi penulis.

 

Sahabat pembaca, malam ini Nara sumber akan membahas tentang penulisan buku nonfiksi.

Dalam penulisan buku nonfiksi ada 3 pola yakni:

1.         Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)

Contoh: Buku Pelajaran

2.         Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.

Contoh: Buku Panduan

3.         Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara)

 

Pola yang dipakai dalam menulis buku Literasi Digital Nusantara adalah pola ketiga yakni Pola Klaster.

Proses penulisan buku terdiri dari 5  langkah, yakni

1.         Pratulis

2.         Menulis Draf

3.         Merevisi Draf

4.         Menyunting Naskah

5.         Menerbitkan

 

Langkah Pertama

Pratulis

1.         Menentukan tema

2.         Menemukan ide

3.         Merencanakan jenis tulisan

4.         Mengumpulkan bahan tulisan

5.         Bertukar pikiran

6.         Menyusun daftar

7.         Meriset

8.         Membuat Mind Mapping

9.         Menyusun kerangka

 

Tema bisa ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi diantaranya parenting, pendidikan, motivasi dan lain-lain. Kita bisa memilih tema yang dikuasai dan menjadi passion kita.

 

Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya

1.         Pengalaman pribadi

2.         Pengalaman orang lain

3.         Berita di media massa

4.         Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram

5.         Imajinasi

6.         Mengamati lingkungan

7.         Perenungan

8.         Membaca buku

 

Berikut adalah tahap-tahap yang dilalui Ibu Musiin dalam menyusun buku non fiksi dengan berkolaborasi bersama Prof. Ekoji.

Tahap 1.

Menentukan tema.

Semua hal di sekitar bisa menjadi inspirasi kita untuk menulis sebuah buku. Tema yang Ibu Musiin  angkat di bukunya adalah pendidikan. Ide berasal dari berita di media massa,  mengamati lingkungan serta diperkuat dari materi di Prof EKOJI Channel dengan judul Digital Mindset (The Key to Transform Your Organization) yang tayang pada tanggal 20 Maret 2020. Referensi berasal dari data dan fakta yang diperoleh dari literasi di internet. Pada saat beliau  menulis di awal pandemi Covid-19, jadi semua referensi berasal dari internet. Referensi berasal dari data dan fakta yang diperoleh dari literasi di internet.

 

Perlu diketahui bahwa referensi terdiri dari :

1 .Pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;

2. Keterampilan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;

3. Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini ;

4. Penemuan yang telah didapatkan.

5. Pemikiran yang telah direnungkan

 

Tahap 2

Membuat kerangka.

Kerangka  ini diajukan terlebih dahulu oleh Ibu Musiin ke Prof. Eko. Sesudah disetujui lalu dilanjutkan ke proses penulisan. Di bawah ini adalah kerangka penulisannya :

BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

A.        Pembagian Generasi Pengguna Internet

B.        Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

A.        Media Sosial

B.        UU ITE

C.        Kejahatan di Media Sosial

BAB 3 Literasi Digital

A.        Pengertian

B.        Elemen

C.        Pengembangan

D.        Kerangka Literasi Digital

E.         Level Kompetensi Literasi Digital

F.         Manfaat

G.        Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Geerasi

H.        Kewargaan Digital

BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara

A.        Keluarga

B.        Sekolah                             

C.        Masyarakat                                                        

BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

A.        Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia

B.        Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia

C.        Membangun Digital Mindset Warganet +62

 

Untuk lebih paham dalam menulis isi buku berdasarkan kerangka yang dibuat, kita bisa mengikuti nasihat Pak Yulius Roma Patandean di Channel beliau (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be).

Dengan mengikuti langkah beliau, tulisan kita menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka tertata secara otomatis.

 

Berikut ini penjabaran anatomi buku non fiksi.

Langkah kesatu

Anotomi Buku

1.         Halaman Judul

2.         Halaman Persembahan (OPSIONAL)

3.         Halaman Daftar Isi

4.         Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)

5.         Halaman Prakata

6.         Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)

7.         Bagian /Bab

8.         Halaman Lampiran (OPSIONAL)

9.         Halaman Glosarium

10.       Halaman Daftar Pustaka

11.       Halaman Indeks

12.       Halaman Tentang Penulis

 

Langkah kedua

Menulis Draf

1.         Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas

2.         Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan

 

Langkah ketiga

Merevisi Draf

1.         Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian

2.         Memeriksa gambaran besar dari naskah

 

Langkah keempat

Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)

1.         Ejaan

2.         Tata bahasa

3.         Diksi

4.         Data dan fakta

5.         Legalitas dan norma

 

Sahabat pembaca, tak dapat kita pungkiri dalam menulis dijumpai hambatan-hambatan diantaranya :

1.         Hambatan waktu

2.         Hambatan kreativitas

3.         Hambatan teknis

4.         Hambatan tujuan

5.         Hambatan psikologis

 

Tetapi kita dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut dengan cara :

1.         Banyak membaca

2.         Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber.

3.         Disiplin menulis setiap hari.

4.         Pergi ke pasar dan memasak. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi (kebetulan saya  

            hobi memasak)

 

Demikian kupasan materi inti pertemuan kali ini.

Seperti harapan Nara sumber, semoga kita bisa menaklukkan tantangan untuk menulis buku non-fiksi.

Kita akhiri pembelajaran kali ini dengan 2 quotes yang manis.

 

Cahaya untuk berkarya itu berasal dari diri  sendiri (Musiin, 2021)

 

You are not a good writer until you publish your book (Ms Phia, 2021)

No comments:

Post a Comment

Resume ke-7 Mengatasi Writer’s Block

  Senin , 18 Oktober 2021 Resume pertemuan ke-7 Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. Moderator : Maesaroh Materi : Mengatasi W...