Sunday, December 5, 2021

resume Pertemuan ke-10 Menulis Itu Mudah

 

Senin, 25 Oktober 2021

Resume pertemuan ke-10

Nara sumber : Dr. Ngainun Naim

Moderator : Aam Nurhasanah

Materi : Menulis Itu Mudah




Sehari selembar benang

Lama-lama menjadi kain

Sehari selembar tulisan

Lama-lama menjadi buku

(terjemahan bebas .. he he..)

 

Senin malam ini adalah pertemuan yang ke-10 kegiatan Belajar Menulis bersama PGRI Gelombang 22. Pelatihan kali ini dipandu oleh bu Aam Nurhasanah sebagai moderator dan Bapak Dr. Ngainum Naim sebagai Narasumber dengan tema “Menulis Itu Mudah”.

 

Bu Aam mengingatkan peserta bahwa tak terasa malam ini sudah pertemuan ke-10, artinya, ada 10 pertemuan ke depan untuk menjadi syarat menerbitkan buku hasil resume Bapak Ibu peserta pelatihan. Semoga Bapak Ibu peserta pelatihan Belajar Menulis bersama PGRI gelombang 22 ini dapat berhasil mewujudkan buku solonya dengan semangat yang tak pernah putus meskipun beratnya godaan melawan rasa malas menulis.

Narasumber malam ini adalah seorang dosen dan doktor di IAIN Tulungagung. Beliau pula lah yang pernah memberikan kata sambutan dibuku solo kedua bu Aam Nurhasanah yang berjudul Kunci Sukses Menjadi Moderator Online. Narasumber juga mengelola sebuah komunitas menulis dengan nama Komunitas Sahabat Pena Kita(SPK) dimana ibu Aam menjadi salah satu anggotanya, dan  melalui komunitas ini bu Aam berhasil melahirkan satu antologi.

 

Adapun profil dan riwayat pendidikan yang dilalui oleh Dr. Ngainum Naim yaitu beliau pernah bersekolah di SDN Sambidoplang Sumbergempol Tulungagung, lulus tahun 1988, lalu melanjutkan ke MTsN Tunggangri Kalidawir Tulungagung, lulus tahun 199, kemudian dilanjutkan ke MAN Denanyar Jombang, lulus tahun 1994, dan mengambil perkuliahan di S-1  STAIN Tulungagung, lulus 1998. Beliau kemudian melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu S-2  Studi Islam Universitas Islam Malang (UNISMA), lulus tahun 2002. Dan terakhir beliau tercatat sebagai mahasiswa S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lulus tahun 2011

 

Beberapa diantara puluhan karya tulisan beliau diantaranya :

Menulis Itu Mudah (2021)

Aktualisasi Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).

Literasi dari Brunei Darussalam (Akademia Pustaka, 2020).

Spirit Literasi (Akademia Pustaka, 2019).

 

Selain itu buku-buku bernuansa Islam karangan beliaupun cukup banyak, diantaranya :

Islam dan Pluralisme Agama (Yogyakarta: Aura Pustaka, 2014).

Self Development: Personal, Sosial, dan Spiritual (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2015).

35 Kompasianer Merajut Indonesia (buku bersama) (Jakarta: Kompas, 2013).

Merajut Kerukunan Antarumat Beragama (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2012).

Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Gre Publishing, 2011).

Sejarah Pemikiran Hukum Islam (Yogyakarta: Teras, 2009).

 

 

 

Menurut Dr. Ngainun Naim, “Menulis itu jika sudah menjadi budaya akan luar biasa”.

Awal tahun 2021 beliau menerbitkan sebuah buku dengan judul ‘Menulis itu mudah’ yang berisi kiat-kiat bagaimana kita bisa menekuni dan menjalani dunia menulis.

Apa betul menulis itu mudah? Jawaban sederhananya: mudah. Tapi dengan catatan yaitu mudah bagi yang sudah bisa. Bagi yang belum bisa, tentu sulit.

 

Bagaimana caranya agar menulis itu mudah?

Berikut adalah tips dari Dr Ngainum Naim :  

Langkah yang pertama adalah mindset atau setingan pikiran kita yaitu kita hatus menciptakan atau mensetting bahwa menulis itu mudah. Jadi ciptakan pikiran bahwa menulis itu mudah.

Bagaimana jika kenyataannya tetap sulit? Paling tidak mindset “mudah”  akan  membantu kita tetap optimis untuk mewujudkan bahwa menulis itu tidak sulit

 

Langkah Kedua: ciptakan pikiran jika menulis itu keterampilan SEKOLAH DASAR.

Menulis sesungguhnya tidak selalu butuh pendidikan yang tinggi-tinggi. Keterampilan menulis itu merupakan keterampilan tingkat sekolah dasar.

Menulis harus dimulai dari keyakinan. Tanpa keyakinan, orang tidak akan bisa menulis. Jika seseorang ingin bisa menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang besar dan kemauan berlatih. Perpaduan dua hal ini yang bisa membuat seseorang menjadi penulis. Nah, dari sini jelas bahwa MINAT dan KEMAUAN BERLATIH yang menjadi kunci sukses dalam menulis. Pendidikan bukan jaminan

Sebagai contoh Narasumber baru membuat catatan sederhana tentang tipe dan kuadran menulis melalui link :

  https://www.spirit-literasi.id/2021/10/tipe-dan-kuadran-menulis.html.

 

Adapun paparan singkatnya adalah sebagai berikut:

Dunia menulis memang unik. Setiap orang yang menekuni dunia menulis selalu memiliki pengalaman personal yang unik. Ada suka duka, pengalaman mengesankan, dan banyak hal yang tidak mudah untuk diceritakan.

Secara sederhana orang yang menekuni dunia menulis bisa dibedakan menjadi beberapa tipe.

Tipe pertama adalah mereka yang terus bertahan, berproses, dan menekuni dunia menulis sejak mulai berkiprah sampai sekarang. Bagi penulis tipe ini, menulis sudah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan. Hari-harinya diisi dengan terus menulis dan menghasilkan karya. Cara kerjanya konsisten.

Penulis tipe pertama ini tidak kenal musim. Orangnya selalu bisa eksis meskipun zaman berubah. Karyanya terus saja muncul seolah tidak kenal jeda. Bagi kelompok ini, tugas penulis adalah menulis dan menulis.

 

Tipe kedua adalah penulis musiman. Maksudnya, ia produktif menulis tidak setiap saat tetapi bergantung kepada momentum. Bagi dosen, mereka baru produktif menjelang deadline laporan kinerja, deadline laporan penelitian, dan deadline lainnya. Saat semacam ini mereka sangat produktif. Setelah tugas selesai, menulis juga berhenti.

Profesi lainnya juga sama. Bagi tipe ini, dorongan eksternal menjadi penentu kinerja. Ketika tidak ada dorongan, aktivitas menulis cenderung pasif.

 

Tipe ketiga adalah penulis yang pernah produktif. Pada suatu masa, tipe ini sangat produktif dalam menghasilkan karya. Tulisan demi tulisannya terus saja bermunculan. Banyak orang yang mengagumi produktivitasnya.

Namun zaman berubah. Kehidupan penulis tipe ini juga berubah. Produktivitas yang pernah disandang perlahan mulai surut sampai kemudian hilang sama sekali. Tidak ada lagi karya yang dihasilkan.

Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi karena kesibukan kerja, menulis tidak lagi memberikan keuntungan finansial, kalah dengan kehadiran para penulis baru, dan banyak sebab lainnya. Karyanya tidak lagi muncul. Namun demikian masyarakat pernah mengenalnya sebagai seorang penulis yang produktif.

 

Tipe keempaat adalah penulis yang pernah muncul dengan karyanya. Mungkin ia pernah menulis satu atau dua artikel. Bisa juga satu atau dua buku. Setelah itu tidak lagi ada karya yang terbit. Namun demikian sejarah mencatat bahwa penulis tipe ini pernah menorehkan karyanya.

Tipe kelima adalah penulis cita-cita. Ya, cita-citanya menjadi penulis. Namanya juga cita-cita, belum ada karyanya. Ia masih terus membangun cita-citanya, entah kapan akan terwujud.

Dalam perspektif berbeda, penulis buku produktif Nurul Chomaria membagi penulis menjadi beberapa kuadran. Menurut penulis lebih dari 70 judul buku tersebut, ada empat kuadran penulis. Kuadran pertama adalah penulis yang mau dan mampu. Di kuadran kedua, penulis yang tidak mampu tapi mau. Kuadran ketiga adalah penulis yang mampu tapi tidak mau. Adapun di kuadran keempat, adalah tidak mampu dan tidak mau. Jika kita sudah memahami di posisi mana kita, maka kita dapat menentukan langkah.

 

Dari paparan di atas kita dapat menginstropeksi diri termasuk ke dalam tipe dan kuadran mana. Namun yang lebih penting bukan tahu posisi tetapi apa yang akan kita  lakukan setelah mengetahui posisi diri kita.

 

Langkah ketiga adalah banyak membaca

Membaca merupakan SYARAT WAJIB untuk bisa menulis yang baik. Rasanya kecil kemungkinan orang bisa menulis yang baik jika tidak memiliki budaya membaca. Jangan dibayangkan membaca itu sebagai kerja berat, suntuk, dan tidak menarik.

Dr Ngainun Naim mempunyai kebiasaan membaca tidak terlalu lama. Paling sekitar 10-15 menit. Tetapi itu beliau lakukan beberapa kali saat sempat. Hingga dalam sehari beliau membaca minimal 10 halaman yang tentu saja jika sedang waktu senggang bisa membaca lebih banyak lagi.

Nah, kebiasaan membaca inilah yang membuat ide menulis itu mudah ditemukan dan kemudian dikembangkan.

 

Kunci keempat: Meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang

Semua orang memiliki kesibukan Dari hari ke hari kesibukan kita bukannya berkurang tetapi semakin bertambah Jika selalu menuruti kesibukan, kita tidak akan sempat untuk menulis

Karena itulah kunci untuk mengatasinya adalah LUANGKAN WAKTU, BUKAN MENUNGGU WAKTU LUANG

Jika kita menyempatkan waktu secara konsisten setengah jam sehari, itu sudah sangat luar biasa

Beliau menceritakan bahwa seorang sahabatnya yang seorang penulis sangat konsisten menyisihkan waktu menulis setiap hari. Ia tidak menulis di laptop. Ia menulis di HP. Setiap ada kesempatan, walau hanya 5 menit, ia menulis. Tidak selalu banyak yang bisa ditulis tetapi ia sangat istiqamah. Kini puluhan buku sudah ia hasilkan. Inilah buah istiqamah.

 

Kunci kelima: rajin mengamati, mencatat, dan mengolah menjadi tulisan

Menjadi penulis itu harus tajam mengasah pendengaran dan penglihatan. Perbedaan penulis dengan bukan penulis itu pada kemampuan mengangkat hal biasa menjadi berbeda.

Setelah mengamati, jangan lupa mencatat, sebab seorang penulis itu rajin mencatat apa yang ditemukan, lalu setelah itu diolah menjadi tulisan.

Jangan berpikir menghasilkan tulisan yang sempurna karena tugas penulis yang utama itu terus berproses menulis. Dan jika sudah konsisten menulis, maka kualitas akan mengikuti.

Intinya adalah terus berproses dengan menulis dan terus menulis

 

kunci keenam; belajar menulis kepada penulis

Belajarlah kepada para penulis karena pengalaman mereka sangat penting untuk memperkaya perspektif kita.

 

Pada sesi tanya jawab ada beberapa poin yang dapat disimpulkan, diantaranya yaitu :

1.      Kunci utama menulis hingga bisa menerbitkan buku solo agar tulisan dapat menarik pembaca dan tulisan kita tidak keluar dari tema. kunci adalah ATM; Amati, Tiru, dan Modifikasi. Ambil buku, lalu cermati.

 

2.      Istiqomah dalam menulis adalah soal komitmen seseorang. Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki tradisi menulis yang khas. Ada yang nyaman menulis tangan dan tetap menulis tangan sampai hari ini. Tapi ada juga yang tidak bisa menulis kalau tidak pakai laptop. Sebagian juga ada yang enjoy saja menulis melalui aplikasi ColorNote di HP. Intinya setiap orang memiliki CARA MENULIS YANG PALING NYAMAN. Sebuah pendapat mengatakan bahwa awal mula kebiasaan itu dari PAKSAAN. Jadi awalnya harus dipaksa dulu. Nanti kalau sudah sering akan menjadi terbiasa.

 

3.      Musuh terbesar menulis adalah diri sendiri. Kendalikanlah diri sendiri dan bangun rasa percaya diri jika ingin sukses menulis. Seperti dalam kaidah bahasa Arab disebutkan bahwa PERCAYA DIRI ITU DASAR SUKSES. Karena itu abaikanlah segala keraguan. Keraguan kada tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, kita malu tulisan kita belum bagus. Padahal orang juga tidak menilai begitu. Kadang kita takut salah. Padahal, tidak ada yang menilai salah. Teruslah berproses, tetap menulis

 

4.      Membaca itu diawali dari rasa suka. Seperti dalam membaca koran, setiap orang memiliki minat baca sesuai bidang yang disukai, karenanya membangun minat membaca bisa dilakukan dengan MEMILIH BIDANG YANG DISUKAI.

Terkait strategi membaca ada orang yang senang membaca sedikit demi sedikit. Ini disebut

dengan membaca dengan orientasi paham, bukan sekedar mengejar khatam.

            Kita bisa mencermati catatan sederhana dari Narasumber agar lebih jelasnya

            https://www.spirit-literasi.id/2020/10/membaca-bergizi.html.

 

5.      Jadikan menulis setiap hari menjadi tantangan. Tetap menulis meskipun berkali-kali ditolak penerbit, lama-lama akan ada juga yang dimuat atau diterbitkan. Kuncinya pede saja.

 

6.      Konsistensi dalam menulis

Menulislah dalam berbagai genre. Misalnya artikel jurnal ilmiah, artikel blog, esai di

berbagai portal, ada resensi buku, laporan penelitian, dan banyak jenisnya. Buatlah tulisan  

di kamar : SUDAHKAH MENULIS HARI INI?

            Narasumber menganggap literasi itu jalan hidup. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca pada

            link https://www.spirit-literasi.id/2021/09/literasi-sebagai-pilihan-hidup.html.

7.      Perbedaan menulis sebuah buku dengan menulis pada suatu lomba menulis.Menulis buku pun banyak jenisnya. Ada buku kumpulan esai. Ada buku kumpulan resume. Ada buku yang ilmiah murni penuh catatan kaki sehingga memusingkan.  Narasumber  menganjurkan Bapak ibu  mencermati buku demi buku. Jadi membaca itu jangan hanya membaca, tetapi biasakan kita membangun sikap kritis. Lihat isinya, cermati dan pertanyakan.

            Lomba juga ada banyak macamnya.

            Intinya orang akan disebut penulis kalau menulis.

            Karena sering menulis kadang kita disebut makhluk aneh.

            Link berikut berisi tulisan narasumber yang sangat menarik.

            : https://www.spirit-literasi.id/2021/07/menulis-dan-makluk-aneh.html.

 

8.      Tumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis meski terkadang muncul pikiran ketidakpercayaan bahwa tulisan yang akan kita buat bermanfaat atau bagus seperti orang lain.

Narasumber menceritakan pengalamannya merasa tidak percaya diri ketika tulisannya tidak juga dimuat di sebuah koran. Ketika suatu saat bertemu dengan redaktur koran tersebut pada sebuah seminar, beliau memberanikan diri untuk menanyakan sebab musabab tulisannya tidak juga dimuat.

            Sang redaktur menyarankan agar tetap mengirim terus tulisan, karena selalu ada banyak  

            artikel yang sampai ke meja redaktur.

Narasumber juga menceritakan pernah ditolak 10 kali untuk sebuah naskah. Namun beliau memberanikan diri untuk memperbaiki dan mengirimkan ke penerbit berbeda ternyata dalam hitungan minggu naskah tersebut diterima. Artinya kita jangan malu untuk mau memperbaiki tulisan kita.

 

Demikianlah materi pertemuan malam ini dari Dr. Ngainum Naim.

   

 Di penghujung acara moderator mengajak Bapak Ibu peserta yang masih ragu untuk menulis untuk mulai merubah mainset “menulis itu sulit” menjadi “menulis itu mudah”, semudah membuat status di medsos. Mulai membuat resume dengan gaya sendiri, menghindari copy paste secara utuh perkataan narasumber, mencoba membidik dan mengembangkan sudut terbaik yang menggelitik di hati kita.

 

Moderator juga menambahkan pentingnya meluruskan niat, meluangkan waktu untuk menulis dari 24 jam waktu yang kita miliki, dan menulis setiap hari untuk mengasah keterampilan kita

Jangan pula malu dan takut, berusahalah menuntaskan menulis resume malam ini juga agar terhindar dari rasa “punya hutang tulisan”.

 

Moderator berharap pelatihan dari narasumber malam ini bisa membuka  jendela cakrawala dunia kita dan makin semangat menggapai mimpi menerbitkan buku sendiri.

 

Sebelum menutup acara moderator berpesan agar potensi luar biasa yang dimiliki para peserta agar digali dan diasah. Seperti mutiara yang semakin digali, maka semakin berkilau. Temukan jati diri kita melalui tulisan. Biarlah tulisanmu menemui takdirnya. Tetap bersinergi, berbagi, dan menginspirasi negeri.

 

Selesai sudah pertemuan kali ini. Ada dua kalimat ajaib yang penting saya catat yaitu:

 

·         MINAT dan KEMAUAN BERLATIH yang menjadi kunci sukses dalam menulis. (Dr Ngainun Naim)

·         Sukses sendirian itu biasa, namun sukses berjamaah itu luar biasa. (Aam Nurhasanah)

 

 

 

Resume Pertemuan ke-11 Kiat menulis Cerita Fiksi



Rabu, 27 Oktober 2021

Resume pertemuan ke-11

Nara sumber :  Sudomo, S.Pt

Moderator :  Dail Ma’ruf

Tema :  Kiat menulis Cerita Fiksi



Tak terasa sudah pertemuan ke-11 lagi. Kelas Belajar Menulis bersama PGRI gelombang 22 ini bagai sekolah baru saja bagi saya. Setiap hari rasanya saya selalu tak pernah alpha membaca chat demi chat. Selalu saja ada kata-kata motivasi dari orang-orang yang tulus berbagi.

Dulu sepertinya mustahil bagi saya berteman dengan orang-orang baru setiap hari. “Make new friend everyday” bagai slogan beku saja. But now… segalanya berubah… dan menjadi mungkin. Seling sehari dua hari saya bisa belajar dari kawan-kawan, para guru luar biasa yang tak henti-henti memberi motivasi. Hari-hariku menjadi lebih berwarna... merona..

Malam ini acara kelas dipandu oleh bapak Dail Ma’ruf sebagai Moderator. Tema yang diangkat adalah “Kiat menulis Cerita Fiksi” bersama Narasumber Bapak guru Sudomo, S.Pt. Seorang guru IPA yang mengajar di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB. Selain aktif mengajar saat ini beliau masih mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Lombok Barat. Untuk mengisi waktu luang beliau juga menulis fiksi dan berbagi pengalaman selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak di web pribadi www.eigendomo.com

Karya fiksi beliau yang pernah dipublikasikan diantaranya Kumpulan flash fiction 123 kata tentang ibu dan perempuan berjudul CERMIN melalui jalur self-publishing di Nulisbuku.com tahun 2011; antologi flash fiction bersama penulis lainnya berjudul THE COFFEE SHOP CHRONICLES lewat penerbit PT By Pass tahun 2012; Kumpulan resume Kelas Menulis Gelombang 16 dalam bentuk Cerita Fiksi berjudul Pahlawan Literasi melalui Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan Depok 2021; Kumpulan naskah puisi darik tema karakter pendidikan dan profil pelajar Pancasila berjudul Bagimu (Anak) Negeri melalui penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan Depok 2021.                     

Sedangkan kiprah beliau dalam karya Non Fiksi diantaranya : Terpilih sebagai salah satu dari 10 Naskah Terbaik Pilihan dalam Sayembara Menulis Buku Bacaan Literasi Bagi Anak SD - SMP yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi NTB tahun 2019; Menjadi Juara II Lomba Menulis Cerita Rakyat Sasak Kategori Umum yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Lombok Barat tahun 2020; Menjadi 20 Terbaik Kategori Blog PTK dalam acara Proyek Akhir Aksi Nyata Kita Melawan Kekerasan Berbasis Gender yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2020.  

Berawal dari passion untuk menulis fiksi tahun 2009, Bapak guru Sudomo, S.Pt. akhirnya bergabung dengan komunitas menulis fiksi, mengikuti berbagai kompetisi, dan akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan tulisan fiksi. Beliaupun menekuninya melalui kelas-kelas menulis fiksi termasuk pernah lolos dalam seleksi workshop menulis cerpen Kompas.

Bapak Sudomo, S.Pt tercatat sebagai alumni Belajar Menulis Gelombang 16 asuhan Om Jay. Beliau sangat viral gara gara bikin resume dalam bertuk cerita fiksi. Awal mulanya beliau sebenarnya tidak berekspektasi apa-apa, hanya menulis resume dengan gaya yang disukai dan kuasainya. Rasa minder merasa 'berbeda' namun, ternyata direspons pembaca luar biasa  pembaca

Banyak yang suka. Mengapa? Ya..karena berbeda.

 Itulah sekilas tentang biodata Bapak guru Sudomo. Pt.

 

Memasuki sesi inti yaitu pemaparan materi, moderator membuka dengan sebuah pertanyaan yaitu apa bedanya cerita Fiksi dengan non Fiksi.

Sebelum menjelaskan narasumber melemparkan satu pertanyaan balik yang harus dijawab dengan jujur dalam hati oleh peserta menulis, "Mengapa kita harus menulis fiksi?"

Pertanyaan ini menjadi penting untuk memotivasi kita mulai menulis fiksi. Tentu saja aka nada beragam jawaban dari Bapak/Ibu peserta.

Narasumber kemudian menceritakan kalau beliau sudah suka sekali pada dongeng mulai dari kecil, bahkan beliau baru bisa tidur setelah diceritakan dongeng dulu.

Lebih lanjut menurut narasumber, banyak alasan mengapa kita harus bisa menulis fiksi. Beberapa hal penting di antaranya, yaitu terkait dengan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK)

Salah satu komponen dalam AKM atau ANBK adalah literasi, yaitu teks literasi fiksi.

Dengan mampu menulis cerita fiksi, seorang guru tentu akan lebih mudah membuat soal latihan AKM untuk muridnya. Dengan demikian guru tidak hanya mengandalkan soal latihan dari internet, tetapi bisa membuatnya sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dalam mengajar.

Lalu bagaimanakah cara membuat CERITA FIKSI?

Sahabat pembaca, dalam membuat cerita fiksi, kita harus memperhatikan hal-hal terkait menulis fiksi, yaitu syarat-syarat menulis fiksi dan unsur pembentuk cerita fiksi.

Secara umum syarat menulis cerita fiksi sama dengan syarat-syarat menulis bentuk lainnya. Bedanya terletak pada kebiasaan kita sebagai penulis untuk mengembangkan imajinasi, karenanya kita harus rajin membaca cerita fiksi agar menghadirkan banyak pengalaman dan pemahaman hal baru terkait menulis cerita fiksi. Diibaratkan jika kita mau keluarkan energi, maka harus cukup asupan gizinya. Tetapi tidak cukup membaca saja tentunya. Harus disertai dengan latihan menuliskannya.

Bentuk cerita fiksi bermacam-macam. 

Yang umum kita kenal adalah cerpen dan novel.

Bentuk cerita fiksi kebanyakan perbedaan terletak pada jumlah kata dan kompleksitas konflik cerita. Cerpen biasanya hanya satu konflik, sedangkan novel lebih rumit konfliknya. Bentuk-bentuk lain masih banyak lagi. Ada fiksimini, flashfiction, pentigraf, novelet, novela

Narasumber menjelaskan bahwa tulisan fiksinya berawal dari fiksimini yang dibuatnya di twiter, yaitu fiksi singkat beberapa kata, tetapi merupakan cerita utuh. Meskipun fiksimini sangat singkat tetapi idealnya harus ada 5 unsur cerita yaitu tema, alur, tokoh, latar dan konflik.

Contoh fiksimini dari narasumber :



Sahabat pembaca, perlu kita ketahui, ada beberapa unsur-unsur pembentuk cerita fiksi di antaranya, yaitu tema, premis, latar/setting, tokoh, alur/plot, dan sudut pandang.

Berikut adalah penjelasannya:

1. Tema

   Tema adalah ide pokok cerita;

   Tips menentukan tema adalah: dekat dengan penulis, menarik perhatian  penulis, bahan mudah            diperoleh, dan ruang lingkup terbatas;

  Cara menentukan tema: Menyesuaikan dengan minat, mengangkat kehidupan nyata, berimajinasi, membaca, dan mendengarkan curahan hati;

  Contoh Tema adalah : Berkah kejujuran; Pendidikan dan kemiskinan; Persahabatan tiga anak SD;          Pengalaman siswa selama Belajar di Rumah; Perjuangan guru selama Pembelajaran Jarak Jauh

Premis

·  i   Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat;

       Unsur-unsur premis adalah: karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi;

·          Cara membuat premis: tulis masing-masing unsur pembentuknya kemudian rangkai menjadi satu            kalimat utuh;

        Contoh Premis: 

      Seorang anak SD mengajak dua orang temannya melakukan perjalanan ke rumah kakeknya dan           berusaha memperoleh pemahaman tentang materi IPA

 2. Alur/Plot

·         Struktur rangkaian kejadian dalam cerita;

·         Macam-macam alur: Alur maju, alur mundur, alur campuran, alur flashback, dan alur kronologis;

·         Unsur-unsur alur/plot: Pengenalan cerita, Awal konflik, Menuju konflik, Konflik memuncak/klimaks,     Penyelesaian/ending;

·         Unsur-unsur alur/plot tersebut urutannya bisa diubah tergantung pada jenis alur yang dipilih.



 3. Penokohan

·         Penjelasan selangkah demi selangkah penjelasan detail karakter dalam cerita;

·         Macam-macam tokoh: protagonis, antagonis, dan tritagonis;

·      Teknik penggambaran tokoh: analitik, fisik dan perilaku tokoh, lingkungan tokoh, tata bahasa tokoh,    dan penggambaran oleh tokoh lain.

4. Latar/Setting

·         Penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita;

·         Jenis-jenis latar: latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar material, dan latar integral.

5. Sudut Pandang

 Sudut pandang adalah cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita;

·     Macam-macam sudut pandang: Orang Pertama Tunggal, Orang Pertama Jamak, Orang Kedua, Orang Ketiga Tunggal, Orang Ketiga Jamak, dan Campuran

 

Lalu bagaimana proses kreatif menulis cerita fiksi?

Beberapa tahap yang dapat kita susun agar menghasilkan cerita fiksi yang baik adalah :

1. Niat: Motivasi diri untuk memulai dan menyelesaikan tulisan

2. Baca Fiksi orang lain: Upaya menemukan bahan belajar/referensi berupa ide, pemilihan kata,  

    serta gaya dan teknik penulisan.

3. Ide dan genre:

    * Segera catat saat ide mendadak muncul

    * Menemukan ide dengan cara mengembangkan imajinasi

    * Pemilihan genre disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai

4. Outline

   * Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi

   * Menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita

   * Membuat premis sesuai tema

   * Menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya

   * Menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh

      dengan baik

   *Menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail

   * Memilih sudut pandang penceritaan yang unik

Outline atau kerangka karangan dibuat agar saat menuangkan tulisan tidak terasa sulit dan menghasilkan cerpen yang runtut. Hal ini juga akan memudahkan kita dalam mengembangkan alur dalam cerpen.

5. Menulis

    * Membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik)

    * Melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik dengan cara memaparkan secara jelas

       kepada pembaca

    *Menguatkan sisi konflik internal dan eksternal tokoh

    * Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi

    * Memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas

    * Memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi)

    * Membuat ending yang baik

6. Swasunting

    * Dilakukan setelah selesai menulis;

    * Jangan menulis sambil mengedit;

    * Memfokuskan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan istilah,

       aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita;

    *Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting

       tulisan sendiri;

    *Jangan lupa menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan

      Bahasa Indonesia (PUEBI).

 Itulah langkah-langkah yang harus kita lalui dalam proses pembuatan sebuah naskah cerita fiksi.

 Perlu diingat bahwa salah satu trik agar cerita kita enak dibaca dan seru adalah melibatkan pembaca dalam tulisan kita. Teknik ini bisa menggunakan pakai show don't tell.

Sahabat pembaca, passion terhadap jenis tulisan sejatinya akan kita temukan seiring waktu. Memang tidak serta merta, tetapi butuh proses. Yang bisa mengetahuinya ya saat kita bisa menyadarinya kita lebih suka pada jenis tulisan yang mana. Terkait tema yang dekat dengan penulis, kita ambil contoh seorang guru, tentu akan lebih mudah menuliskannya jika kita membuat cerita fiksi tentang guru dan murid.

Uniknya, pada cerita fiksi yang terinspirasi dari pengalaman hidup. Kita sebagai penulis bisa numpang curhat lewat tulisan. Agar 'sembunyi' lebih aman, kita bisa mengganti tokoh, latar atau sudut pandang. Kita pakai temanya saja kemudian tambahkan bumbu-bumbu penyedap biar lebih dramatis dan enak dibaca.

Kita tentu pernah merasakan pada saat membaca novel,  terkadang kita seolah ikut masuk kedalam cerita. Rasa sedih, takut, bahkan seolah ikut dalam petualangan si tokoh cerita yg seperti nyata. Sensasi ini menimbulkan ketagihan untuk membacanya.  Sensasi seperti ini terkait dengan teknik show don't tell. Jadi kalau misalnya kita menggambarkan tokoh sedang sedih, kita bisa menuliskan sedihnya seperti apa tanpa harus menuliskan langsung bahwa tokoh sedang sedih. Namun, dari tulisan kita, pembaca tahu bahwa tokoh kita sedang sedih. Ini memang tidak mudah. Membutuhkan kebiasaan terus mengasahnya dengan cara terus belajar menulis.

Oh ya, seperti kita ketahui sebelumnya dari uraian di atas bahwa premis secara sederhana adalah ringkasan cerita utuh dalam satu kalimat. Artinya hanya dengan membaca premis, kita bisa mengetahui cerita secara keseluruhan. Misalnya novel Harry Potter. Premisnya adalah seorang anak yang pandai sihir harus berjuang melawan penyihir jahat demi kedamaian dunia. Kedekatan premis dengan tema, premis adalah pengembangan tema. Alur tambahan bebas ditambahkan asal sesuai dengan outline atau kerangka karangan yang sudah kita susun. Setiap masalah tokoh harus selesai. Hal ini karena ini merupakan syarat sebuah cerita. Cerita Harry potter ini pernah merajai di semua negara, anak-anak dan remaja bahkan dewasa membacanya dikarenakan teknik penulisan yang menarik dan temanya pas dan cocok dibaca oleh semua umur.

Saat ini cerita korea lebih digemari anak dan remaja kita masa kini dikarenakan tema drama Korea sangat dekat dengan kehidupan anak dan remaja masa kini. Upaya kita agar generasi muda mau membaca dengan karya kita yaitu dengan berusaha menghasilkan cerita fiksi yang lebih menarik bagi anak dan remaja. Dengan pendekatan pada hal-hal keseharian dan konflik-konflik yang seru akan membuat mereka suka pada cerita karya anak bangsa.

Sahabat pembaca, cerita fiksi juga bisa dikaitkan dengan nilai-nilai agama, misalnya terkait dengan tuntunan ibadah yang bisa menjadi tema tulisan cerita fiksi.

Novel sekarang trennya roman dan horor. Roman karena memang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika pembaca senang dengan cerita roman bisa diintip di  https://eigendomo.com/karya-bianglala/

Manfaat yang dirasakan dengan jadi penulis cerita Fiksi adalah selain 'koin' juga 'poin'. Manfaat 'koin' adanya royalti penerbitan buku fiksi. Sedangkan 'poin' adalah bisa berbagi dan belajar menulis fiksi dari teman-teman lainnya.

Demikian paparan yang sangat padat dan menginspirasi dari bapak Narasumber.

Akhirul kalam Narasumber menutup kuliah malam ini dengan quotes 

                             “Belajar terus, seterusnya pembelajar”

Begitulah resume yang dapat saya susun dari pertemuan malam ini.  

Saya tutup dengan fiksimini pertamaku 

Rumah Baru

Sudah selesai kang.., kedua kakak beradik itu memandang puas pilar-pilar penyangga rumah mereka. suara kendaraan merk terbaru berseliweran cukup gaduh. Ini dik.. kardus buatmu.. kita bisa tidur nyenyak malam ini. (September, 2021)

  

 

Resume ke-7 Mengatasi Writer’s Block

  Senin , 18 Oktober 2021 Resume pertemuan ke-7 Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. Moderator : Maesaroh Materi : Mengatasi W...