Jum’at, 05 November 2021
Resume pertemuan ke-15
Nara sumber : Musiin, M.Pd.
Moderator : Ms. Phia
Tema : Konsep Buku Non Fiksi
Assalamuaikum Wr. Wb. Selamat Malam, Good Evening, Gütten Nacht
Ladies & Gents of future famous
writers from all over Indonesia!
Tonight, saya Ms.Phia akan membersamai
Bapak /Ibu sebagai Moderator dan Pembelajar.
Ayo siapkan fokus dengan segelas Teh/Kopi Hangat. Agar jemari
selalu kuat merangkai Kata.
The topic Tonight is KONSEP BUKU NON FIKSI
kita bedah tips untuk menulis karya non fiksi malam ini bersama seorang
narasumber yang hebat ….
Begitulah Ms Phia membuka pertemuan kali
ini.. daan.. seperti biasa … selalu semangat…
Ms. Phia memperkenalkan narasumber sebagai
seorang ibu yang sangat suka membaca, travelling dan memasak. Seorang English
Teacher yang juga adalah Founder Organisasi Masyarakat . Beliau adalah Ibu
Musiin. M. Pd., seorang ibu yang penuh ide, suka berinovasi dan semangat
berbagi.
Alumni kelas menulis Om Jay gelombang 8 ini bersama
sembilan peserta lainnya mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis dari Prof.
Eko dan berhasil menaklukan tantangan menulis tersebut. Kini buku-buku hasil
kolaborasi tersebut telah berhasil
dipajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Buku karyaIbu
Musiin berjudul Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi.
Sahabat pembaca, sebelumnya narasumber menceritakan
bahwa ia menulis hanya untuk tugas-tugas kuliah maupun untuk tugas dinas saja.
Tidak pernah terpikirkan bahwa beliau bisa menulis. Karenanya, seringkali setiap
akan menulis selalu terlintas ketakutan, tapi pada akhirnya, beliau berhasil
mengalahkan ketakutan dirinya sendiri. Menurut Narasumber, ketakutan itu ternyata merendahkan potensi untuk menulis.
Ketakutan
yang dirasakan ketika akan menulis
buku diantaranya: takut tidak ada yang membaca;
takut salah dalam menyampaikan pendapat
melalui tulisan; merasa karya orang lain lebih bagus.
Ketakutan itu juga yang sering kali
membuat beliau merasa konyol dengan hanya duduk berjam-jam di depan laptop,
namun tidak menulis apapun. Hingga akhirnya beliau singgah di Kelas menulis Om
Jay dan bertemu dengan banyak penulis pemula dan pemateri hebat, salah satunya
adalah Prof Eko. Di awal masuk kelas Om Jay, beliau bahkan belum mempunyai blog. Beliau yang
minder untuk menulis, akhirnya menjadi berani untuk menulis.
Kegiatan menulis ternyata sangat
menyenangkan. Karena itu jangan sampai kita menjadikan kegiatan menulis,
sebagai contoh menulis resume kelas Om Jay menjadi sebuah mimpi buruk. Namun jadikanlah
kegiatan ini sebagai langkah untuk menuju sebuah puncak kesuksesan untuk
menjadi penulis yang hebat.
Narasumber mengibaratkan Prof. Eko sebagai
seorang Master Chef yang memberi banyak pilihan bahan masakan
yang bisa diolah menjadi berbagai jenis hidangan. Pilihannya ada pada diri
masing-masing peserta. Bahan masakan yang disediakan Prof Eko, bisa kita
peroleh di Prof EKOJI Channel.
Seperti yang disampaikan Prof Eko, kita bisa
menulis sesuai dengan hobi, kegemaran, kesukaan, cerita, atau sesuatu yang dikuasai dan dicintai.
Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang
ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan. Kita semua sebenarnya memiliki
buku, namun buku tersebut masih belum
lahir.
Telah kita lalui ratusan purnama, ribuan kejadian
entah itu pahit atau manis mengukir
perjalanan hidup kita. Semua tergantung
pada individu masing-masing apakah mau dikeluarkan dalam bentuk buku atau
tidak. Atau hanya dikeluarkan dalam bentuk pengajaran di kelas-kelas saja atau
sekedar bentuk obrolan atau cerita kepada anak cucu saja, yang tidak
meninggalkan jejak keabadian. Bahkan seringkali hanya jadi status whatsapp atau
jadi instastory yang berlalu begitu saja.
Kita semua memahami bahwa menulis bukanlah
keterampilan yang mudah. Berbagai penelitian bahasa menunjukkan di antara empat
keterampilan berbahasa, menulis adalah keterampilan yang dianggap paling sulit.
Menulis tidak semudah berbicara, semudah bergosip . Justru tantangannya ada
karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis,
membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir CINTA MENULIS.
Sebelum menulis buku, kita harus menemukan
alasan kuat mengapa ingin menjadi penulis.
Alasan yang membuat Narasumber ingin
menjadi penulis diantaranya:
1. Mewariskan
ilmu lewat buku.
2. Ingin
punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun
offline.
3. Mengembangkan
profesi sebagai seorang guru.
Kita tentu masih ingat kutipan terkenal
dari Imam Ghazali yang berbunyi
Jika
kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!
Atau Pramoedya Ananta Toer
Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Semua itu menjadi penguat seseorang untuk menjadi
penulis.
Sahabat pembaca, malam ini Nara sumber
akan membahas tentang penulisan buku nonfiksi.
Dalam penulisan buku nonfiksi ada 3 pola
yakni:
1. Pola
Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari
sederhana ke rumit)
Contoh: Buku Pelajaran
2. Pola
Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.
Contoh: Buku Panduan
3. Pola
Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini
diterapkan pada buku-buku kumpulan
tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara)
Pola yang dipakai dalam menulis buku
Literasi Digital Nusantara adalah pola ketiga yakni Pola Klaster.
Proses penulisan buku terdiri dari 5 langkah, yakni
1. Pratulis
2. Menulis
Draf
3. Merevisi
Draf
4. Menyunting
Naskah
5. Menerbitkan
Langkah Pertama
Pratulis
1. Menentukan
tema
2. Menemukan
ide
3. Merencanakan
jenis tulisan
4. Mengumpulkan
bahan tulisan
5. Bertukar
pikiran
6. Menyusun
daftar
7. Meriset
8. Membuat
Mind Mapping
9. Menyusun
kerangka
Tema bisa ditentukan satu saja dalam
sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi diantaranya parenting, pendidikan,
motivasi dan lain-lain. Kita bisa memilih tema yang dikuasai dan menjadi
passion kita.
Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah
ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya
1. Pengalaman
pribadi
2. Pengalaman
orang lain
3. Berita
di media massa
4. Status
Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram
5. Imajinasi
6. Mengamati
lingkungan
7. Perenungan
8. Membaca
buku
Berikut adalah tahap-tahap yang dilalui
Ibu Musiin dalam menyusun buku non fiksi dengan berkolaborasi bersama Prof.
Ekoji.
Tahap
1.
Menentukan
tema.
Semua hal di sekitar bisa menjadi
inspirasi kita untuk menulis sebuah buku. Tema yang Ibu Musiin angkat di bukunya adalah pendidikan. Ide
berasal dari berita di media massa,
mengamati lingkungan serta diperkuat dari materi di Prof EKOJI Channel
dengan judul Digital Mindset (The Key to Transform Your Organization) yang
tayang pada tanggal 20 Maret 2020. Referensi berasal dari data dan fakta yang
diperoleh dari literasi di internet. Pada saat beliau menulis di awal pandemi Covid-19, jadi semua
referensi berasal dari internet. Referensi berasal dari data dan fakta yang diperoleh
dari literasi di internet.
Perlu diketahui bahwa referensi terdiri
dari :
1 .Pengetahuan yang diperoleh secara
formal , nonformal , atau informal ;
2. Keterampilan yang diperoleh secara
formal , nonformal , atau informal ;
3. Pengalaman yang diperoleh sejak balita
hingga saat ini ;
4. Penemuan yang telah didapatkan.
5. Pemikiran yang telah direnungkan
Tahap
2
Membuat
kerangka.
Kerangka ini diajukan terlebih dahulu oleh Ibu Musiin ke
Prof. Eko. Sesudah disetujui lalu dilanjutkan ke proses penulisan. Di bawah ini
adalah kerangka penulisannya :
BAB
1 Penggunaan Internet Di Indonesia
A. Pembagian
Generasi Pengguna Internet
B. Karakteristik
Generasi Dalam Berinternet
BAB
2 Media Sosial
A. Media
Sosial
B. UU
ITE
C. Kejahatan
di Media Sosial
BAB
3 Literasi Digital
A. Pengertian
B. Elemen
C. Pengembangan
D. Kerangka
Literasi Digital
E. Level
Kompetensi Literasi Digital
F. Manfaat
G. Penerapan
Literasi Digital Pada Lintas Geerasi
H. Kewargaan
Digital
BAB
4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara
A. Keluarga
B. Sekolah
C. Masyarakat
BAB
5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62
A. Perkembangan
Gerakan Literasi Digital Di Indonesia
B. Literasi
Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia
C. Membangun
Digital Mindset Warganet +62
Untuk lebih paham dalam menulis isi buku berdasarkan kerangka yang dibuat, kita bisa mengikuti nasihat Pak Yulius Roma Patandean di Channel beliau (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be).
Dengan mengikuti langkah beliau, tulisan
kita menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan
daftar pustaka tertata secara otomatis.
Berikut ini penjabaran anatomi buku non fiksi.
Langkah kesatu
Anotomi Buku
1. Halaman
Judul
2. Halaman
Persembahan (OPSIONAL)
3. Halaman
Daftar Isi
4. Halaman
Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
5. Halaman
Prakata
6. Halaman
Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
7. Bagian
/Bab
8. Halaman
Lampiran (OPSIONAL)
9. Halaman
Glosarium
10. Halaman
Daftar Pustaka
11. Halaman
Indeks
12. Halaman
Tentang Penulis
Langkah kedua
Menulis Draf
1. Menuangkan
konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas
2. Tidak
mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan
Langkah ketiga
Merevisi Draf
1. Merevisi
sistematika/struktur tulisan dan penyajian
2. Memeriksa
gambaran besar dari naskah
Langkah keempat
Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)
1. Ejaan
2. Tata
bahasa
3. Diksi
4. Data
dan fakta
5. Legalitas
dan norma
Sahabat pembaca, tak dapat kita pungkiri dalam
menulis dijumpai hambatan-hambatan diantaranya :
1. Hambatan
waktu
2. Hambatan
kreativitas
3. Hambatan
teknis
4. Hambatan
tujuan
5. Hambatan
psikologis
Tetapi kita dapat mengatasi
hambatan-hambatan tersebut dengan cara :
1. Banyak
membaca
2. Mencari
inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber.
3. Disiplin
menulis setiap hari.
4. Pergi
ke pasar dan memasak. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi (kebetulan
saya
hobi memasak)
Demikian kupasan materi inti pertemuan
kali ini.
Seperti harapan Nara sumber, semoga kita
bisa menaklukkan tantangan untuk menulis buku non-fiksi.
Kita akhiri pembelajaran kali ini dengan 2
quotes yang manis.
Cahaya
untuk berkarya itu berasal dari diri
sendiri (Musiin, 2021)
You
are not a good writer until you publish your book (Ms Phia, 2021)
No comments:
Post a Comment