Sunday, December 5, 2021

resume Pertemuan ke-10 Menulis Itu Mudah

 

Senin, 25 Oktober 2021

Resume pertemuan ke-10

Nara sumber : Dr. Ngainun Naim

Moderator : Aam Nurhasanah

Materi : Menulis Itu Mudah




Sehari selembar benang

Lama-lama menjadi kain

Sehari selembar tulisan

Lama-lama menjadi buku

(terjemahan bebas .. he he..)

 

Senin malam ini adalah pertemuan yang ke-10 kegiatan Belajar Menulis bersama PGRI Gelombang 22. Pelatihan kali ini dipandu oleh bu Aam Nurhasanah sebagai moderator dan Bapak Dr. Ngainum Naim sebagai Narasumber dengan tema “Menulis Itu Mudah”.

 

Bu Aam mengingatkan peserta bahwa tak terasa malam ini sudah pertemuan ke-10, artinya, ada 10 pertemuan ke depan untuk menjadi syarat menerbitkan buku hasil resume Bapak Ibu peserta pelatihan. Semoga Bapak Ibu peserta pelatihan Belajar Menulis bersama PGRI gelombang 22 ini dapat berhasil mewujudkan buku solonya dengan semangat yang tak pernah putus meskipun beratnya godaan melawan rasa malas menulis.

Narasumber malam ini adalah seorang dosen dan doktor di IAIN Tulungagung. Beliau pula lah yang pernah memberikan kata sambutan dibuku solo kedua bu Aam Nurhasanah yang berjudul Kunci Sukses Menjadi Moderator Online. Narasumber juga mengelola sebuah komunitas menulis dengan nama Komunitas Sahabat Pena Kita(SPK) dimana ibu Aam menjadi salah satu anggotanya, dan  melalui komunitas ini bu Aam berhasil melahirkan satu antologi.

 

Adapun profil dan riwayat pendidikan yang dilalui oleh Dr. Ngainum Naim yaitu beliau pernah bersekolah di SDN Sambidoplang Sumbergempol Tulungagung, lulus tahun 1988, lalu melanjutkan ke MTsN Tunggangri Kalidawir Tulungagung, lulus tahun 199, kemudian dilanjutkan ke MAN Denanyar Jombang, lulus tahun 1994, dan mengambil perkuliahan di S-1  STAIN Tulungagung, lulus 1998. Beliau kemudian melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu S-2  Studi Islam Universitas Islam Malang (UNISMA), lulus tahun 2002. Dan terakhir beliau tercatat sebagai mahasiswa S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lulus tahun 2011

 

Beberapa diantara puluhan karya tulisan beliau diantaranya :

Menulis Itu Mudah (2021)

Aktualisasi Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).

Literasi dari Brunei Darussalam (Akademia Pustaka, 2020).

Spirit Literasi (Akademia Pustaka, 2019).

 

Selain itu buku-buku bernuansa Islam karangan beliaupun cukup banyak, diantaranya :

Islam dan Pluralisme Agama (Yogyakarta: Aura Pustaka, 2014).

Self Development: Personal, Sosial, dan Spiritual (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2015).

35 Kompasianer Merajut Indonesia (buku bersama) (Jakarta: Kompas, 2013).

Merajut Kerukunan Antarumat Beragama (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2012).

Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Gre Publishing, 2011).

Sejarah Pemikiran Hukum Islam (Yogyakarta: Teras, 2009).

 

 

 

Menurut Dr. Ngainun Naim, “Menulis itu jika sudah menjadi budaya akan luar biasa”.

Awal tahun 2021 beliau menerbitkan sebuah buku dengan judul ‘Menulis itu mudah’ yang berisi kiat-kiat bagaimana kita bisa menekuni dan menjalani dunia menulis.

Apa betul menulis itu mudah? Jawaban sederhananya: mudah. Tapi dengan catatan yaitu mudah bagi yang sudah bisa. Bagi yang belum bisa, tentu sulit.

 

Bagaimana caranya agar menulis itu mudah?

Berikut adalah tips dari Dr Ngainum Naim :  

Langkah yang pertama adalah mindset atau setingan pikiran kita yaitu kita hatus menciptakan atau mensetting bahwa menulis itu mudah. Jadi ciptakan pikiran bahwa menulis itu mudah.

Bagaimana jika kenyataannya tetap sulit? Paling tidak mindset “mudah”  akan  membantu kita tetap optimis untuk mewujudkan bahwa menulis itu tidak sulit

 

Langkah Kedua: ciptakan pikiran jika menulis itu keterampilan SEKOLAH DASAR.

Menulis sesungguhnya tidak selalu butuh pendidikan yang tinggi-tinggi. Keterampilan menulis itu merupakan keterampilan tingkat sekolah dasar.

Menulis harus dimulai dari keyakinan. Tanpa keyakinan, orang tidak akan bisa menulis. Jika seseorang ingin bisa menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang besar dan kemauan berlatih. Perpaduan dua hal ini yang bisa membuat seseorang menjadi penulis. Nah, dari sini jelas bahwa MINAT dan KEMAUAN BERLATIH yang menjadi kunci sukses dalam menulis. Pendidikan bukan jaminan

Sebagai contoh Narasumber baru membuat catatan sederhana tentang tipe dan kuadran menulis melalui link :

  https://www.spirit-literasi.id/2021/10/tipe-dan-kuadran-menulis.html.

 

Adapun paparan singkatnya adalah sebagai berikut:

Dunia menulis memang unik. Setiap orang yang menekuni dunia menulis selalu memiliki pengalaman personal yang unik. Ada suka duka, pengalaman mengesankan, dan banyak hal yang tidak mudah untuk diceritakan.

Secara sederhana orang yang menekuni dunia menulis bisa dibedakan menjadi beberapa tipe.

Tipe pertama adalah mereka yang terus bertahan, berproses, dan menekuni dunia menulis sejak mulai berkiprah sampai sekarang. Bagi penulis tipe ini, menulis sudah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan. Hari-harinya diisi dengan terus menulis dan menghasilkan karya. Cara kerjanya konsisten.

Penulis tipe pertama ini tidak kenal musim. Orangnya selalu bisa eksis meskipun zaman berubah. Karyanya terus saja muncul seolah tidak kenal jeda. Bagi kelompok ini, tugas penulis adalah menulis dan menulis.

 

Tipe kedua adalah penulis musiman. Maksudnya, ia produktif menulis tidak setiap saat tetapi bergantung kepada momentum. Bagi dosen, mereka baru produktif menjelang deadline laporan kinerja, deadline laporan penelitian, dan deadline lainnya. Saat semacam ini mereka sangat produktif. Setelah tugas selesai, menulis juga berhenti.

Profesi lainnya juga sama. Bagi tipe ini, dorongan eksternal menjadi penentu kinerja. Ketika tidak ada dorongan, aktivitas menulis cenderung pasif.

 

Tipe ketiga adalah penulis yang pernah produktif. Pada suatu masa, tipe ini sangat produktif dalam menghasilkan karya. Tulisan demi tulisannya terus saja bermunculan. Banyak orang yang mengagumi produktivitasnya.

Namun zaman berubah. Kehidupan penulis tipe ini juga berubah. Produktivitas yang pernah disandang perlahan mulai surut sampai kemudian hilang sama sekali. Tidak ada lagi karya yang dihasilkan.

Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi karena kesibukan kerja, menulis tidak lagi memberikan keuntungan finansial, kalah dengan kehadiran para penulis baru, dan banyak sebab lainnya. Karyanya tidak lagi muncul. Namun demikian masyarakat pernah mengenalnya sebagai seorang penulis yang produktif.

 

Tipe keempaat adalah penulis yang pernah muncul dengan karyanya. Mungkin ia pernah menulis satu atau dua artikel. Bisa juga satu atau dua buku. Setelah itu tidak lagi ada karya yang terbit. Namun demikian sejarah mencatat bahwa penulis tipe ini pernah menorehkan karyanya.

Tipe kelima adalah penulis cita-cita. Ya, cita-citanya menjadi penulis. Namanya juga cita-cita, belum ada karyanya. Ia masih terus membangun cita-citanya, entah kapan akan terwujud.

Dalam perspektif berbeda, penulis buku produktif Nurul Chomaria membagi penulis menjadi beberapa kuadran. Menurut penulis lebih dari 70 judul buku tersebut, ada empat kuadran penulis. Kuadran pertama adalah penulis yang mau dan mampu. Di kuadran kedua, penulis yang tidak mampu tapi mau. Kuadran ketiga adalah penulis yang mampu tapi tidak mau. Adapun di kuadran keempat, adalah tidak mampu dan tidak mau. Jika kita sudah memahami di posisi mana kita, maka kita dapat menentukan langkah.

 

Dari paparan di atas kita dapat menginstropeksi diri termasuk ke dalam tipe dan kuadran mana. Namun yang lebih penting bukan tahu posisi tetapi apa yang akan kita  lakukan setelah mengetahui posisi diri kita.

 

Langkah ketiga adalah banyak membaca

Membaca merupakan SYARAT WAJIB untuk bisa menulis yang baik. Rasanya kecil kemungkinan orang bisa menulis yang baik jika tidak memiliki budaya membaca. Jangan dibayangkan membaca itu sebagai kerja berat, suntuk, dan tidak menarik.

Dr Ngainun Naim mempunyai kebiasaan membaca tidak terlalu lama. Paling sekitar 10-15 menit. Tetapi itu beliau lakukan beberapa kali saat sempat. Hingga dalam sehari beliau membaca minimal 10 halaman yang tentu saja jika sedang waktu senggang bisa membaca lebih banyak lagi.

Nah, kebiasaan membaca inilah yang membuat ide menulis itu mudah ditemukan dan kemudian dikembangkan.

 

Kunci keempat: Meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang

Semua orang memiliki kesibukan Dari hari ke hari kesibukan kita bukannya berkurang tetapi semakin bertambah Jika selalu menuruti kesibukan, kita tidak akan sempat untuk menulis

Karena itulah kunci untuk mengatasinya adalah LUANGKAN WAKTU, BUKAN MENUNGGU WAKTU LUANG

Jika kita menyempatkan waktu secara konsisten setengah jam sehari, itu sudah sangat luar biasa

Beliau menceritakan bahwa seorang sahabatnya yang seorang penulis sangat konsisten menyisihkan waktu menulis setiap hari. Ia tidak menulis di laptop. Ia menulis di HP. Setiap ada kesempatan, walau hanya 5 menit, ia menulis. Tidak selalu banyak yang bisa ditulis tetapi ia sangat istiqamah. Kini puluhan buku sudah ia hasilkan. Inilah buah istiqamah.

 

Kunci kelima: rajin mengamati, mencatat, dan mengolah menjadi tulisan

Menjadi penulis itu harus tajam mengasah pendengaran dan penglihatan. Perbedaan penulis dengan bukan penulis itu pada kemampuan mengangkat hal biasa menjadi berbeda.

Setelah mengamati, jangan lupa mencatat, sebab seorang penulis itu rajin mencatat apa yang ditemukan, lalu setelah itu diolah menjadi tulisan.

Jangan berpikir menghasilkan tulisan yang sempurna karena tugas penulis yang utama itu terus berproses menulis. Dan jika sudah konsisten menulis, maka kualitas akan mengikuti.

Intinya adalah terus berproses dengan menulis dan terus menulis

 

kunci keenam; belajar menulis kepada penulis

Belajarlah kepada para penulis karena pengalaman mereka sangat penting untuk memperkaya perspektif kita.

 

Pada sesi tanya jawab ada beberapa poin yang dapat disimpulkan, diantaranya yaitu :

1.      Kunci utama menulis hingga bisa menerbitkan buku solo agar tulisan dapat menarik pembaca dan tulisan kita tidak keluar dari tema. kunci adalah ATM; Amati, Tiru, dan Modifikasi. Ambil buku, lalu cermati.

 

2.      Istiqomah dalam menulis adalah soal komitmen seseorang. Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki tradisi menulis yang khas. Ada yang nyaman menulis tangan dan tetap menulis tangan sampai hari ini. Tapi ada juga yang tidak bisa menulis kalau tidak pakai laptop. Sebagian juga ada yang enjoy saja menulis melalui aplikasi ColorNote di HP. Intinya setiap orang memiliki CARA MENULIS YANG PALING NYAMAN. Sebuah pendapat mengatakan bahwa awal mula kebiasaan itu dari PAKSAAN. Jadi awalnya harus dipaksa dulu. Nanti kalau sudah sering akan menjadi terbiasa.

 

3.      Musuh terbesar menulis adalah diri sendiri. Kendalikanlah diri sendiri dan bangun rasa percaya diri jika ingin sukses menulis. Seperti dalam kaidah bahasa Arab disebutkan bahwa PERCAYA DIRI ITU DASAR SUKSES. Karena itu abaikanlah segala keraguan. Keraguan kada tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, kita malu tulisan kita belum bagus. Padahal orang juga tidak menilai begitu. Kadang kita takut salah. Padahal, tidak ada yang menilai salah. Teruslah berproses, tetap menulis

 

4.      Membaca itu diawali dari rasa suka. Seperti dalam membaca koran, setiap orang memiliki minat baca sesuai bidang yang disukai, karenanya membangun minat membaca bisa dilakukan dengan MEMILIH BIDANG YANG DISUKAI.

Terkait strategi membaca ada orang yang senang membaca sedikit demi sedikit. Ini disebut

dengan membaca dengan orientasi paham, bukan sekedar mengejar khatam.

            Kita bisa mencermati catatan sederhana dari Narasumber agar lebih jelasnya

            https://www.spirit-literasi.id/2020/10/membaca-bergizi.html.

 

5.      Jadikan menulis setiap hari menjadi tantangan. Tetap menulis meskipun berkali-kali ditolak penerbit, lama-lama akan ada juga yang dimuat atau diterbitkan. Kuncinya pede saja.

 

6.      Konsistensi dalam menulis

Menulislah dalam berbagai genre. Misalnya artikel jurnal ilmiah, artikel blog, esai di

berbagai portal, ada resensi buku, laporan penelitian, dan banyak jenisnya. Buatlah tulisan  

di kamar : SUDAHKAH MENULIS HARI INI?

            Narasumber menganggap literasi itu jalan hidup. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca pada

            link https://www.spirit-literasi.id/2021/09/literasi-sebagai-pilihan-hidup.html.

7.      Perbedaan menulis sebuah buku dengan menulis pada suatu lomba menulis.Menulis buku pun banyak jenisnya. Ada buku kumpulan esai. Ada buku kumpulan resume. Ada buku yang ilmiah murni penuh catatan kaki sehingga memusingkan.  Narasumber  menganjurkan Bapak ibu  mencermati buku demi buku. Jadi membaca itu jangan hanya membaca, tetapi biasakan kita membangun sikap kritis. Lihat isinya, cermati dan pertanyakan.

            Lomba juga ada banyak macamnya.

            Intinya orang akan disebut penulis kalau menulis.

            Karena sering menulis kadang kita disebut makhluk aneh.

            Link berikut berisi tulisan narasumber yang sangat menarik.

            : https://www.spirit-literasi.id/2021/07/menulis-dan-makluk-aneh.html.

 

8.      Tumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis meski terkadang muncul pikiran ketidakpercayaan bahwa tulisan yang akan kita buat bermanfaat atau bagus seperti orang lain.

Narasumber menceritakan pengalamannya merasa tidak percaya diri ketika tulisannya tidak juga dimuat di sebuah koran. Ketika suatu saat bertemu dengan redaktur koran tersebut pada sebuah seminar, beliau memberanikan diri untuk menanyakan sebab musabab tulisannya tidak juga dimuat.

            Sang redaktur menyarankan agar tetap mengirim terus tulisan, karena selalu ada banyak  

            artikel yang sampai ke meja redaktur.

Narasumber juga menceritakan pernah ditolak 10 kali untuk sebuah naskah. Namun beliau memberanikan diri untuk memperbaiki dan mengirimkan ke penerbit berbeda ternyata dalam hitungan minggu naskah tersebut diterima. Artinya kita jangan malu untuk mau memperbaiki tulisan kita.

 

Demikianlah materi pertemuan malam ini dari Dr. Ngainum Naim.

   

 Di penghujung acara moderator mengajak Bapak Ibu peserta yang masih ragu untuk menulis untuk mulai merubah mainset “menulis itu sulit” menjadi “menulis itu mudah”, semudah membuat status di medsos. Mulai membuat resume dengan gaya sendiri, menghindari copy paste secara utuh perkataan narasumber, mencoba membidik dan mengembangkan sudut terbaik yang menggelitik di hati kita.

 

Moderator juga menambahkan pentingnya meluruskan niat, meluangkan waktu untuk menulis dari 24 jam waktu yang kita miliki, dan menulis setiap hari untuk mengasah keterampilan kita

Jangan pula malu dan takut, berusahalah menuntaskan menulis resume malam ini juga agar terhindar dari rasa “punya hutang tulisan”.

 

Moderator berharap pelatihan dari narasumber malam ini bisa membuka  jendela cakrawala dunia kita dan makin semangat menggapai mimpi menerbitkan buku sendiri.

 

Sebelum menutup acara moderator berpesan agar potensi luar biasa yang dimiliki para peserta agar digali dan diasah. Seperti mutiara yang semakin digali, maka semakin berkilau. Temukan jati diri kita melalui tulisan. Biarlah tulisanmu menemui takdirnya. Tetap bersinergi, berbagi, dan menginspirasi negeri.

 

Selesai sudah pertemuan kali ini. Ada dua kalimat ajaib yang penting saya catat yaitu:

 

·         MINAT dan KEMAUAN BERLATIH yang menjadi kunci sukses dalam menulis. (Dr Ngainun Naim)

·         Sukses sendirian itu biasa, namun sukses berjamaah itu luar biasa. (Aam Nurhasanah)

 

 

 

2 comments:

  1. Alhamdulillah... Makasih ilmunya... Semangat selalu...

    ReplyDelete
  2. semangat miss, selalu istiqomah, tetap percaya diri, pasti bisa..

    ReplyDelete

Resume ke-7 Mengatasi Writer’s Block

  Senin , 18 Oktober 2021 Resume pertemuan ke-7 Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr. Moderator : Maesaroh Materi : Mengatasi W...