Senin, 15 November 2021
Resume pertemuan ke-19
Nara sumber : Suharto,
S.Ag., M.Pd.
Moderator : Hasima Abdi Putri
Tema : Menulis Dikala Sakit
Aku menyusun resume kali
ini dengan sudut mata yang tergenang..
Terharu dan takjub
Tak habis pikir..
Dan ada rasa malu di
ujung hati
Pembelajaran
Pendewasaan
Kehangatan persahabatan
Pertemuan ke 19 ini
seperti mendengar kisah perjalanan seorang sahabat yang penuh liku.
Semua struktur bahasa
sebuah cerpen ada di sana mulai dari orientasi, komplikasi hingga resolusi.
Aku tak akan mensarikan,
Aku hanya akan berbagi..
Dengarlah kisahnya..
=================
Moderator : Saya persilakan Cing Ato untuk
memasuki kelas
Cing Ato
: Assalamualaikum, bapak dan ibu
hebat.
Semoga
bapak dan ibu sehat dan sukses semua. Aamiin
Sebelum
berbicara banyak, saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada Om Jay yang telah
memberikan kesempatan ketiga untuk bergabung bersama rekan-rekan guru dan
profesi lainnya dalam
pelatihan menulis gelombang 21 dan 22 ini. Semoga sehat dan sukses selalu.
Begitu
juga saya ucapkan terima kasih kepada moderator kita malam ini, bunda Hasima
Abdi Putri, Semoga sehat dan sukses selalu. Aamiin.
Bapak dan ibu peserta pelatihan menulis,
sebelumnya saya mohon izin untuk berbagi pengalaman menulis.
Secara
teori saya masih banyak kurangnya daripada lebihnya.
Keberadaan
saya pada pelatihan ini, hanya sekedar memberikan support kepada bapak dan ibu
untuk menulis.
Awal
Menulis…
Sudah
lama saya ingin menulis.
Saya
sudah berusaha membeli buku tentang tulis-menulis.
Saya
juga pernah ikut acara jurnalis.
Tapi
tetap saja tidak bisa menulis.
Pernah
saya di undang untuk menulis, tapi katanya hasilnya masih kaku dan kering.
Terus
terang saya tidak bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat. Apalagi kalimat
yang indah bertabur diksi yang penuh hikmat.
Tapi
saya tidak putus asa,
Ketika
lagi bumingnya literasi di sekolah atau madrasah saya memcoba untuk bisa.
Saya
perhatikan peserta didik hanya dipinta membaca buku pada setiap hari Selasa.
Kebetulan
saya suka bawa buku, hingga membaca sudah terbiasa.
Di
samping membaca beberapa peserta didik dilibatkan dalam tulis-menulis.
Sehingga
jadilah buku antologi sebagai wujud literasi menulis.
Dari
sinilah saya tertarik untuk menulis.
Saya
mencoba mencari wadah pelatihan menulis.
Saya
buka Facebook, saya dapati ada pelatihan menulis KSGN di wisma UNJ. Di sinilah
saya kenal dengan pak Namin, Om Jay, Om Dedi, dan lainnya hingga saya sering
ikut kegiatan beliau dalam menulis.
Dari
sini saya sedikit banyak mengetahui cara menulis, terutama apa yang disampaikan
oleh Om Jay." Tulis apa yang ada disekitar kita, tulis yang sederhana
dahulu, tulis yang kamu bisa dan kuasai, serta mulailah menulis apa yang kamu alami
dan rasakan" itulah sepenggal kalimat yang saya pahami sampai sekarang.
Ada
kalimat inspiratif yang menjadi kartu nama beliau"Menulislah setiap hari
dan buktikan apa yang terjadi" yang memotivasi saya untuk selalu menulis.
kemudian saya buat turunannya"Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang
terjadi".
Dari
sini saya punya buku antologi pertama " Bukan Guru Biasa" 2016
Saya
pun berguru lagi dengan group Media Guru, dari sana saya menerbitkan buku
perdana solo"Mengejar Azan" buku cerita tentang perjalanan menuntut
ilmu.
Dasar ilmunya dari Om Jay lalu dipoles oleh media guru.
Kebahagiaan
tak terkira pada saat itu, mempunyai kebanggaan tersendiri mempunyai karya
sendiri. Sehingga karya perdana itu saya abadikan dengan minta bantuan pelukis
untuk melukisnya.
Namun........
Namun,
untung tak dapat diraih, Malang tak dapat ditolak. Tetiba badai tornado
menghantam dengan dahsyatnya.
Tubuh ini yang tadinya tinggi, gagah, ganteng dengan sekejap mata lumpuh total tak berdaya, hanya menyisakan mata, telinga, dan otak. Bahkan napas pun tidak bisa. Jika tidak cepat ditangani. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un
1,5
bulan di ruang ICU, 3 bulan di ruang HCU, 2 Minggu di ruang inap biasa. Pulang
dalam kondisi lumpuh. Satu tahun badan tak bergerak, setelah satu tahun mulai
ada gerakan tangan, butuh enam bulan tangan kiri bisa memegang wajah, lalu
disusul tangan kanan. Jari tangan masih kaku dan tidak bisa menggenggam, untuk
menekan remot saja tidak mampu.1.5 tahun hanya berbaring dan terkadang suntuk
menghampiri.1.5 tahun putus dengan dunia luar, tidak tahu perkembangan dunia
luar seperti apa. Oh my God....
Menulis Dikala Sakit
Suatu hari handphone istri tertinggal dan berdering. Saya coba minta asisten rumah tangga untuk mengambilnya dan meletakkan di atas dada saya. Saya coba untuk menyentuh, Alhamdulillah, bisa terbuka. Dalam hati kecil berkata ke mana ya, handphone milik saya, sudah 1,5 tahun lepas dari saya.
Ketika
istri pulang dari sekolah, saya pinta HP saya dan sekaligus minta dibelikan
kartu baru. Karena yang lama mati. Tak pikir panjang istri mencari HP dan
membelikan kartu baru.
Terasa hidup kembali.
Saya berusaha menggunakan HP walau tidak bisa menggenggam, cukup beli alat HP lalu disangkutkan pada jari jempol tangan kiri dan menulis menggunakan jari tengah. Bagus jari manis dan kelingking tertekuk hingga tidak menghalanginya untuk menulis. Karena jari tengah yang terpanjang, maka saya gunakan untuk mengetik. Ternyata semua yang terjadi ada hikmahnya. maka itu, saya syukuri saja.
Mulailah melacak akun Facebook saya, cukup makan waktu 3 hari baru bisa terlacak. Alhamdulillah, sejak itu saya memposting kondisi saya, hingga banyak simpati dan empati berdatangan.
Dalam
hati kenapa saya tidak menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak.
Akhirnya saya menulis apa yang pernah saya baca, lihat, dan saya dengar. Karena
saya senang dengan motivasi, maka saya hampir setiap hari menulis artikel
sederhana tentang motivasi hidup. Di samping juga menulis tentang apa yang
sedang terjadi pada diri saya.
Saking
asyiknya menulis hingga lupa bahwa diri ini sedang sakit tahunan, tetiba secara
perlahan, tapi pasti ada progres yang menggembirakan, tubuh ini mulai bergerak
satu persatu. Allahu Akbar.....
Banyak respon positif berdatangan, hingga banyak yang membaca bahkan selalu menunggu tulisan berikutnya. Saya pun tambah semangat. Sehingga tidak tidur sebelum ketemu bahan untuk ditulis besok. Setiap habis salat subuh hingga jam 7 saya menulis. Menulis sambil rebahan di atas kasur. Setelah saya bisa duduk baru saya menulis di atas roda. Saya menulis di mana saja. Terkadang di atas kasur, di luar rumah ketika menjemur badan, di mobil sambil menikmati macatnya arus lalulintas, di rumah sakit sambil nunggu panggilan dokter. Ya, pokoknya di mana saja ada di situlah saya menulis.
Bahkan
ketika sedang terapi pun saya suka menulis.
Di
rumah sakit sambil nunggu panggilan
Sambil
terapi
Di tengah perjalanan ada sahabat (Om Jay) yang saya kenal menghubungi saya. Lewat WhatsApp dan vicol. Beliau mengajak saya untuk ikut pelatihan menulis. Walau dalam serba keterbatasan dan leher masih memakai alat trakeastomi dan hidung masih memakai NGT untuk selang makan. Saya menyatakan ikut.
Kalau
lelah dan pusing saya tidak ikut, tapi materinya saya simpan diaplikasi
catatan.
Aplikasi
catatan yang ada di HP itu tempat saya menulis setelah itu baru saya share ke
blog dan Facebook.
Menulislah
setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi.
Turunan
kalimat dari Om Jay ini mujarab.
Kalimat
ini sebagai penyemangat saya, sekaligus saya pun ingin membangkitkan dan
mengajak teman untuk menulis.
Walau terkadang dinyinyir saya tetap maju pantang surut ke belakang. Karena saya ingat pesan Om Dedi"Ingat apa yang menurut kita bagus belum tentu orang lain menerima" artinya terus berjuang.
Apa yang terjadi bapak dan ibu guru yang super. Akhirnya teman saya satu persatu mengikuti saya dan mereka sudah mempunyai karya, bahkan murid saya pun mengikuti dan sudah menghasilkan karya. Begitu juga teman-teman di medsos, mereka menulis karena terinspirasi dari saya. Eh, jadi haru....
Tadi jam 13.20 (15 November 2021) saya serahkan 12 buku dg 6 judul.. sengaja saya berikan ketika rapat, agar teman-teman termotivasi dan keluar dari zona nyaman
Foto saya di share ke Kanwil kemenag Jakarta. Dan di respon oleh kasih dan beliau ingin mengadakan wawancara untuk persiapan tgl 26 November hari guru
Benar
kata om Jay. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi… super
sekali om Jay…
Alhamdulillah, digelombang ini ada sahabat kuliah saya yang mengikuti pelatihan ini. Beliau sering minta pendapat saya dan minta dikoreksi. Saya pesan jangan hanya menulis resume, coba tulis yang lain. Eeeeh, tulisannya semakin gurih, renyah dengan diksi-diksi keren.... saya saja belum bisa seperti itu.....
Dari sinilah lahir buku demi buku secara estapet. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Kemustahilan versus realita berwujud keniscayaan. Kalau kita ingin belajar, belajar, dan belajar pasti kita bisa.
Lelah
pasti ada apalagi dalam kondisi serba keterbatasan, memegang buku saja saya
susah, begitu juga membuka buku. Dengan bantuan istri, anak, dan asisten rumah
tangga, saya bisa membaca buku untuk memperkaya tulisan saya. Ya, menulis itu
identik dengan membaca. Jangan berpikir menjadi penulis kalau malas baca.
Kemudian saya memcoba untuk membuka laptop walau berat jari ini untuk menekan hurup dan angka, tapi saya paksakan hingga tanpa sadar sebagai media terapi saya jari akhirnya kuat menekan hurup-hurup.
Saya pindahkan tulisan yang ada di blog dan Facebook ke laptop. Saya kelompokkan sesuai tema yang saya inginkan. Lalu saya edit hingga menjadi sebuah buku. Untuk mempertajam tulisan saya berguru dengan pak Akbar zaenudin penulis buku best seller Man Jadda wa Wajada. Jadilah sebuah buku motivasi.
Inilah
karya tulis sederhana saya.
Sebelum sakit
1. Mengejar Azan (2018)
Setelah sakit
2.
GBS Menyerangku (2020)
3.
Menuju Pribadi Unggul (2020)
4.
Belajar Tak Bertepi (2021)
5.
Kisah inspiratif Seni Mendidik Diri (2021)
6.Aisyeh
Menunggu Cinte (2021)
7. Menepis Kesulitan Belajar (2021)
Masih dalam proses
1.
Kado Spesial Sang Bintang
2.
Lentera Ramadan
3.
Cing Ato Berpantun
4.
Cing Ato Berpuisi
5. Menulis di Kala Sakit
Masih dalam ide
1.
Menyongsong pendidikan abad 21
2.
Guru Berkharisma
3.
Belajar Fikih ( buku pelajaran)
Saya
pun mulai belajar menulis puisi, pantun, dan cara membuat cover. Insyaallah,
saya akan pelajari bagaimana cara layout buku.
Pada saatnya nanti saya bisa menulis, membuat cover, membuat layout sendiri, dan terakhir jadi penerbit
Menulis
saja terus, biarkan orang lain yang menilainya.
Ternyata
menulis dikala sakit, banyak yang merespon. Banyak teman guru baik di dunia
nyata maupun Maya. Melontarkan kalimat-kalimat sanjungan." Bapak merupakan
motivator saya" " bapak guru inspiratif" " saya malu pada
diri saya bapak yang sakit saja bisa berkarya, sementara saya tidak".
Itulah di antara kalimat yang terlontar dari para sahabat.
Jadi sedih..
Kedatangan
yuotuber
Bukan
saja mendapat sanjungan dari para sahabat medsos. Ternyata para yuotuber pun
sampai datang berkunjung ke rumah dan berjumpa dengan saya. Mereka melabelkan
saya sebagai guru motivator yang inspiratif.
Menjadi Narasumber
Saya
tidak menyangka ada orang ngelirik saya untuk diminta menjadi narasumber. Walau
dahulu terbersit dalam hati, suatu saat saya akan menjadi narasumber.
Pertama
datang dari sahabat saya, dia meminta untuk mengesi pada acara motivasi di grup
guru tapi saya tolak karena saya masih terbatas bicara. Selanjutnya beliau
belum mengabarkan lagi. Walau belum terlaksana, setidaknya memberi motivasi
kepada saya. Ternyata ada juga yang melirik.
Kedua,
datang dari Om Jay. Saya liat nama saya ada urutan daftar narasumber, tapi tertulis
Cang Ato bukan Suharto. Akhirnya saya cuekin saja. Eh, sudah mendekati waktunya
baru saya dihubungi oleh bunda Aam Nurhasanah. Tanpa pikir panjang saya
sanggupin saja. Jadilah saya mengisi pada pelatihan menulis gelombang 17. Eh,
ternyata dipanggil lagi pada gelombang 18 ini.
Eh, dipanggil lagi pada gelombang 21 dan 22 ini.
Ada juga tawaran dari komunitas menulis dari tanah rantau saya tolak karena pelatihan menggunakan
zoom, sementara suara saya belum jelas. Maka itu, saya sedang latihan bicara...
Sahabat-sahabat
superku
Ayo......
Jangan
takut untuk menulis,
Jangan
menunggu pintar baru menulis, menulis saja dahulu nanti pasti pintar.
Awali
menulis yang sederhana, yang kita bisa
dan yang kita kuasai.
Mulailah
menulis dengan apa yang kita alami dan rasakan, itu lebih mudah.
Untuk
memperkaya tulisan kita, silahkan baca tulisan-tulisan karya orang lain.
Dan jangan lupa membeli karya teman
Saya
akhiri assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
Saya
kembalikan kepada moderator
------------------------------------------------------------------------------
Sesi materi inti selesai.
Cing Ato mengakhiri kisahnya
Bathinku terasa penuh
Terisi dengan nilai nilai kesabaran
Nilai kegigihan
Nilai ketangguhan
Alhamdulillah..
Menulis
itu sebuah keterampilan, tak ubahnya seperti keterampilan pada umumnya. Agar
menjadi terampil dibutuhkan latihan terus-menerus. Begitu juga dengan menulis.
(Cing Ato, Betawi, Guru Fiqih MTsN 5
Jakarta)
Jempol👍🏾
ReplyDeleteLuar biasa materi Cing Ato. Nangis Saya. Malu sehat tapi tak semangat belajar, nulis dan ibadah. Moga kita semua bisa bersyukur atas nikmat Allah SWT. Aamiin.
ReplyDeleteYang memiliki keterbatasan begitu gigih..
ReplyDeleteJadi malu sama diri sendiri..
Semangat miss.. pantang menyerah..