Rabu, 17 November 2021
Resume pertemuan ke-20
Nara sumber : Suparno, S.Pd., M.Pd.
Moderator : Raliyanti
Tema : Menulis Autobiografi
Halo hai sobat pembaca..
Malam ini adalah pertemuan yang ke-20 kelas belajar menulis PGRI. Ibu Raliyanti sebagai moderator menyemangati bagi para peserta untuk segera menerbitkan sebuah buku solo berISBN dengan modal 20 resume yang telah dikumpulkan.
Seperti biasa, kuliah malam ini dibagi
menjadi 4 sesi:
1. Pembukaan
2. Penjabaran materi
3. Sesi Tanya Jawab
4. Penutup
Ibu Raliyanti kali ini akan membersamai
seorang narasumber yang luar biasa. Seorang Kepala Sekolah dari SMPN 2 Karangrejo Magetan, yang gemar membaca, juga
seorang penulis dan motivator Literasi. Kesukaan Beliau akan menulis dan
membaca ini sangat menginspirasi, hingga
pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi
majalah Pena Mageti. Beliau adalah Bapak
Suparno, S.Pd.,M.Pd yang akan akan mengajak kita mala
mini untuk belajar Menulis Autobiografi.
Memiliki kesukaan membaca sejak
SD, buku pertama dibaca beliau adalah Thomas Alva Edison
penemu bola lampu pijar. Dan sejak 1986 beliau telah mulai
kesukaannya menulis. Beberapa judul buku yang telah ditulisnya diantaranya
adalah Panduan Pranatacara dan Pamedharsabda, Catatan harian seorang
Kepala Sekolah, Lulus Corona dan Langkah Jitu menulis buku
Nara sumber yang memiliki Moto "Menulislah
setiap hari mutu dan rezeki akan mengikuti" sangat aktif
dalam berbagai peran penting.
Aktivitas beliau terkini
adalah sebagai Guru Pengajar Praktik Program Pendidikan Guru
Penggerak Kemendikbud Ristek dan Pelatih Pramuka Kwarcab Magetan.
Jika sahabat pembaca ingin mengenal lebih
banyak jejak literasi beliau dapat mengunjungi link http://suparnomuhammad.blogspot.com/2021/06/cv-suparno.html?m=1
Baiklah.. kita langsung saja masuk ke
acara inti yaitu materi tentang membuat buku autobiografi yang akan dipaparkan
oleh Bapak Suparno, S.Pd.,M.Pd
Autobiografi atau otobiografi adalah
riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh dirinya sendiri. Dalam bahasa
Inggris, istilah autobiography pertama kali digunakan oleh penyair Robert
Southey pada 1809. Namun, bentuk otobiografi sendiri sebenarnya sudah ada sejak
zaman kuno. Jika riwayat hidup itu ditulis oleh orang lain maka namanya
biografi.
Cerita
orang orang hebat itu selalu
menginspirasi. KH Usairon
mengatakan cerita orang
orang sholih itu
meningkatkan iman, oleh
karena itu sayang
rasanya jika kesuksesan yang kita raih apabila
tidak ditulis dalam
biografi. Agar bisa
menginspirasi orang lain.
Menginspirasi keluarga dan keturunan
kita.
Kita tidak pernah tahu berapa umur seseorang, kita juga tidak tahu kapan ajal
datang, maka menulislah buku biografi
agar anak cucumu
tahu sejarah perjalanan kehidupanmu
Dari sejarah perjalanan
kehidupan kita, anak cucu kita bisa belajar betapa
untuk mencapai kesuksesan
itu butuh perjuangan
yang luar biasa. Suatu saat pasti
ada diantara anak cucu kita
yang cinta pada ilmu pengetahuan
dan ingin tahu sejarah perjalanan
kehidupan nenek moyangnya. Di
saat itu buku biografi
sangatlah berharga.
Manfaat yang lain dengan menulis buku
biografi yang bertemakan pendidikan dapat menambah angka kredit bagi seorang ASN. Hal ini
dirasakan oleh Bapak Suparno, S.Pd., M.Pd yang mencapai Pangkat Pembina Utama
Muda (golongan 4C). Dan bagi seorang ASN yang sedang mengikuti penilaian calon
Kepala Sekolah maka biografi cukup menjadi jawaban tentang siapa dirinya.
Nah, bagaimanakah cara menyusun sebuah
buku biografi?
1.
Membaca buku biografi
Langkah awal sebelum menulis buku biografi
bisa kita mulai dengan membaca buku biografi orang-orang ternama. Jangan
hanya satu buku tetapi minimal 3 buku sehingga kita bisa memiliki pembanding yang baik
Salah satu buku yang menginspirasi narasumber
adalah biografi tentang Bapak Chairul Tanjung yang pernah bersekolah di SMP SMA
Labschool tempat dimana Om Jay sekarang mengajar. Selain itu narasumber juga membaca
biografi Jenderal Sudirman seorang Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat
(TKR), kini Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama kelahiran Purbalingga, 24
Januari 1916. Dengan membaca buku biografi seseorang membuat kita tidak berkecil
hati untuk menuliskan
perjalanan hidup kita. Dan jangan hanya
orang-orang ternama, tetapi
juga membaca buku
biografi orang-orang yang
selevel dengan kita.
2.
Membuat outline atau kerangka tulisan.
Kumpulkan masalah masalah
yang pernah dihadapi, kenangan
pahit, kenangan indah dan sebagainya.
Misalnya
dimulai dari masa kelahiran, masa
sekolah TK, SD,SMP,SMA, kuliah, bekerja,
menikah, punya anak, pergi
jauh, ke luar kota, luar negeri
dan lain-lain.
3.
Menyiapkan data data pendukung,
Data pendukung dapat berupa foto, buku diary
dan sebagainya.
4.
Membuat jadwal menulis
Taatilah
jadwal yang telah kita buat
5.
Mulai menulis per outline atau per judul.
Tulislah mengalir saja
jangan diedit dulu ,walaupun ada kesalahan
biarkan saja, terus menulis sampai selesai. Tulislah
dengan pikiran dan perasaan,
dengan akal budi dari hasil
merenung yang dalam maka dengan sedirinya akan terbimbing oleh ilham
yang mengarahkan.
Setelah
semua judul sudah terbahas kemudian
sisipkan judul yang terjeda tadi sesuai
dengan urutan sejarah perjalanan
kehidupan kita.
Terkadang saat menulis muncul
ilham atau ingatan sesuatu yang pantas ditulis. Maka tuliskan
saja judulnya, dibuku
yang berbeda. Kemudian segera
kembali fokus ke
outline.
Kita dapat menuliskan frase , atau
kata-kata mutiara yang menginspirasi di
atas dalam suatu judul ada, sebelum
uraian tulisan. Dengan demikian tampilan buku
tampak menarik dan menginspirasi,
6.
Editing
Lakukan editing mulai
awal hingga akhir.
Itulah langkah-langkah yang dapat kita ikuti untuk membuat sebuah otobiografi.
Timbul pertanyaan, apakah ending
otobiografi harus selalu happy?
Jawabnya, sebuah otobiografi tidak harus ber ending happy, sepanjang tulisan kita jika dibaca orang lain itu menarik, ada pelajaran yang bisa dipetik, dan itu penting menurut kita, maka jangan ragu ragu tulis saja.
Ketebalan sebuah buku biografi umumnya minimal itu 45 halaman, tapi kalau dipajang diperpustakaan sepertinya kurang menarik jadi sebaiknya sekitar 110 halaman keatas, atau sekitar 200 halaman.
Lalu apakah ada yg mau membaca buku
otobiografi dari orang yang bukan siapa-siapa dari orang yang hanya dikenal
oleh keluarganya saja?
Narasumber mengatakan bahwa bukunya pernah ada yang pesan dari Jakarta,
Kalimantan Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, NTB, Surabaya, Jateng , dan lain-lain. Selain itu
diperpustakaan sekolah hampir
separuh sekolah yang ada di Magetan. Kebanyakan yang beli adalah mantan murid murid beliau. Meski beliaupun berpikir,
jika yang membaca hahya
anak keturunannya pun tidak
mengapa.
Sekian resume kuliah malam ini yang ditutup
dengan kalimat ajakan dari narasumber
“Mari
menulis buku biografi agar orang
lain dapat belajar
dari pengalaman dan
perjalanan hidup anda!” .
Beberapa buku karya Bapak Suparno, S.Pd.,M.Pd.
Semangat bu jeany... Menyelami dunia tulis menulis...
ReplyDelete