Rabu, 27 Oktober 2021
Resume pertemuan ke-11
Nara sumber : Sudomo, S.Pt
Moderator : Dail Ma’ruf
Tema :
Kiat menulis Cerita Fiksi
Tak terasa sudah pertemuan ke-11 lagi. Kelas Belajar Menulis bersama PGRI gelombang 22 ini bagai sekolah baru saja bagi saya. Setiap hari rasanya saya selalu tak pernah alpha membaca chat demi chat. Selalu saja ada kata-kata motivasi dari orang-orang yang tulus berbagi.
Dulu sepertinya mustahil bagi saya berteman dengan orang-orang baru setiap hari. “Make new friend everyday” bagai slogan beku saja. But now… segalanya berubah… dan menjadi mungkin. Seling sehari dua hari saya bisa belajar dari kawan-kawan, para guru luar biasa yang tak henti-henti memberi motivasi. Hari-hariku menjadi lebih berwarna... merona..
Malam ini acara kelas dipandu oleh bapak Dail Ma’ruf sebagai Moderator. Tema yang diangkat adalah “Kiat menulis Cerita Fiksi” bersama Narasumber Bapak guru Sudomo, S.Pt. Seorang guru IPA yang mengajar di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB. Selain aktif mengajar saat ini beliau masih mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Lombok Barat. Untuk mengisi waktu luang beliau juga menulis fiksi dan berbagi pengalaman selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak di web pribadi www.eigendomo.com
Karya fiksi beliau yang pernah dipublikasikan diantaranya Kumpulan flash fiction 123 kata tentang ibu dan perempuan berjudul CERMIN melalui jalur self-publishing di Nulisbuku.com tahun 2011; antologi flash fiction bersama penulis lainnya berjudul THE COFFEE SHOP CHRONICLES lewat penerbit PT By Pass tahun 2012; Kumpulan resume Kelas Menulis Gelombang 16 dalam bentuk Cerita Fiksi berjudul Pahlawan Literasi melalui Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan Depok 2021; Kumpulan naskah puisi darik tema karakter pendidikan dan profil pelajar Pancasila berjudul Bagimu (Anak) Negeri melalui penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan Depok 2021.
Sedangkan kiprah beliau dalam karya Non Fiksi diantaranya : Terpilih sebagai salah satu dari 10 Naskah Terbaik Pilihan dalam Sayembara Menulis Buku Bacaan Literasi Bagi Anak SD - SMP yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi NTB tahun 2019; Menjadi Juara II Lomba Menulis Cerita Rakyat Sasak Kategori Umum yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Lombok Barat tahun 2020; Menjadi 20 Terbaik Kategori Blog PTK dalam acara Proyek Akhir Aksi Nyata Kita Melawan Kekerasan Berbasis Gender yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2020.
Berawal dari passion untuk menulis fiksi
tahun 2009, Bapak guru Sudomo, S.Pt. akhirnya bergabung dengan komunitas menulis fiksi, mengikuti
berbagai kompetisi, dan akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan tulisan fiksi.
Beliaupun menekuninya melalui kelas-kelas menulis fiksi termasuk pernah lolos
dalam seleksi workshop menulis cerpen Kompas.
Bapak Sudomo, S.Pt tercatat sebagai alumni
Belajar Menulis Gelombang 16 asuhan Om Jay. Beliau sangat viral gara gara bikin
resume dalam bertuk cerita fiksi. Awal mulanya beliau sebenarnya tidak
berekspektasi apa-apa, hanya menulis resume dengan gaya yang disukai dan kuasainya.
Rasa minder merasa 'berbeda' namun, ternyata direspons pembaca luar biasa pembaca
Banyak yang suka. Mengapa? Ya..karena
berbeda.
Memasuki sesi inti yaitu pemaparan materi, moderator membuka dengan sebuah pertanyaan yaitu apa bedanya cerita Fiksi dengan non Fiksi.
Sebelum menjelaskan narasumber melemparkan
satu pertanyaan balik yang harus dijawab dengan jujur dalam hati oleh peserta
menulis, "Mengapa kita harus menulis fiksi?"
Pertanyaan ini menjadi penting untuk memotivasi kita mulai menulis fiksi. Tentu saja aka nada beragam jawaban dari Bapak/Ibu peserta.
Narasumber kemudian menceritakan kalau beliau sudah suka sekali pada dongeng mulai dari kecil, bahkan beliau baru bisa tidur setelah diceritakan dongeng dulu.
Lebih lanjut menurut narasumber, banyak
alasan mengapa kita harus bisa menulis fiksi. Beberapa hal penting di
antaranya, yaitu terkait dengan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK)
Salah satu komponen dalam AKM atau ANBK
adalah literasi, yaitu teks literasi fiksi.
Dengan mampu menulis cerita fiksi, seorang
guru tentu akan lebih mudah membuat soal latihan AKM untuk muridnya. Dengan
demikian guru tidak hanya mengandalkan soal latihan dari internet, tetapi bisa membuatnya
sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dalam mengajar.
Lalu bagaimanakah cara membuat CERITA
FIKSI?
Sahabat pembaca, dalam membuat cerita fiksi, kita harus
memperhatikan hal-hal terkait menulis fiksi, yaitu syarat-syarat menulis fiksi
dan unsur pembentuk cerita fiksi.
Secara umum syarat menulis cerita fiksi sama
dengan syarat-syarat menulis bentuk lainnya. Bedanya terletak pada kebiasaan
kita sebagai penulis untuk mengembangkan imajinasi, karenanya kita harus rajin
membaca cerita fiksi agar menghadirkan banyak pengalaman dan pemahaman hal baru
terkait menulis cerita fiksi. Diibaratkan jika kita mau keluarkan energi, maka
harus cukup asupan gizinya. Tetapi tidak cukup membaca saja tentunya. Harus
disertai dengan latihan menuliskannya.
Bentuk cerita fiksi bermacam-macam.
Yang umum kita kenal adalah cerpen dan novel.
Bentuk cerita fiksi kebanyakan perbedaan terletak pada jumlah kata dan kompleksitas konflik cerita. Cerpen biasanya hanya satu konflik, sedangkan novel lebih rumit konfliknya. Bentuk-bentuk lain masih banyak lagi. Ada fiksimini, flashfiction, pentigraf, novelet, novela
Narasumber menjelaskan bahwa tulisan fiksinya berawal dari fiksimini yang dibuatnya di twiter, yaitu fiksi singkat beberapa kata, tetapi merupakan cerita utuh. Meskipun fiksimini sangat singkat tetapi idealnya harus ada 5 unsur cerita yaitu tema, alur, tokoh, latar dan konflik.
Contoh fiksimini dari narasumber :
Sahabat pembaca, perlu kita ketahui, ada beberapa unsur-unsur pembentuk cerita fiksi di antaranya, yaitu tema, premis, latar/setting, tokoh, alur/plot, dan sudut pandang.
Berikut adalah penjelasannya:
1. Tema
Tema adalah ide pokok cerita;
Tips menentukan tema adalah: dekat dengan
penulis, menarik perhatian penulis,
bahan mudah diperoleh, dan ruang lingkup terbatas;
Cara menentukan tema: Menyesuaikan
dengan minat, mengangkat kehidupan nyata, berimajinasi, membaca, dan mendengarkan
curahan hati;
Contoh Tema adalah : Berkah kejujuran; Pendidikan dan kemiskinan; Persahabatan tiga anak SD; Pengalaman siswa selama Belajar di Rumah; Perjuangan guru selama Pembelajaran Jarak Jauh
Premis
· i Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat;
Unsur-unsur premis adalah: karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi;
· Cara membuat premis: tulis masing-masing unsur pembentuknya kemudian rangkai menjadi satu kalimat utuh;
Contoh Premis:
Seorang anak SD mengajak dua orang temannya melakukan perjalanan ke rumah kakeknya dan berusaha memperoleh pemahaman tentang materi IPA
2. Alur/Plot
·
Struktur rangkaian kejadian dalam cerita;
·
Macam-macam alur: Alur maju, alur mundur,
alur campuran, alur flashback, dan alur kronologis;
·
Unsur-unsur alur/plot: Pengenalan cerita,
Awal konflik, Menuju konflik, Konflik memuncak/klimaks, Penyelesaian/ending;
·
Unsur-unsur alur/plot tersebut urutannya
bisa diubah tergantung pada jenis alur yang dipilih.
3. Penokohan
·
Penjelasan selangkah demi selangkah
penjelasan detail karakter dalam cerita;
·
Macam-macam tokoh: protagonis, antagonis,
dan tritagonis;
· Teknik penggambaran tokoh: analitik, fisik dan perilaku tokoh, lingkungan tokoh, tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.
4. Latar/Setting
·
Penggambaran waktu, tempat, dan suasana
terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita;
· Jenis-jenis latar: latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar material, dan latar integral.
5. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita;
· Macam-macam sudut pandang: Orang Pertama
Tunggal, Orang Pertama Jamak, Orang Kedua, Orang Ketiga Tunggal, Orang Ketiga
Jamak, dan Campuran
Lalu bagaimana proses kreatif menulis
cerita fiksi?
Beberapa tahap yang dapat kita susun agar menghasilkan cerita fiksi yang baik adalah :
1. Niat: Motivasi diri untuk memulai dan
menyelesaikan tulisan
2. Baca Fiksi orang lain: Upaya menemukan
bahan belajar/referensi berupa ide, pemilihan kata,
serta
gaya dan teknik penulisan.
3. Ide dan genre:
*
Segera catat saat ide mendadak muncul
*
Menemukan ide dengan cara mengembangkan imajinasi
*
Pemilihan genre disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai
4. Outline
*
Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi
*
Menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita
*
Membuat premis sesuai tema
*
Menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya
*
Menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh
dengan baik
*Menentukan
latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail
*
Memilih sudut pandang penceritaan yang unik
Outline atau kerangka karangan dibuat agar saat menuangkan tulisan tidak terasa sulit dan menghasilkan cerpen yang runtut. Hal ini juga akan memudahkan kita dalam mengembangkan alur dalam cerpen.
5. Menulis
*
Membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik)
*
Melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik dengan cara memaparkan secara
jelas
kepada pembaca
*Menguatkan
sisi konflik internal dan eksternal tokoh
*
Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi
*
Memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas
*
Memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi)
* Membuat ending yang baik
6. Swasunting
*
Dilakukan setelah selesai menulis;
*
Jangan menulis sambil mengedit;
*
Memfokuskan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan
istilah,
aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita;
*Usahakan
menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting
tulisan sendiri;
*Jangan
lupa menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI).
Perlu diingat bahwa salah satu trik agar cerita kita enak dibaca dan seru adalah melibatkan pembaca dalam tulisan kita. Teknik ini bisa menggunakan pakai show don't tell.
Sahabat pembaca, passion terhadap jenis tulisan sejatinya akan kita temukan seiring waktu. Memang tidak serta merta, tetapi butuh proses. Yang bisa mengetahuinya ya saat kita bisa menyadarinya kita lebih suka pada jenis tulisan yang mana. Terkait tema yang dekat dengan penulis, kita ambil contoh seorang guru, tentu akan lebih mudah menuliskannya jika kita membuat cerita fiksi tentang guru dan murid.
Uniknya, pada cerita fiksi yang terinspirasi dari pengalaman hidup. Kita sebagai penulis bisa numpang curhat lewat tulisan. Agar 'sembunyi' lebih aman, kita bisa mengganti tokoh, latar atau sudut pandang. Kita pakai temanya saja kemudian tambahkan bumbu-bumbu penyedap biar lebih dramatis dan enak dibaca.
Kita tentu pernah merasakan pada saat membaca novel, terkadang kita seolah ikut masuk kedalam cerita. Rasa sedih, takut, bahkan seolah ikut dalam petualangan si tokoh cerita yg seperti nyata. Sensasi ini menimbulkan ketagihan untuk membacanya. Sensasi seperti ini terkait dengan teknik show don't tell. Jadi kalau misalnya kita menggambarkan tokoh sedang sedih, kita bisa menuliskan sedihnya seperti apa tanpa harus menuliskan langsung bahwa tokoh sedang sedih. Namun, dari tulisan kita, pembaca tahu bahwa tokoh kita sedang sedih. Ini memang tidak mudah. Membutuhkan kebiasaan terus mengasahnya dengan cara terus belajar menulis.
Oh ya, seperti kita ketahui sebelumnya dari uraian di atas bahwa premis secara sederhana adalah ringkasan cerita utuh dalam satu kalimat. Artinya hanya dengan membaca premis, kita bisa mengetahui cerita secara keseluruhan. Misalnya novel Harry Potter. Premisnya adalah seorang anak yang pandai sihir harus berjuang melawan penyihir jahat demi kedamaian dunia. Kedekatan premis dengan tema, premis adalah pengembangan tema. Alur tambahan bebas ditambahkan asal sesuai dengan outline atau kerangka karangan yang sudah kita susun. Setiap masalah tokoh harus selesai. Hal ini karena ini merupakan syarat sebuah cerita. Cerita Harry potter ini pernah merajai di semua negara, anak-anak dan remaja bahkan dewasa membacanya dikarenakan teknik penulisan yang menarik dan temanya pas dan cocok dibaca oleh semua umur.
Saat ini cerita korea lebih digemari anak dan remaja kita masa kini dikarenakan tema drama Korea sangat dekat dengan kehidupan anak dan remaja masa kini. Upaya kita agar generasi muda mau membaca dengan karya kita yaitu dengan berusaha menghasilkan cerita fiksi yang lebih menarik bagi anak dan remaja. Dengan pendekatan pada hal-hal keseharian dan konflik-konflik yang seru akan membuat mereka suka pada cerita karya anak bangsa.
Sahabat pembaca, cerita fiksi juga bisa dikaitkan dengan nilai-nilai agama, misalnya terkait dengan tuntunan ibadah yang bisa menjadi tema tulisan cerita fiksi.
Novel sekarang trennya roman dan horor. Roman karena memang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika pembaca senang dengan cerita roman bisa diintip di https://eigendomo.com/karya-bianglala/
Manfaat yang dirasakan dengan jadi penulis cerita Fiksi adalah selain 'koin' juga 'poin'. Manfaat 'koin' adanya royalti penerbitan buku fiksi. Sedangkan 'poin' adalah bisa berbagi dan belajar menulis fiksi dari teman-teman lainnya.
Demikian paparan yang sangat padat dan menginspirasi dari bapak Narasumber.
Akhirul kalam Narasumber menutup kuliah malam ini dengan quotes
“Belajar terus, seterusnya pembelajar”
No comments:
Post a Comment