Senin, 25 Oktober 2021
Resume pertemuan ke-10
Nara sumber : Dr. Ngainun Naim
Moderator : Aam Nurhasanah
Materi : Menulis Itu Mudah
Sehari
selembar benang
Lama-lama
menjadi kain
Sehari
selembar tulisan
Lama-lama
menjadi buku
(terjemahan
bebas .. he he..)
Bu Aam mengingatkan peserta bahwa tak
terasa malam ini sudah pertemuan ke-10, artinya, ada 10 pertemuan ke depan
untuk menjadi syarat menerbitkan buku hasil resume Bapak Ibu peserta pelatihan.
Semoga Bapak Ibu peserta pelatihan Belajar Menulis bersama PGRI gelombang 22
ini dapat berhasil mewujudkan buku solonya dengan semangat yang tak pernah
putus meskipun beratnya godaan melawan rasa malas menulis.
Narasumber malam ini adalah seorang dosen
dan doktor di IAIN Tulungagung. Beliau pula lah yang pernah memberikan kata
sambutan dibuku solo kedua bu Aam Nurhasanah yang berjudul Kunci Sukses Menjadi
Moderator Online. Narasumber juga mengelola sebuah komunitas menulis dengan
nama Komunitas Sahabat Pena Kita(SPK) dimana ibu Aam menjadi salah satu
anggotanya, dan melalui komunitas ini bu
Aam berhasil melahirkan satu antologi.
Adapun profil dan riwayat pendidikan yang
dilalui oleh Dr. Ngainum Naim yaitu beliau pernah bersekolah di SDN Sambidoplang Sumbergempol Tulungagung, lulus tahun 1988, lalu melanjutkan ke MTsN Tunggangri Kalidawir Tulungagung, lulus tahun 199, kemudian dilanjutkan
ke MAN Denanyar Jombang, lulus tahun 1994, dan mengambil perkuliahan di S-1 STAIN Tulungagung, lulus 1998. Beliau kemudian melanjutkan jenjang
pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu S-2 Studi Islam
Universitas Islam Malang (UNISMA), lulus tahun 2002. Dan terakhir beliau tercatat sebagai mahasiswa
S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lulus tahun 2011
Beberapa diantara puluhan karya tulisan
beliau diantaranya :
Menulis Itu Mudah (2021)
Aktualisasi
Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).
Literasi
dari Brunei Darussalam (Akademia Pustaka, 2020).
Spirit
Literasi (Akademia Pustaka, 2019).
Selain itu buku-buku bernuansa Islam karangan
beliaupun cukup banyak, diantaranya :
Islam
dan Pluralisme Agama (Yogyakarta: Aura Pustaka, 2014).
Self
Development: Personal, Sosial, dan Spiritual (Tulungagung: IAIN Tulungagung
Press, 2015).
35 Kompasianer
Merajut Indonesia (buku bersama)
(Jakarta: Kompas, 2013).
Merajut
Kerukunan Antarumat Beragama (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2012).
Pengantar
Studi Islam (Yogyakarta: Gre Publishing, 2011).
Sejarah
Pemikiran Hukum Islam (Yogyakarta: Teras, 2009).
Menurut Dr. Ngainun Naim, “Menulis itu
jika sudah menjadi budaya akan luar biasa”.
Awal tahun 2021 beliau menerbitkan sebuah
buku dengan judul ‘Menulis itu mudah’ yang berisi kiat-kiat bagaimana kita bisa
menekuni dan menjalani dunia menulis.
Apa betul menulis itu mudah? Jawaban
sederhananya: mudah. Tapi dengan catatan yaitu mudah bagi yang sudah bisa. Bagi
yang belum bisa, tentu sulit.
Bagaimana caranya agar menulis itu mudah?
Berikut adalah tips dari Dr Ngainum Naim :
Langkah yang pertama adalah mindset
atau setingan pikiran kita yaitu kita hatus menciptakan atau
mensetting bahwa menulis itu mudah. Jadi ciptakan pikiran bahwa menulis itu
mudah.
Bagaimana jika kenyataannya tetap sulit? Paling
tidak mindset “mudah” akan membantu kita tetap optimis untuk mewujudkan
bahwa menulis itu tidak sulit
Langkah Kedua: ciptakan pikiran jika
menulis itu keterampilan SEKOLAH DASAR.
Menulis sesungguhnya tidak selalu butuh
pendidikan yang tinggi-tinggi. Keterampilan menulis itu merupakan keterampilan
tingkat sekolah dasar.
Menulis harus dimulai dari keyakinan.
Tanpa keyakinan, orang tidak akan bisa menulis. Jika seseorang ingin bisa
menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang
besar dan kemauan berlatih. Perpaduan dua hal ini yang bisa membuat seseorang
menjadi penulis. Nah, dari sini jelas bahwa MINAT dan KEMAUAN BERLATIH yang
menjadi kunci sukses dalam menulis. Pendidikan bukan jaminan
Sebagai contoh Narasumber baru membuat
catatan sederhana tentang tipe dan kuadran menulis melalui link :
https://www.spirit-literasi.id/2021/10/tipe-dan-kuadran-menulis.html.
Adapun paparan singkatnya adalah sebagai
berikut:
Dunia menulis memang unik. Setiap orang yang menekuni dunia menulis selalu memiliki pengalaman personal yang unik. Ada suka duka, pengalaman mengesankan, dan banyak hal yang tidak mudah untuk diceritakan.
Secara
sederhana orang yang menekuni dunia menulis bisa dibedakan menjadi beberapa
tipe.
Tipe pertama adalah
mereka yang terus bertahan, berproses, dan menekuni dunia menulis sejak mulai
berkiprah sampai sekarang. Bagi penulis tipe ini, menulis sudah menjadi bagian
tidak terpisah dari kehidupan. Hari-harinya diisi dengan terus menulis dan
menghasilkan karya. Cara kerjanya konsisten.
Penulis
tipe pertama ini tidak kenal musim. Orangnya selalu bisa eksis meskipun zaman
berubah. Karyanya terus saja muncul seolah tidak kenal jeda. Bagi kelompok ini,
tugas penulis adalah menulis dan menulis.
Tipe kedua adalah
penulis musiman. Maksudnya, ia produktif menulis tidak setiap saat tetapi
bergantung kepada momentum. Bagi dosen, mereka baru produktif menjelang deadline laporan
kinerja, deadline laporan penelitian, dan deadline lainnya.
Saat semacam ini mereka sangat produktif. Setelah tugas selesai, menulis juga
berhenti.
Profesi
lainnya juga sama. Bagi tipe ini, dorongan eksternal menjadi penentu kinerja.
Ketika tidak ada dorongan, aktivitas menulis cenderung pasif.
Tipe ketiga adalah
penulis yang pernah produktif. Pada suatu masa, tipe ini sangat produktif dalam
menghasilkan karya. Tulisan demi tulisannya terus saja bermunculan. Banyak
orang yang mengagumi produktivitasnya.
Namun
zaman berubah. Kehidupan penulis tipe ini juga berubah. Produktivitas yang
pernah disandang perlahan mulai surut sampai kemudian hilang sama sekali. Tidak
ada lagi karya yang dihasilkan.
Tentu ada
banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi karena kesibukan kerja,
menulis tidak lagi memberikan keuntungan finansial, kalah dengan kehadiran para
penulis baru, dan banyak sebab lainnya. Karyanya tidak lagi muncul. Namun
demikian masyarakat pernah mengenalnya sebagai seorang penulis yang produktif.
Tipe keempaat adalah
penulis yang pernah muncul dengan karyanya. Mungkin ia pernah menulis satu atau
dua artikel. Bisa juga satu atau dua buku. Setelah itu tidak lagi ada karya
yang terbit. Namun demikian sejarah mencatat bahwa penulis tipe ini pernah
menorehkan karyanya.
Tipe
kelima adalah penulis cita-cita. Ya, cita-citanya menjadi penulis. Namanya juga
cita-cita, belum ada karyanya. Ia masih terus membangun cita-citanya, entah
kapan akan terwujud.
Dalam
perspektif berbeda, penulis buku produktif Nurul Chomaria membagi penulis
menjadi beberapa kuadran. Menurut penulis lebih dari 70 judul buku tersebut,
ada empat kuadran penulis. Kuadran pertama adalah penulis yang mau dan
mampu. Di kuadran kedua, penulis yang tidak mampu tapi mau. Kuadran ketiga
adalah penulis yang mampu tapi tidak mau. Adapun di kuadran keempat, adalah
tidak mampu dan tidak mau. Jika kita sudah memahami di posisi mana kita, maka
kita dapat menentukan langkah.
Dari paparan di atas kita dapat
menginstropeksi diri termasuk ke dalam tipe dan kuadran mana. Namun yang lebih
penting bukan tahu posisi tetapi apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui posisi diri kita.
Langkah ketiga
adalah banyak membaca
Membaca merupakan SYARAT WAJIB untuk bisa menulis yang baik. Rasanya kecil kemungkinan orang bisa menulis yang baik jika tidak memiliki budaya membaca. Jangan dibayangkan membaca itu sebagai kerja berat, suntuk, dan tidak menarik.
Dr Ngainun Naim mempunyai kebiasaan membaca
tidak terlalu lama. Paling sekitar 10-15 menit. Tetapi itu beliau lakukan
beberapa kali saat sempat. Hingga dalam sehari beliau membaca minimal 10
halaman yang tentu saja jika sedang waktu senggang bisa membaca lebih banyak
lagi.
Nah, kebiasaan membaca inilah yang membuat
ide menulis itu mudah ditemukan dan kemudian dikembangkan.
Kunci keempat: Meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang
Semua orang memiliki kesibukan Dari hari
ke hari kesibukan kita bukannya berkurang tetapi semakin bertambah Jika selalu menuruti
kesibukan, kita tidak akan sempat untuk menulis
Karena itulah kunci untuk mengatasinya
adalah LUANGKAN WAKTU, BUKAN MENUNGGU WAKTU LUANG
Jika kita menyempatkan waktu secara konsisten setengah jam sehari, itu sudah sangat luar biasa
Beliau menceritakan bahwa seorang
sahabatnya yang seorang penulis sangat konsisten menyisihkan waktu menulis
setiap hari. Ia tidak menulis di laptop. Ia menulis di HP. Setiap ada
kesempatan, walau hanya 5 menit, ia menulis. Tidak selalu banyak yang bisa
ditulis tetapi ia sangat istiqamah. Kini puluhan buku sudah ia hasilkan. Inilah
buah istiqamah.
Kunci kelima: rajin mengamati,
mencatat, dan mengolah menjadi tulisan
Menjadi penulis itu harus tajam mengasah pendengaran dan penglihatan. Perbedaan penulis dengan bukan penulis itu pada kemampuan mengangkat hal biasa menjadi berbeda.
Setelah mengamati, jangan lupa mencatat,
sebab seorang penulis itu rajin mencatat apa yang ditemukan, lalu setelah itu
diolah menjadi tulisan.
Jangan berpikir menghasilkan tulisan yang
sempurna karena tugas penulis yang utama itu terus berproses menulis. Dan jika
sudah konsisten menulis, maka kualitas akan mengikuti.
Intinya adalah terus berproses dengan
menulis dan terus menulis
kunci keenam; belajar menulis kepada penulis
Belajarlah kepada para penulis karena pengalaman
mereka sangat penting untuk memperkaya perspektif kita.
Pada sesi tanya jawab ada beberapa poin yang dapat disimpulkan, diantaranya yaitu :
1.
Kunci utama menulis hingga bisa
menerbitkan buku solo agar tulisan dapat menarik pembaca dan tulisan kita tidak
keluar dari tema. kunci adalah ATM; Amati, Tiru, dan Modifikasi. Ambil buku,
lalu cermati.
2.
Istiqomah dalam menulis adalah soal
komitmen seseorang. Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki tradisi menulis yang
khas. Ada yang nyaman menulis tangan dan tetap menulis tangan sampai hari ini.
Tapi ada juga yang tidak bisa menulis kalau tidak pakai laptop. Sebagian juga ada
yang enjoy saja menulis melalui aplikasi ColorNote di HP. Intinya setiap orang
memiliki CARA MENULIS YANG PALING NYAMAN. Sebuah pendapat mengatakan bahwa awal
mula kebiasaan itu dari PAKSAAN. Jadi awalnya harus dipaksa dulu. Nanti kalau
sudah sering akan menjadi terbiasa.
3.
Musuh terbesar menulis adalah diri
sendiri. Kendalikanlah diri sendiri dan bangun rasa percaya diri jika ingin
sukses menulis. Seperti dalam kaidah bahasa Arab disebutkan bahwa PERCAYA DIRI
ITU DASAR SUKSES. Karena itu abaikanlah segala keraguan. Keraguan kada tidak
sesuai dengan kenyataan. Misalnya, kita malu tulisan kita belum bagus. Padahal
orang juga tidak menilai begitu. Kadang kita takut salah. Padahal, tidak ada
yang menilai salah. Teruslah berproses, tetap menulis
4.
Membaca itu diawali dari rasa suka. Seperti
dalam membaca koran, setiap orang memiliki minat baca sesuai bidang yang
disukai, karenanya membangun minat membaca bisa dilakukan dengan MEMILIH BIDANG
YANG DISUKAI.
Terkait strategi membaca ada orang yang senang membaca
sedikit demi sedikit. Ini disebut
dengan membaca dengan orientasi paham, bukan sekedar
mengejar khatam.
Kita bisa mencermati catatan sederhana
dari Narasumber agar lebih jelasnya
https://www.spirit-literasi.id/2020/10/membaca-bergizi.html.
5.
Jadikan menulis setiap hari menjadi
tantangan. Tetap menulis meskipun berkali-kali ditolak penerbit, lama-lama akan
ada juga yang dimuat atau diterbitkan. Kuncinya pede saja.
6.
Konsistensi dalam menulis
Menulislah dalam berbagai
genre. Misalnya artikel jurnal ilmiah, artikel blog, esai di
berbagai portal, ada
resensi buku, laporan penelitian, dan banyak jenisnya. Buatlah tulisan
di kamar : SUDAHKAH
MENULIS HARI INI?
Narasumber menganggap literasi itu jalan hidup. Untuk lebih jelasnya
dapat dibaca pada
link https://www.spirit-literasi.id/2021/09/literasi-sebagai-pilihan-hidup.html.
7.
Perbedaan menulis sebuah buku dengan
menulis pada suatu lomba menulis.Menulis buku pun banyak jenisnya. Ada buku
kumpulan esai. Ada buku kumpulan resume. Ada buku yang ilmiah murni penuh
catatan kaki sehingga memusingkan. Narasumber menganjurkan Bapak ibu mencermati buku demi buku. Jadi membaca itu
jangan hanya membaca, tetapi biasakan kita membangun sikap kritis. Lihat
isinya, cermati dan pertanyakan.
Lomba
juga ada banyak macamnya.
Intinya orang akan disebut penulis kalau
menulis.
Karena sering menulis kadang kita
disebut makhluk aneh.
Link berikut berisi tulisan narasumber yang sangat menarik.
: https://www.spirit-literasi.id/2021/07/menulis-dan-makluk-aneh.html.
8.
Tumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis
meski terkadang muncul pikiran ketidakpercayaan bahwa tulisan yang akan kita buat
bermanfaat atau bagus seperti orang lain.
Narasumber
menceritakan pengalamannya merasa tidak percaya diri ketika tulisannya tidak
juga dimuat di sebuah koran. Ketika suatu saat bertemu dengan redaktur koran
tersebut pada sebuah seminar, beliau memberanikan diri untuk menanyakan sebab
musabab tulisannya tidak juga dimuat.
Sang redaktur menyarankan agar tetap
mengirim terus tulisan, karena selalu ada banyak
artikel yang sampai ke meja redaktur.
Narasumber
juga menceritakan pernah ditolak 10 kali untuk sebuah naskah. Namun beliau
memberanikan diri untuk memperbaiki dan mengirimkan ke penerbit berbeda
ternyata dalam hitungan minggu naskah tersebut diterima. Artinya kita jangan
malu untuk mau memperbaiki tulisan kita.
Demikianlah materi pertemuan malam ini
dari Dr. Ngainum Naim.
Di
penghujung acara moderator mengajak Bapak Ibu peserta yang masih ragu untuk
menulis untuk mulai merubah mainset “menulis itu sulit” menjadi “menulis itu
mudah”, semudah membuat status di medsos. Mulai membuat resume dengan gaya
sendiri, menghindari copy paste secara utuh perkataan narasumber, mencoba membidik
dan mengembangkan sudut terbaik yang menggelitik di hati kita.
Moderator juga menambahkan pentingnya meluruskan
niat, meluangkan waktu untuk menulis dari 24 jam waktu yang kita miliki, dan
menulis setiap hari untuk mengasah keterampilan kita
Jangan pula malu dan takut, berusahalah menuntaskan
menulis resume malam ini juga agar terhindar dari rasa “punya hutang tulisan”.
Moderator berharap pelatihan dari narasumber
malam ini bisa membuka jendela cakrawala
dunia kita dan makin semangat menggapai mimpi menerbitkan buku sendiri.
Sebelum menutup acara moderator berpesan
agar potensi luar biasa yang dimiliki para peserta agar digali dan diasah. Seperti
mutiara yang semakin digali, maka semakin berkilau. Temukan jati diri kita
melalui tulisan. Biarlah tulisanmu menemui takdirnya. Tetap bersinergi,
berbagi, dan menginspirasi negeri.
Selesai sudah pertemuan kali ini. Ada dua
kalimat ajaib yang penting saya catat yaitu:
· MINAT dan KEMAUAN BERLATIH yang menjadi kunci sukses dalam menulis. (Dr Ngainun Naim)
· Sukses sendirian itu biasa, namun sukses berjamaah itu luar biasa. (Aam Nurhasanah)
Alhamdulillah... Makasih ilmunya... Semangat selalu...
ReplyDeletesemangat miss, selalu istiqomah, tetap percaya diri, pasti bisa..
ReplyDelete